Puncak hujan meteor Perseid pada 12-13 Agustus 2026 memang telah berlalu. Namun, peluang untuk menyaksikan hujan meteor itu masih terbuka setidaknya hingga 24 Agustus mendatang. Tak perlu peralatan apa pun, cukup cari lokasi dengan medan langit luas dan daerah dengan langit yang benar-benar gelap, jauh dari polusi cahaya, serta siapkan kondisi fisik untuk begadang hingga subuh.
Seiring datangnya akhir pekan, kesempatan untuk menikmati hujan meteor kian terbuka lebar. Libur panjang memberi Anda waktu untuk bisa bepergian ke luar kota, ke tempat-tempat yang jauh dari polusi cahaya. Apalagi, Senin (17/8/2026) depan adalah hari libur nasional. Anda butuh waktu menginap di luar kota minimal semalam karena hujan meteor hanya bisa disaksikan saat langit gelap, dari tengah malam hingga sebelum terbit fajar.
Pergi ke daerah pegunungan dengan pencahayaan yang terbatas adalah pilihan terbaik untuk bisa menyaksikan hujan meteor. Jika tidak memungkinkan, berlibur ke kawasan perdesaan masih memberi peluang yang cukup baik dibandingkan di kawasan perkotaan. Prinsipnya, semakin gelap langit di tempat Anda semakin besar peluang melihat hujan meteor. Daerah pantai meski memiliki medan pandang langit yang luas kurang disarankan karena kelembapan udaranya tinggi sehingga mengurangi kejernihan langit.
Hujan meteor adalah peristiwa saat banyak meteor muncul hampir bersamaan dan seolah-olah memancar dari arah langit yang sama. Titik pancar asal hujan meteor itulah yang dinamakan radian. Pusat Data Meteor Persatuan Astronomi Internasional (IAU) memperkirakan ada lebih dari 900 jenis hujan meteor, tetapi baru sekitar 100 hujan meteor yang sudah terbukti. Satu hujan meteor terjadi satu tahun sekali.
Jadi, hujan meteor Perseid yang saat ini berlangsung terjadi karena meteor-meteor tersebut seolah-olah memancar di dekat rasi Perseus yang merupakan rasi bintang di belahan langit utara. Perseus adalah nama pahlawan dalam mitologi Yunani yang berhasil mengalahkan Medusa. Di masa puncak hujan meteor, jumlah meteor yang muncul dalam satu jam bisa mencapai puluhan hingga ratusan meteor.
Dilihat dari Jakarta maupun kota-kota Indonesia yang ada di sekitar garis khatulistiwa, rasi Perseus terbit di arah timur laut sekitar pukul 01.00 dinihari. Rasi ini mudah dikenali karena terletak di dekat rasi Taurus yang memiliki bintang terang Aldebaran dan kluster bintang Pleiades alias Lintang Kartika yang fenomenal dan indah.
Pergi ke daerah pegunungan dengan pencahayaan yang terbatas adalah pilihan terbaik untuk bisa menyaksikan hujan meteor.
Tahun ini, seperti dikutip dari situs Masyarakat Meteor Amerika (AMS), hujan meteor Perseid berlangsung antara 17 Juli hingga 24 Agustus 2026 dan puncaknya terjadi pada 12-13 Agustus 2026. Di masa puncak itu, jumlah meteor yang bisa terlihat di daerah perdesaan mencapai 20-30 meteor per jam. Namun di wilayah yang benar-benar gelap dengan kondisi langit malam yang ideal, jumlah meteor di masa puncak bisa mencapai 100 meteor per jam.
Meski demikian, seperti disampaikan peneliti utama bidang Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional Thomas Djamaluddin di situs lembaga tersebut, Kamis (13/8), jumlah meteor yang benar-benar dapat disaksikan masyarakat tidak akan selalu sama dengan angka maksimum teoretis. “Kondisi cuaca, tutupan awan, polusi cahaya, posisi radian, hingga lokasi pengamatan akan sangat menentukan hasil pengamatan,” katanya.
