BANDUNG, KOMPAS-Kondisi geologi di sekitar lokasi episenter turut memengaruhi guncangan gempa Flores bermagnitudo 7,7, Sabtu (15/8/2026). Gempa yang berpusat di timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur itu bahkan dirasakan masyarakat Nusa Tenggara Barat, Bali, hingga Sulawesi Selatan.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Lana Saria menjelaskan, meski lokasi episenter berada di laut, daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam.
Daerahnya terdiri dari dataran, kawasan berombak dan bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episentrum terklasifikasi dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat atau batuan lunak), Kelas Tanah D (tanah sedang), dan Kelas Tanah E (tanah lunak). Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa di area tersebut terasa lebih intens.
“Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami kuatnya guncangan di permukaan. Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi,” kata Lana di Bandung, Sabtu.
Gempa, misalnya, dirasakan warga Pulau Bonerate berjarak sekitar 100 mil laut atau 185 kilometer dari Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Butuh 12 jam berlayar untuk mencapai pulau ini. Dari Flores, pulau ini hanya berjarak sekitar 60 mil laut atau sekitar 112 km.
Ke depan, Badan Geologi Kementerian ESDM meminta masyarakat tetap tenang dan waspada, mengikuti arahan BPBD setempat, memeriksa kondisi bangunan, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi.
Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa bumi dan tsunami. Kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan juga tetap perlu dijaga.
“Warga diimbau menghindari area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat kondisi hujan,” kata dia.
Kepala Pelaksana BPBD Kepulauan Selayar Alifeyanto mengatakan, peringatan dini tsunami telah dicabut BMKG pada pukul 08.31 Wita. Hal itu dilakukan setelah melihat perkembangan tsunami yang menunjukkan tren penurunan.
Meski telah dicabut, ia menghimbau agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah. Terlebih lagi, sebagian masyarakat, khususnya di wilayah yang sebelumnya melakukan evakuasi, masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Amson Padolo mengatakan, sampai Sabtu siang, masih banyak warga mengungsi di lokasi lebih tinggi meski sebagian mulai kembali pulang.
”Kami tetap meminta warga waspada untuk mengantisipasi gempa susulan,” kata dia.





