tvOnenews.com - Melon di Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, kini tidak hanya mengandalkan hasil panen. Memasuki tahun kedua program pengabdian kepada masyarakat pada 2026, Politeknik Negeri Malang mendorong petani dan UMKM mengoptimalkan teknologi, energi terbarukan, pengelolaan usaha, hingga pemasaran digital.
Ketua tim, Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, mengatakan penguatan tahun kedua diarahkan agar teknologi yang telah diperkenalkan sebelumnya benar-benar memberikan manfaat bagi keberlanjutan usaha mitra.
“Kami tidak ingin teknologi berhenti pada pemasangan alat. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dan UMKM mampu menggunakan, merawat, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi serta nilai ekonomi produk,” ujar Nilawati.
Program ini diketuai Prof. Dr. Dra. Nilawati Fiernaningsih, M.AB, bersama Prof. Dr. R. Moechammad Sarosa, Dipl. Ing., M.T., R N Akhsanu Takwim, S.T., M.T., dan Anna Widayani, S.Pd., M.AB. Kegiatan didukung melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan, Ruang Lingkup Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Wates memiliki sekitar 273 greenhouse di lahan seluas 15 hektare yang dikelola 125 petani milenial. Sebagian besar tergabung dalam Koperasi Pemasaran Republik Melon dengan produksi rata-rata 126 ton per bulan. Hasil panen terbagi dalam tiga kelas. Melon Grade A bernilai sekitar Rp30.000 per kilogram dan relatif mudah terserap pasar. Grade B sekitar Rp20.000 per kilogram, sedangkan Grade C hanya sekitar Rp6.000 per kilogram dan lebih sulit dipasarkan sebagai buah segar.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produksi saja belum cukup. Kualitas harus dijaga, hasil panen perlu dikelola dengan baik, sementara buah yang kurang diminati pasar membutuhkan alternatif pemanfaatan.
Pada tahun kedua, sistem Internet of Things (IoT) yang telah diterapkan sebelumnya terus dimanfaatkan untuk membantu petani memantau kondisi greenhouse, seperti suhu dan kelembapan, serta mengatur penyiraman melalui dashboard digital.
Teknologi tersebut kini didukung energi surya. Dua unit panel surya berkapasitas 300 Wp dan 600 Wp dipasang untuk mendukung kebutuhan listrik sistem IoT di greenhouse Koperasi Republik Melon. Petani juga mendapat pendampingan pengoperasian dan pemeliharaan agar teknologi dapat digunakan secara berkelanjutan.