Posisi radian hujan meteor Perseid yang teramati dari wilayah Indonesia tidak akan setinggi dibandingkan posisi radian hujan meteor Perseid di negara-negara di belahan Bumi utara. Hingga pukul 04.00 WIB dilihat dari Jakarta, radian hujan meteor Perseid baru mencapai ketinggian 25 derajat. Rendahnya posisi radian hujan meteor Perseid itu membuat jumlah meteor yang diamati dari Indonesia dipastikan akan lebih sedikit dibanding jumlah maksimal meteor berdasarkan perhitungan teoretis.
Meteoroid alias bahan asal meteor dalam hujan meteor Perseid berasal dari sisa-sisa komet 109P/Swift-Tuttle yang terbakar saat mendekati Matahari. Komet ini memiliki inti dengan lebar sekitar 26 kilometer dan mengelilingi Matahari tiap 133 tahun sekali. Terakhir kali, komet ini mendekati pusat Tata Surya pada 1992 dan akan kembali tahun 2126. Di tahun-tahun awal setelah komet melintas, maka biasanya jumlah meteor yang terlihat akan jauh lebih banyak.
Dalam perjalanan Bumi mengelilingi Matahari, Bumi akan memasuki area bekas lintasan komet 109P/Swift-Tuttle. Akibatnya, batu-batuan kecil akan terjebak gravitasi Bumi dan akhirnya masuk ke atmosfer Bumi. Serpihan debu sisa komet itu, sebagian besar berukuran seperti butiran pasir, memasuki Bumi dengan kecepatan 60 km per detik atau 214.000 km per jam.
“Dalam konteks serpihan komet maupun debu antarplanet, ukuran debu itu mulai dari mikron (sepersejuta meter) sampai sentimeter (seperseratus meter),” tambah Thomas. Material submikron umumnya tidak terbakar, sementara yang berukuran sentimeter bisa menjadi meteor yang sangat terang.
Hujan meteor Perseid berlangsung antara 17 Juli hingga 24 Agustus 2026 dan puncaknya terjadi pada 12-13 Agustus 2026.
Tingginya kecepatan gerak debu komet itu akan memampatkan dan memanaskan udara di depannya hingga akhirnya membakar serpihan komet tersebut. Saat butiran debu dan batu itu terbakar sambil bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, maka terlihatlah garis cahaya meteor yang membelah langit dengan cepat.
Masyarakat Indonesia lebih akrab mengenali meteor sebagai bintang jatuh atau bintang alihan. Jika meteor itu terjadi terus menerus, dalam jumlah besar, di waktu tertentu, maka terjadilah hujan meteor.
Namun, jangan pernah membayangkan hujan meteor seperti gambaran video pembuka drama televisi Meteor Garden asal Taiwan yang populer di awal tahun 2000an. Dalam video tersebut, hujan meteor divisualisasikan dengan banyak meteor yang bergerak dengan arah yang sama dan intensitas yang konstan. Latar langit pun digambarkan berwarna biru langit sehingga memberi kesan menenangkan.
Hujan meteor yang asli hanya bisa dilihat dalam latar belakang langit yang benar-benar gelap. Karena itu, peluang melihat meteor akan lebih besar jika diamati di hutan pegunungan daripada di perdesaan. Sementara di kota besar, cahaya meteor akan kalah terang dibanding cahaya lampu perkotaan yang memicu terjadinya polusi cahaya.
Selain itu, arah gerak atau jatuh meteor juga sulit diprediksi. Meteor itu bisa saja berasal dari radian di dekat rasi Perseus, tetapi meteor bisa terlihat ke berbagai penjuru langit. Frekuensi munculnya meteor juga beragam. Bisa jadi dua atau tiga meteor muncul hampir bersamaan, tetapi bisa juga meteor muncul satu per satu dalam jeda waktu yang cukup lama.
Meski saat ini yang sedang berada di dekat puncaknya adalah hujan meteor Perseid, namun sejatinya ada tiga hujan meteor yang sedang aktif di waktu yang hampir sama, yaitu hujan meteor Southern delta Aquariid dan alpha Capricornid. Jika hujan meteor Perseid mencapai puncaknya pada 12-13 Agustus 2026, maka Southern delta Aquariid dan alpha Capricornid sama-sama berpuncak pada 30-31 Juli 2026.
