Brand fashion dan gaya hidup Purana merayakan hari jadi yang ke-17 lewat inisiatif budaya yang apik di jantung mal Grand Indonesia. Jenama yang berdiri sejak 2009 ini menghadirkan ekshibisi bertajuk “PURANA 17: Renjana Perca”, sebuah pameran yang menyulap kain perca dan limbah menjadi karya seni bernilai tinggi.
Berlangsung pada 14–23 Agustus 2026, pameran ini bukan sekadar perhelatan sementara. Renjana Perca mengukuhkan komitmen Purana dalam pergerakannya menuju ekonomi sirkular, di mana sisa-sisa material dalam produksi manufaktur mampu dimanfaatkan kembali. Ini sejalan dengan paradigma sustainable luxury yang saat ini menjadi standar utama dalam industri kreatif Eropa.
Konsep sirkularitas ini hadir dalam asa Purana mengolah kembali sisa-sisa bahan dari produksi item fashion, seperti kain perca, dalam kolaborasi bersama seniman.
Terdapat 12 seniman kolaborator yang melahirkan karya seni dalam medium unik dan bentuk yang berkesan, mulai dari lukisan yang dilukis di atas kanvas perca; boneka unik dari kain perca; hingga hiasan kain perca yang dibingkai dengan kayu ukir.
Namun, mengapa Purana memilih merayakan milestone jenama fashion lewat kolaborasi bersama seniman? Chief Creative Officer dan Founder Purana, Nonita Respati, mengatakan bahwa dalam perjalanannya sebagai desainer dan insan mode, ia selalu berdampingan dengan para rekan seniman.
"Selama 17 tahun, perjalanan Purana dalam menghidupkan filosofi 'Livable Art' bukanlah perjuangan saya seorang diri. Saya sangat bersyukur dapat senantiasa berkolaborasi erat dengan para seniman hebat dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengabadikan kekayaan warisan budaya, flora, fauna, lingkungan, serta narasi Nusantara ke dalam setiap motif Purana,” ucap Nonita dalam keterangan resminya.
Memanjakan Mata lewat Karya Seni Berbahan PercaNonita menjelaskan, para seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah sahabat yang tumbuh bersama Purana selama 17 tahun.
Mereka adalah Hendra ‘HeHe’ Harsono, yang menciptakan lukisan di atas bingkai dan kain perca Purana dengan tajuk, “I use humor and a vibrant world of mutant characters as a lens to critic reality”. Lukisan penuh warna ini menjadi medium kritik terhadap realita dunia saat ini.
Ada pula Sarkodit, salah satu seniman yang paling lama berkolaborasi dengan Purana. Dia membingkai kain-kain perca Purana dengan ukiran kayu penuh bentuk, menciptakan visual manis dengan kain perca sebagai warna latar.
Yang unik dan menarik perhatian adalah karya seni oleh Francisca ‘Kika’ Puspitasari. Lewat medium keramik, ia mencetak motif-motif bertekstur menggunakan alat cap batik milik Purana. Motif unik ini menambah nilai kontemporer dalam keramik karya tangannya.
Suanjaya Kencut memilih untuk mengolah kembali kain perca Purana ke dalam bentuk boneka bunga. Tidak hanya memproduksi satu atau dua boneka, tetapi puluhan yang ditumpuk menyerupai gunung warna-warni.
Arsitektur dalam pameran Renjana Perca ini juga menerapkan prinsip sirkularitas, Ladies. Dari tempat duduk, logo Purana, hingga meja dan bingkai penggantung, seluruhnya diproduksi dengan bahan utama kardus daur ulang 100 persen. Sosok di balik inovasi ini adalah Arief Susanto dari DusDukDuk.
Bukan sekadar pameran, Purana 17: Rencana Perca dipandang sebagai gerakan untuk meninggalkan hampir nol limbah area, sekaligus menyulut kebiasaan sirkular yang terus berlanjut dan diadopsi oleh komunitas yang lebih luas di Indonesia.
Grand Indonesia, sebagai lokasi berdirinya pameran Renjana Perca, turut meneguhkan komitmen mereka terhadap gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan lewat kolaborasi bermakna dengan Purana.
“Bagi kami, pusat perbelanjaan adalah katalis yang mempertemukan komunitas, budaya, seni, dan inovasi sirkular. Melalui kolaborasi ini, kami menegaskan komitmen kami dalam mendorong penerapan praktik ekonomi sirkular dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan,” ucap General Manager Marketing Communications & Operations Grand Indonesia, Kanina Hanindita.
Inovasi Sirkularitas Nonita RespatiDalam konferensi pers Renjana Perca yang diselenggarakan pada Jumat (14/8), Nonita turut mendemonstrasikan salah satu inovasinya, yakni pengolahan limbah kemasan plastik PET menjadi serat kain siap pakai (waste-to-weave).
Presentasi ini memperlihatkan bagaimana limbah plastik industri daur ulang dapat diubah menjadi tekstil bernilai tinggi, sekaligus menetapkan tolok ukur baru bagi inovasi circular fashion di Indonesia.
Nonita menjelaskan, serat kain limbah ini terbuat dari limbah botol plastik yang dicacah menjadi serpihan kecil dan tipis. Kemudian, serpihan tersebut diolah menjadi serat menggunakan alat yang cukup unik, yakni mesin cotton candy yang biasa digunakan untuk membuat permen kapas. Serat tersebut kemudian dipintal menjadi benang daur ulang.
Menurut Nonita, serat kain dari limbah plastik ini nantinya akan bisa digunakan untuk produk-produk home living dalam lini Purana Home, Ladies.
“Ini adalah langkah pertama untuk Purana lebih memantapkan diri lagi untuk maju dari sustainability menuju circularity, karena metode ini memang memanfaatkan limbah untuk dibuat menjadi sesuatu yang bisa digunakan kembali,” tegas Nonita.
Pameran ini dibuka untuk umum hingga 23 Agustus 2026. Selama dua minggu, Renjana Perca juga menghadirkan berbagai kegiatan menarik yang bisa diikuti oleh para pengunjung, mulai dari beragam workshop menarik; fashion show Puragraph dan Purana Kids pada 19 dan 23 Agustus; hingga rangkaian talkshow. Kamu bisa menemukan informasi lebih lanjut di Instagram resmi Purana Indonesia.





