Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerbitkan perintah eksekutif baru yang mengubah rekomendasi vaksinasi anak di AS. Kebijakan tersebut memangkas jumlah vaksin yang direkomendasikan secara universal untuk anak-anak sehat dari 18 menjadi 11 jenis vaksin.
Trump berulang kali menyebut kebijakan sains pemerintahannya sebagai penerapan "gold standard science" atau standar emas sains. Namun, sejumlah pakar sebelumnya mengkritik visi tersebut dan menilai kebijakan pemerintah justru berpotensi menjauh dari konsensus ilmiah.
Perintah eksekutif terbaru dari Gedung Putih menetapkan apa yang disebut pemerintah sebagai rekomendasi vaksin anak berstandar emas bagi warga Amerika. Kebijakan ini serupa dengan perubahan jadwal vaksinasi anak yang diajukan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) pada Januari 2026 lalu. Kebijakan sebelumnya juga menghadapi gugatan hukum sesaat setelah diumumkan.
Aturan terbaru secara garis besar membuat lebih sedikit vaksin menjadi rekomendasi universal untuk seluruh anak. Sejumlah vaksin lainnya dimasukkan ke dalam kategori shared clinical decision-making, yakni keputusan pemberian vaksin yang diambil orang tua bersama tenaga kesehatan berdasarkan kondisi masing-masing anak.
Dengan aturan baru tersebut, anak yang sehat dan tidak memiliki kondisi medis tertentu dianggap bisa mengikuti rekomendasi pemerintah hanya dengan menerima 11 jenis vaksin yang masuk dalam daftar universal.
Kebijakan ini berbeda dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP). Organisasi profesi dokter anak tersebut memutuskan menerbitkan jadwal vaksinasinya sendiri pada awal tahun dan masih merekomendasikan 18 vaksin untuk seluruh anak.
Sejumlah vaksin yang tidak lagi masuk daftar rekomendasi universal sebenarnya diberikan untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat menimbulkan dampak serius. Salah satu contohnya adalah vaksin meningokokus. Peristiwa di Inggris pada Maret 2026 menunjukkan risiko ketika suatu populasi tidak memiliki perlindungan memadai terhadap penyakit meningokokus.
Wabah yang disebabkan bakteri meningokokus kelompok B (MenB) di Canterbury berkembang dengan cepat. Wabah tersebut menyebabkan 21 kasus terkonfirmasi dan dua kematian. Banyak kasus ditemukan di lingkungan komunitas universitas. Mahasiswa diketahui memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit meningokokus karena mereka banyak berinteraksi dan tinggal berdekatan dengan orang-orang baru.
Di Inggris, siswa sekolah menengah secara rutin divaksin MenACWY yang dapat melindungi mereka dari beberapa jenis bakteri meningokokus. Namun vaksin MenB baru ditambahkan ke jadwal vaksinasi anak pada 2015.
Akibatnya, kelompok anak muda yang saat ini berkuliah tidak mendapatkan perlindungan dari vaksin MenB ketika mereka masih berada dalam usia yang seharusnya mendapatkan vaksin tersebut.
Influenza atau flu musiman juga dapat menyebabkan penyakit serius, terutama pada kelompok usia sangat muda dan sangat tua.
Polemik Vaksin MMRPerintah eksekutif Trump juga memuat sejumlah poin lain yang menuai perhatian ilmuwan. Salah satunya adalah pernyataan bahwa vaksin kombinasi MMR yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubela seharusnya diberikan sebagai tiga suntikan terpisah, masing-masing untuk satu penyakit, setelah produk tersebut tersedia di AS.
Gagasan memisahkan vaksin MMR bukan hal baru. Klaim bahwa vaksin kombinasi MMR kurang aman dibandingkan pemberian vaksin secara terpisah telah lama beredar di kalangan kelompok antivaksin. Namun, para ilmuwan telah berulang kali membantah klaim tersebut.
Hingga kini tidak ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa vaksin MMR perlu dipisahkan menjadi tiga suntikan. Sebaliknya, memperpanjang jarak pemberian vaksin justru dapat meningkatkan periode ketika anak belum memiliki perlindungan terhadap penyakit.