Meteoroid alias bahan asal meteor dalam hujan meteor Perseid berasal dari sisa-sisa komet 109P/Swift-Tuttle yang terbakar saat mendekati Matahari.
Bedanya, masa aktif hujan meteor alpha Capricornid berakhir Sabtu (15/8), Southern delta Aquariid selesai pada 23 Agustus, dan Perseid berakhir 24 Agustus. Artinya, radian atau titik pancaran hujan meteor yang kita saksikan sebelum 24 Agustus bisa jadi bukan hanya dari titik di dekat rasi Perseus, tetapi bisa juga berasal dari sekitar rasi Aquarius dan Capricornus yang saling berdekatn.
Namun, hujan meteor Southern delta Aquariid dan alpha Capricornids memang kurang terkenal dibanding hujan meteor Perseid. Terlebih, jumlah meteor per jam di saat puncaknya dalam kondisi langit yang ideal juga sangat kecil, yaitu Southern delta Aquariid sebanyak 25 meteor per jam dan alpha Capricornid 5 meteor per jam, sedangkan Perseid bisa mencapai 100 meteor per jam.
Walau demikian, jumlah meteor per jam yang terlihat setiap tahunnya sangat bervariasi, tergantung dari fase Bulan yang terjadi saat puncak hujan meteor itu terjadi. Tahun 2026 ini, puncak hujan meteor Perseid terjadi bersamaan dengan fase Bulan mati yang terjadi Kamis (13/8). Artinya, Bulan terbit dan terbenam seiring terbit dan tenggelamnya Matahari.
Dengan demikian, langit malam akan bebas cahaya Bulan sehingga peluang untuk melihat meteor, khususnya meteor-meteor dengan cahaya yang lebih lemah menjadi lebih besar. Di fase awal Bulan ini, dari fase Bulan mati pada Kamis (13/8) hingga Bulan separuh pada 20 Agustus 2026 mendatang, Bulan akan tenggelam di awal malam sampai tengah malam. Jadi, pengamatan hujan meteor yang dilakukan saat dinihari tidak akan terganggu oleh cahaya Bulan.
Waktu terbaik menikmati hujan meteor memang selepas tengah malam hingga menjelang fajar. Kondisi itu terjadi karena perputaran Bumi membuat selepas dini hari, Bumi akan menghadap langsung ke arah bekas lintasan komet.
Posisi itu membuat partikel sisa komet akan menabrak langsung atmosfer Bumi. Kondisi itu mirip dengan kaca depan mobil saat melaju di tengah hujan. Kaca depan mobil akan terkena percikan air hujan yang lebih kuat dibanding kaca samping atau belakang karena arah gerak mobil dan hujan saling berlawanan.
Waktu terbaik menikmati hujan meteor adalah selepas tengah malam hingga menjelang terbitnya fajar.
Untuk bisa menyaksikan hujan meteor itu, tidak membutuhkan peralatan apapun. Cukup gunakan mata telanjang, baju hangat, atau bekal yang bisa membantu Anda begadang di dinginnya dinihari. Terlebih, saat ini di sebagian wilayah Jawa sedang memasuki masa ‘bediding’ alias puncak musim kemarau yang membuat udara siang terasa sangat terik dan udara malam sangat dingin.
Selama menatap langit untuk melihat hujan meteor itu, hindari penggunaan gawai atau telepon seluler. Mata butuh waktu untuk beradaptasi dengan kegelapan sekitar 20-30 menit. Cahaya biru dari gawai bisa mengganggu pandangan dan membuat Anda lebih sulit mengenali cahaya alamiah yang lebih lemah.
Karena masih ada waktu yang tersisa, Thomas mengajak masyarakat yang belum sempat menyaksikan hujan meteor Perseid untuk menyaksikannya, setidaknya hingga tanggal 20 Agustus mendatang. Minimal, sekali seumur hidup, usahakan untuk bisa menyaksikan hujan meteor secara langsung serta nikmati dan rasakan keindahan dan keagungan semesta saat hujan meteor berlangsung.





