Destry Damayanti dan Lingkaran Setan Ekonomi Indonesia

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Ichsanuddin Noorsy Pengamat ekonomi politik menilai pengusulan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) mengingatkan pada pola yang pernah dilakukan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden, ketika Boediono diusulkan sebagai Gubernur BI serta saat Agus Martowardojo dipindahkan dari Kementerian Keuangan ke Bank Indonesia.

Menurut Ichsanuddin, pencalonan Destry berpotensi membuat DPR berada dalam posisi sulit untuk menolak pilihan Prabowo Subianto Presiden.

Ia menilai sosok Destry memang memiliki pengalaman dan kecermatan dalam membaca persoalan ekonomi, tetapi tantangan yang dihadapi BI saat ini jauh lebih kompleks dan bersifat struktural.

“Destry adalah bankir Bank Mandiri yang dikenal cermat dalam menganalisis ekonomi. Kecermatan dan kepekaan atas situasi saat ini memang dibutuhkan,” kata Ichsanuddin.

Namun, ia mengingatkan kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam ketidakpastian tinggi. Menurut dia, persoalan ekonomi tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti sosok Gubernur BI karena tekanan terhadap rupiah, cadangan devisa, utang, hingga ketergantungan impor memiliki akar struktural.

Ichsanuddin mengklaim cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan dari sekitar US$154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026. Artinya, dalam tujuh bulan terjadi penurunan sekitar US$9,3 miliar.

“Artinya selama tujuh bulan cadangan tersebut terkuras US$9,3 miliar. Atau per bulannya kemampuan membayar utang dan impor berkurang US$1,3285 miliar,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan efektivitas instrumen moneter Bank Indonesia di tengah tekanan tersebut.

Ichsanuddin menyebut tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berada pada kisaran 7,2 persen hingga 7,63 persen.

Menurutnya, kondisi itu menciptakan persaingan imbal hasil antara SRBI, Surat Berharga Negara (SBN), bunga simpanan perbankan, serta suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

“Pada level ini terjadi persaingan suku bunga antara SRBI, SBN, bunga tabungan, dan bunga bank sentral AS (Fed fund rate). Pemilik modal pun lantas menoleh prosentase kejatuhan nilai tukar yang berkisar di atas 10 persen,” kata Ichsanuddin.

Ia menilai tekanan terhadap perekonomian semakin berat karena Indonesia masih bergantung pada pembiayaan utang sekaligus impor energi, bahan baku, bahan penolong, teknologi, dan berbagai jasa.

Ichsanuddin menyebut total utang Indonesia kini telah mencapai lebih dari Rp10.293 triliun. Kondisi tersebut, menurut dia, memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan siapa yang menduduki kursi Gubernur BI.

“Tak heran dari Singapura terbit berita ‘Indonesia Dijual’. Dari Belanda mencuat kabar ‘Indonesia Bankrut?’ (sovereign default),” ujarnya.

Karena itu, Ichsanuddin menilai pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia tidak akan otomatis memutus apa yang ia sebut sebagai “lingkaran setan” pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi.

“Soalnya bukan hanya penting siapa yang menjadi Gubernur BI. Tapi bagaimana sebenarnya sistem ekonomi Indonesia secara struktural, fundamental, dan fungsional,” katanya.

Ichsanuddin bahkan menilai persoalan tersebut telah berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Berdasarkan data yang diklaim dimilikinya sejak 1964 hingga sekarang, ia berpendapat kebijakan fiskal dan moneter Indonesia masih menghadapi ketergantungan yang kuat terhadap sistem ekonomi global.

“Data yang saya miliki sejak 1964 hingga saat ini, sebagaimana tersaji dalam materi presentasi dan buku-buku saya membuktikan, dalam aspek fiskal dan moneter, Indonesia masih terjajah,” tegasnya.

Ia menyebut peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali fondasi ekonomi nasional, bukan hanya mengganti figur pada posisi strategis.

“Maka terbitlah kajian saya, siapapun Presidennya, siapapun Menkeunya dan siapapun Gubernur BI, ekonomi politik Indonesia tetap tertindas,” ujar Ichsanuddin.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ichsanuddin mengatakan dirinya telah menyampaikan gagasan yang disebutnya sebagai Manifesto Ekonomi Politik Konstitusional kepada jejaring pemerintahan.

Dia menyampaikan pesan kepada Destry Damayanti yang diusulkan menjadi Gubernur Bank Indonesia.

“Buat Destry Damayanti, selamat menekuni lingkaran setan itu,” pungkas Ichsanuddin.(faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Demutualisasi BEI Jadikan Pasar Modal Indonesia Terbesar di Dunia
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
RUPS LB PT Fajar Indonesia Corporindo Resmi Rombak Pengurus
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Emas UBS dan Galeri 24 Kompak Naik, Cek Daftar Harganya
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
7 Ribu Personel Gabungan Disiagakan untuk Amankan Peringatan HUT ke-81 RI di Papua
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
BMKG: Gempa Bumi Tektonik M 7,7 di Flores Berpotensi Tsunami
• 12 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.