PRABOWO pernah berkata, ia tidak suka membaca pidato resmi.
Ia bahkan pernah berkelakar, bukan hanya hadirin yang bosan mendengar teks pidato yang dibacakan. Ia sendiri pun mengantuk membacanya.
Namun, ketika menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026, Prabowo tampaknya memilih tunduk pada teks pidato resmi.
Hampir sepanjang pidato mata Parbowo tidak lepas dari pengial baca (telepromter).
Meskipun demikian, tidak sepanjang waktu dia bertahan. Ada kalanya ia juga melakukan improvisasi.
Di sini letak menariknya. Pidato resmi, seperti pidato kenegaraan di depan Sidang Tahunan MPR selalu memiliki dua wajah.
Wajah pertama adalah naskah resmi yang disusun oleh tim birokrasi. Ia selalu tersusun dengan bahasa diplomatik yang rapi.
Wajah kedua adalah performa sang orator di atas podium. Prabowo, sebagaimana kebiasaannya, kerap berimprovisasi menekankan hal tertentu dari pidato yang disampaikannya.
Improvisasi itu dimaksudkan memperdalam apa yang dikatakan oleh teks, atau untuk menekankan pentingnya pesan yang disampaikan.
Baca juga: Kemerdekaan Dirasakan Rakyat
Itu berarti membaca pikiran Prabowo tidak boleh hanya mendasarkan analisis pada lembaran kertas formal atau teks berjalan di alat pengial baca.
Sangat mungkin ruh sesungguhnya dari pidato itu ada pada perkataan lisan yang ia sampaikan tatkala gagasannya melompat keluar dari naskah, melakukan perluasan lisan secara spontan (extension of text).
Dalam teori retorika ini dijelaskan oleh konsep Memoria (ingatan).
Memoria adalah satu dari lima pilar retorika. Kelima pilar itu adalah adalah penemuan ide (Inventio), penyusunan struktur (Dispositio), pemilihan gaya bahasa (Elocutio), menguasai dan mengunci semua materi di otak (Memoria) sebelum akhirnya menjelma menjadi performa panggung (Actio).
Dalam studi komunikasi modern, Memoria bukan lagi sekadar hafalan mati kata demi kata seperti zaman Yunani kuno.
Pilar ini telah berevolusi menjadi penguasaan substansi yang berada di puncak pikiran (top of mind) sang pembicara.
Momen ketika seorang Presiden memilih menepis teks formal dan beralih menggunakan memorinya untuk berimprovisasi di belakang podium sangat mungkin merupakan indikator paling jujur dari ketertarikan isu ideologisnya.
Oleh karena itu penyisiran jeli terhadap bagian-bagian out-of-text menjadi elemen penting untuk bisa memetakan secara presisi pesan pidato yang disampaikan.
Dengan latar belajang ini, saya menggunakan elemen Memoria dari lima pilar retorika untuk memahami pidato Presiden Prabowo.
Untuk itu saya menyisir pidatonya yang disampaikan pada Sidang Tahunan MPR 14 Agustus 2026 dalam dua tahap.
Pertama, mendengarkan tayangan ulang pidato tersebut melalui channel Youtube dan mencatat poin-poin yang ia sampaikan di luar teks resmi.
Kedua, saya membaca teks tertulis pidato tersebut yang saya peroleh dari transkripsi yang dtayangkan oleh Tirto.id.
Catatan-catatan pada tahap pertama saya bandingkan dengan transkripsi pada tahap kedua.
Dari hasil perbandingan itu saya menemukan beberapa hal yang menonjol sebagai elemen memoria Prabowo.
Hal-hal yang menonjol tersebut saya padatkan menjadi dua golongan, yaitu pujian dan kritik maupun sasarannya (lawan dan kawan).
Baca juga: Ketika Marwah Adat Dipinjam Kekuasaan
Kriteria pujian yang saya gunakan ialah semua bentuk apresiasi yang diberikan secara lisan kepada pihak-pihak yang dianggap ikut meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sedangkan kritik adalah sebaliknya, yaitu sindiran, teguran, bahkan kecaman kepada pihak-pihak yang dipandang menghambat upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berikut ini adalah hasil analisis terhadap Pidato Presiden Prabowo pada 14 Agustus 2026, menggunakan elemen memoria dari lima pilar retorika.
Pada bagian pertama saya sajikan berupa pujian dan sasaran pujian. Pada bagian kedua kritik dan sasaran kritik.
Pujian Kepada Menteri PertanianDalam pidatonya, Prabowo memberikan pujian yang terkesan sangat royal kepada Menteri Pertanian. Pujian ini berkaitan dengan urusan swasembada pangan.
Prabowo menganggap sangat penting urusan ini. Meskipun dalam teks resmi pidatonya hal itu telah disebut, ia juga menekankannya di luar teks.