Perintah eksekutif tersebut juga menyerukan pengembangan "adjuvan alternatif untuk menggantikan aluminium". Adjuvan merupakan bahan yang ditambahkan ke vaksin untuk membantu meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh. Bahan ini merupakan komponen penting dalam pengembangan vaksin dan penelitian untuk menemukan adjuvan baru yang lebih baik memang terus dilakukan.
Namun, adjuvan berbasis aluminium telah digunakan selama bertahun-tahun dalam sejumlah vaksin, termasuk Tdap yang memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis.
Sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa adjuvan aluminium aman dan tidak menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Karena itu, hingga saat ini tidak ada alasan ilmiah yang kuat untuk menyatakan bahwa vaksin-vaksin tersebut membutuhkan pengganti adjuvan aluminium.
Kekhawatiran mengenai keamanan aluminium dalam vaksin juga telah lama menjadi salah satu klaim yang beredar di kalangan antivaksin, meski telah berulang kali dibantah oleh penelitian ilmiah.
Trump Kembali Kaitkan Vaksin dengan AutismeTrump juga membuat sejumlah pernyataan yang dinilai keliru oleh para ahli, termasuk kembali mengaitkan vaksin anak dengan autisme. Padahal, tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa vaksin menyebabkan autisme. Berbagai penelitian telah menguji hubungan tersebut dan tidak menemukan bukti yang mendukung klaim itu.
Trump membandingkan jumlah vaksin yang diterima anak-anak di AS dengan anak-anak di Eropa dengan cara yang dinilai tidak tepat. Ia juga membuat klaim mengenai volume vaksin dalam setiap suntikan yang disamakan dengan sebotol soda. Faktanya, sebagian besar vaksin diberikan dalam volume kurang dari satu mililiter.
Trump bahkan menyatakan bahwa vaksin MMR kombinasi dapat mematikan, sementara vaksin yang diberikan secara terpisah aman. Lagi-lagi, klaim tersebut tidak didukung bukti ilmiah.
Dr Jake Scott dari Stanford University menyoroti pernyataan tersebut dalam opini yang diterbitkan University of Minnesota's CIDRAP.
"Presiden Amerika Serikat mengatakan kepada para orang tua, dua kali di depan kamera, bahwa suntikan yang direkomendasikan dokter anak mereka mungkin dapat membunuh anak mereka," tulis Scott, mengutip IFL Science.
Menurut Scott, jika jadwal vaksinasi baru tersebut benar-benar diterapkan, sejumlah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin berpotensi muncul lagi. Anak-anak dan orang dewasa yang rentan kemudian dapat dirawat di rumah sakit atau bahkan meninggal.
Ia menegaskan, risiko tersebut bukan sekadar prediksi mengenai sesuatu yang belum diketahui. Sejarah telah menunjukkan hal serupa terjadi di Jepang, Inggris setelah penyebaran misinformasi oleh Andrew Wakefield, serta berbagai komunitas ketika cakupan vaksinasi menurun.
"Kita tahu bagaimana hal ini berakhir karena kita sudah melihatnya terjadi," tulis Scott.
Sikap CDC Belum JelasSenator Bill Cassidy dari Partai Republik yang juga merupakan dokter menyatakan keprihatinannya terhadap perintah eksekutif tersebut melalui sejumlah unggahan di X.
"Jika kita ingin membuat Amerika kembali sehat, pertimbangkan apa yang lebih mungkin mencegah penyakit dan apa yang lebih nyaman bagi ibu serta keluarga," tulis Cassidy.
Secara umum, perubahan resmi terhadap rekomendasi vaksin federal AS membutuhkan persetujuan direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Namun, dilansir Associated Press (AP), seorang pakar hukum mengatakan bahwa masih ada kemungkinan presiden dapat menghindari mekanisme tersebut.
Kini perhatian tertuju kepada direktur baru CDC, Dr Erica Schwartz. Ia sebelumnya dikenal sebagai pendukung vaksinasi anak. Belum diketahui bagaimana Schwartz akan merespons perintah eksekutif Trump dan apakah rekomendasi baru tersebut pada akhirnya akan diterapkan secara penuh.
Perubahan ini pun berpotensi menjadi perdebatan panjang antara pemerintah federal, organisasi medis, ilmuwan, dan kelompok masyarakat mengenai seberapa jauh kebijakan vaksinasi anak harus mengikuti keputusan pemerintah dibandingkan konsensus ilmiah dan rekomendasi dokter.





