CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Menjadi pesepak bola hebat tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengolah bola. Sejak usia dini, pemain juga perlu dibentuk dengan karakter dan keterampilan hidup yang akan menentukan bagaimana mereka berkembang di dalam maupun di luar lapangan.
FIFA melalui program Football for Schools menempatkan pengembangan life skills sebagai bagian penting dari pembelajaran sepak bola.
Program tersebut dirancang untuk membantu anak mengembangkan kemampuan personal, sosial, kesehatan, serta keterampilan berpikir melalui permainan.
Dalam aspek personal, FIFA memasukkan kepercayaan diri, kesadaran diri, pengendalian diri, kemandirian, berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan growth mindset sebagai keterampilan yang perlu dikembangkan.
Sementara dalam hubungan sosial, anak didorong membangun empati, komunikasi, persahabatan, dan kemampuan bekerja sama.
Nilai tersebut tidak harus diajarkan melalui ceramah. FIFA justru mendorong pelatih menggunakan permainan sebagai sarana belajar.
Dalam Football for Schools, sesi latihan dirancang agar anak mendapatkan pengalaman bermain sekaligus merefleksikan nilai yang mereka pelajari.
Pelatih juga memiliki peran penting sebagai teladan. FIFA menekankan bahwa coach-educator harus menunjukkan sportivitas, berkomunikasi secara konstruktif dan sesuai usia anak, tidak mempermalukan pemain, serta tidak menoleransi kekerasan maupun pelanggaran aturan.
Di sinilah disiplin, tanggung jawab dan kemampuan menerima kritik mulai terbentuk. Anak belajar bahwa kesalahan dalam pertandingan bukan akhir dari proses, melainkan bagian dari pembelajaran.
Mereka juga belajar mengambil keputusan, berkomunikasi dengan rekan setim, menghargai lawan, dan bangkit setelah mengalami kegagalan.
Pengalaman FIFA di Indonesia juga menunjukkan bahwa sepak bola dapat digunakan sebagai media pendidikan karakter.
Dalam peluncuran Football for Schools di Jakarta pada 2022, FIFA menyebut program tersebut bertujuan meningkatkan partisipasi sekaligus menanamkan life skills dan nilai-nilai penting melalui sepak bola.
Karena itu, akademi sepak bola usia dini idealnya tidak hanya bertanya seberapa cepat seorang anak berlari atau seberapa baik ia menguasai bola.
Pertanyaan yang sama penting adalah, apakah ia mampu bekerja sama, menghormati orang lain, menerima kesalahan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab?
Sebab, sebelum menjadi pemain profesional, anak terlebih dahulu harus tumbuh menjadi pribadi yang siap menghadapi tekanan, kemenangan, kekalahan, serta berbagai tantangan kehidupan.




