Warung Tuman di Serpong, Tangerang Selatan, menggelar pameran kain tenun bertajuk TUMAN Gelaran Tenun.
Nury Sybli dan Nanin Upiyanti, memilih warung terbuka sebagai ruang untuk memperkenalkan tenun kepada publik. Kain-kain dibentangkan dan digantung di jemuran bambu di antara pepohonan. Suasana itu mengingatkan pada kain-kain di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tenun yang dipamerkan membawa pengunjung menjelajahi berbagai wilayah di NTT, mulai dari Flores, Sumba, Sabu, Alor, Rote, hingga Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara. Sebagian kain memiliki fungsi khusus, seperti digunakan oleh kaum bangsawan, dalam ritual adat, maupun dalam prosesi meminang perempuan.
Dari puluhan kain yang digelar, hampir seluruh wilayah NTT terwakili, dengan tenun Sumba menjadi salah satu koleksi yang paling banyak ditampilkan.
Salah satu kain yang menarik perhatian adalah Futus Amanuban, kain masyarakat adat Amanuban dengan motif belah ketupat besar berkait. Menurut Nury, kain tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sandang, tetapi juga berkaitan dengan status, kehormatan, kewibawaan, ritual, dan ingatan leluhur.
Sementara bagi Nanin Upiyanti, kecintaan terhadap kain tenun berasal dari hal sederhana, yakni menyukai dan mengenakannya. Pemilik Warung Tuman ini mengaku tidak selalu memahami teknik maupun seluruh filosofi sebuah kain, tetapi melihat tenun sebagai mahakarya perempuan yang harus dilestarikan.
Nury menjelaskan, hampir setiap motif tenun yang dimilikinya menyimpan makna dan pesan. Salah satunya motif mamuli dari Sumba yang berbentuk menyerupai omega dan dikaitkan dengan simbol rahim perempuan, kesuburan, serta kehidupan.
Ada juga motif tengkorak, kuda, ikan, mata burung, rusa, dan berbagai bentuk lain yang memiliki cerita masing-masing.
Melalui TUMAN Gelaran Tenun, Nury dan Nanin berharap semakin banyak masyarakat mengenal, mencintai, dan menggunakan kain tenun karya perempuan Indonesia. Gelaran tersebut bukan sekadar pameran, melainkan ajakan untuk mendekat dan memahami cerita di balik setiap helai kain.





