BANJARBARU, DISWAY.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai diantisipasi lebih ketat.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat deteksi dini dengan memantau titik panas atau hotspot, khususnya di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
Pemantauan dilakukan untuk memastikan setiap indikasi potensi kebakaran bisa segera diketahui dan diverifikasi di lapangan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru secara berkala memantau hotspot melalui sistem informasi karhutla.
BACA JUGA:Raja Juli Tegaskan 'Ecological Before Tourism', Kemenhut Mulai Gerakan Besar Pulihkan Ekosistem
Informasi yang ditemukan kemudian diteruskan kepada pemegang PBPH untuk segera dilakukan pengecekan langsung.
Kepala BPHL Wilayah XI Banjarbaru, Wahyu Nurhidayat, mengatakan hotspot menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem peringatan dini karhutla.
“Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja PBPH perlu segera diverifikasi di lapangan. Informasi hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal,” ujar Wahyu.
BACA JUGA:Kemenhut Bongkar Jaringan Satwa Liar Ilegal, Aliran Uang hingga Aset Diburu
73 Hotspot Terdeteksi di KalselBerdasarkan pemantauan SIPONGI Kementerian Kehutanan menggunakan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus 2026, tercatat 73 titik hotspot di Provinsi Kalimantan Selatan dengan tingkat kepercayaan (confidence) kategori medium.
Dari jumlah tersebut, 14 titik berada di areal PBPH.
Sebaran 14 hotspot tersebut yakni:
BACA JUGA:Kemenhut Berhasil Padamkan Kebakaran Gunung Gede Pangrango, Jalur Pendakian Tutup Sementara
* 6 titik di areal PT Inhutani I Unit Pelaihari
* 6 titik di areal PT Dwima Intiga
- 1
- 2
- »





