Kabar duka tersebut disampaikan oleh adik kandung Tjetjep, Mayerni. Ia mengabarkan kepergian sang kakak sekaligus memohon doa agar amal ibadah almarhum diterima Allah SWT.
“Telah berpulang ke rahmatullah saudara kami Tjetjep Firmansyah, semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT,” kata Mayerni pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kepergian Tjetjep menjadi kehilangan besar bagi keluarga sekaligus dunia bola basket Indonesia. Namanya tercatat sebagai salah satu pelatih paling sukses yang pernah dimiliki Indonesia, terutama pada era kejayaan basket nasional pada dekade 1990-an hingga 2000-an.
Sukses Bersama Aspac
Semasa aktif sebagai pelatih, Tjetjep dikenal sebagai sosok bertangan dingin. Ia mampu membawa klub meraih prestasi sekaligus menjadi bagian penting dalam perkembangan kompetisi bola basket nasional.
Baca Juga :
Baru Datang ke Chelsea, Satpayev Langsung Gabung BurnleySalah satu catatan terbaiknya terjadi saat menangani Aspac di Kobatama, singkatan dari Kompetisi Bola Basket Utama. Bersama klub tersebut, Tjetjep berhasil meraih tiga gelar juara Kobatama.
Prestasi itu menjadi bukti keberhasilannya dalam meracik strategi dan membawa tim bersaing di level tertinggi kompetisi bola basket Indonesia pada masanya.
Bawa Indonesia Juara Asia Tenggara
Prestasi Tjetjep tidak hanya terbatas di level klub. Ia juga dipercaya menangani tim nasional basket Indonesia dan menorehkan sejumlah pencapaian penting.
Salah satu momen terbesar dalam perjalanan kariernya terjadi pada SEABA Championship 1996 di Surabaya. SEABA merupakan singkatan dari South East Asia Basketball Association, organisasi bola basket kawasan Asia Tenggara.
Saat itu, Tjetjep membawa Indonesia mencatat sejarah dengan mengalahkan Filipina untuk pertama kalinya. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan tim Merah Putih menjadi juara Asia Tenggara.
Baca Juga :
Leicester City Dijual, King Power Pasang Mahar Rp4,3 Triliun untuk The FoxesPencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah basket nasional. Tjetjep berhasil membawa Indonesia bersaing dengan negara-negara kuat di kawasan Asia Tenggara.
Kesuksesan Tjetjep bersama timnas Indonesia berlanjut pada ajang SEA Games. Ia berhasil membawa Indonesia meraih medali perunggu pada SEA Games 1999 di Brunei Darussalam.
Dua tahun kemudian, Tjetjep kembali mencatat prestasi bersama timnas putra Indonesia. Ia mengantarkan skuad Merah Putih meraih medali perak pada SEA Games 2001 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Tinggalkan Warisan untuk Basket Indonesia
Pencapaian tersebut memiliki arti penting bagi basket nasional. Medali perak SEA Games 2001 menjadi medali perak pertama yang diraih timnas putra Indonesia dalam sejarah keikutsertaan di ajang tersebut.
Kepergian Tjetjep Firmansyah meninggalkan ruang besar dalam sejarah bola basket Indonesia. Kiprahnya tidak hanya tercatat melalui koleksi gelar bersama klub dan medali bersama tim nasional.
Tjetjep menjadi bagian dari perjalanan panjang basket Indonesia dalam membangun prestasi dan membentuk generasi pemain. Dedikasinya selama berkarier sebagai pelatih membuat namanya melekat sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah basket nasional.
Kepergiannya pada usia 67 tahun menjadi kehilangan bagi keluarga, mantan pemain, kolega, dan pencinta bola basket Indonesia. Warisan prestasi serta kontribusinya akan menjadi bagian dari perjalanan olahraga bola basket Tanah Air.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)





