Malang: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai menunjukkan perkembangan positif setelah titik api di sejumlah lokasi dinyatakan padam pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kendati demikian, tim gabungan masih terus melakukan penyisiran intensif guna memastikan tidak ada sisa bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan bahwa penyisiran lanjutan difokuskan terutama di wilayah Pakis Bincil serta sejumlah titik lain yang sebelumnya terdampak kebakaran. Petugas juga melakukan pembasahan secara manual pada area yang masih mengeluarkan asap tipis.
"Tim gabungan melanjutkan penyisiran darat di wilayah Pakis Bincil untuk melakukan pembasahan menggunakan metode manual," kata Sadono, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Baca Juga :
159 Desa dan Kelurahan di Riau Masuk Zona Rawan Karhutla"Tim gabungan melaksanakan penyisiran kembali untuk memastikan tidak terdapat sisa bara api yang berpotensi memicu penyalaan kembali, sekaligus melakukan pembasahan pada lokasi yang masih terindikasi mengeluarkan asap," beber Sadono.
Ia menjelaskan, operasi penanganan darat ini tetap disiagakan dengan melibatkan personel gabungan dari BPBD, Balai Besar TNBTS, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Basarnas, serta unsur terkait lainnya. Petugas menggunakan armada pemadam dan truk tangki air untuk melakukan pembasahan pada area yang masih dapat dijangkau.
Sementara itu, operasi udara menggunakan tiga unit helikopter BNPB terus dikerahkan untuk mengantisipasi kemunculan kembali titik api. Pada Jumat, 14 Agustus 2026, operasi water bombing dilakukan sebanyak 22 kali penerbangan (rit) dengan total curahan air mencapai 51.000 liter.
Penanganan kebakaran di kawasan Gunung Bromo/BPBD Kab. Malang
Dengan tambahan operasi tersebut, total air yang telah dijatuhkan melalui metode water bombing sejak awal operasi tercatat mencapai 394.800 liter. Kendati demikian, operasi udara sempat dihentikan sementara pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB akibat cuaca berkabut tebal yang membuat jarak pandang tidak memenuhi aspek keselamatan penerbangan.
"Kabut dan kepulan asap menyebabkan operasi water bombing tidak bisa dimaksimalkan karena visibilitas yang kurang menuju titik target. Operasi dihentikan sementara pukul 10.00–11.00 WIB dikarenakan jarak pandang tidak memenuhi aspek keselamatan serta cuaca berkabut," jelas Sadono.
Meski titik api utama telah berhasil dipadamkan, tim gabungan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala dalam proses pendinginan. Medan yang sangat terjal, jalur berpasir tebal di bagian bawah area, serta embusan angin yang cukup kencang menjadi faktor utama yang menyulitkan penanganan darat.
Baca Juga :
BTN Bunaken Resmi Tutup Sementara Pendakian Gunung Manado TuaPada Sabtu, 15 Agustus 2026, tim darat dijadwalkan untuk terus melanjutkan pemantauan serta pemetaan titik panas. Di sisi lain, armada helikopter tetap disiagakan di Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh dan siap dikerahkan kembali sewaktu-waktu apabila ditemukan titik bara yang membutuhkan penanganan dari udara.
Sebagai informasi, kebakaran hutan yang pertama kali terpantau di kawasan kaldera Bromo, tepatnya di Bukit Jantur/Bantengan pada 3 Agustus 2026 lalu, terus meluas hingga merembet ke wilayah Kabupaten Malang. Berdasarkan laporan data sementara BPBD Kabupaten Malang per 14 Agustus 2026, luas total lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 1.120,3 hektare dan masih dalam proses pendataan ulang.
Akibat musibah ini, pihak Balai Besar TNBTS hingga kini masih memberlakukan penutupan total seluruh pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo. Akses kunjungan wisata melalui jalur Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro ditutup sejak 8 Agustus 2026 hingga batas waktu yang akan diumumkan lebih lanjut.




