Jakarta: Musim kemarau panjang berdampak pada hasil tangkapan nelayan di kawasan Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara. Hasil tangkapan yang kurang maksimal pun berimbas hingga ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pasar Modern Muara Baru.
"Akibat musim kemarau, nelayan jadi sulit menangkap ikan sehingga tangkapannya sedikit," ujar pedagang ikan di Muara Baru, Rian di lokasi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Baca Juga :
Gelombang Tinggi Terjang Bantul, 55 Hektare Sawah Terendam
"Menipisnya air bersih juga mengakibatkan biaya operasional nelayan meningkat. Imbasnya, harga ikan dari nelayan sudah jauh dari harga biasanya," ungkap Rian.
Dia mengungkapkan, tingginya modal tebusan dari nelayan akhirnya memaksa pada pedagang di pasar ikut menaikkan harga jual secara drastis. Misalnya, ikan jenis gurame yang biasanya dijual seharga Rp30 ribu per kilogram, kini melonjak hingga Rp50 ribu per kilogram.
Menurunnya volume tangkapan nelayan yang bersandar di pelabuhan juga diakui oleh Rudi, sesama pedagang ikan di Muara Baru. Ia menyebut lapak dagangannya yang pada kondisi normal selalu terisi penuh oleh pasokan dari kapal, kini hanya bisa mengandalkan stok seadanya.
"Kalau kemarau itu ikannya agak kurang. Biasanya di tempat ini banyak, penuh. Berhubung kemarau, ya jadi seadanya saja. Kalau ikan lagi susah, harga agak tinggi dan pembeli juga agak kurang. Kalau normal kan pengunjung lumayan ramai," kata Rudi.
Hasil tangkapan nelayan menurun akibat kemarau panjang. Foto: Metro TV/Muhammad Adyatma Damardjati.
Melambungnya harga ikan dari nelayan ini bermuara pada sepinya aktivitas pasar karena menurunnya daya beli masyarakat.
Di tengah tingginya beban operasional nelayan dan lesunya daya beli di pasar, pelaku usaha di Muara Baru kini hanya bisa berupaya bertahan. Mewakili para pedagang dan ekosistem pelabuhan, Rudi berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi riil di lapangan dan segera merumuskan solusi agar rantai pasokan tangkapan nelayan serta stabilitas harga ikan dapat kembali normal.




