JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Minggu (16/8/2026) pagi, Jakarta berada di peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan data pemantauan IQAir.
Mengacu pada data IQAir pukul 06.01 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat berada di angka 167 atau masuk kategori Tidak Sehat Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya konsentrasi polutan PM2.5 yang mencapai 79 mikrogram per meter kubik.
Dilansir Antara, Kualitas udara dengan kategori tidak sehat dapat memberikan dampak bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.
Paparan polusi juga berpotensi memberikan dampak terhadap hewan sensitif maupun lingkungan.
Baca juga: Antisipasi Lonjakan ISPA, Dinkes Tangsel Gandeng DLH Perkuat Pemantauan Kualitas Udara
Dalam rekomendasinya, IQAir mengimbau masyarakat Jakarta untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker dan menutup jendela rumah agar paparan udara luar yang tercemar dapat diminimalkan.
Berdasarkan kategori kualitas udara, tingkat PM2.5 sebesar 0-50 masuk kategori baik, yakni tidak memberikan efek terhadap kesehatan manusia maupun hewan serta tidak berdampak pada tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika.
Baca juga: Kabut Asap Akibat Karhutla Selimuti Banjarbaru, Kualitas Udara Sempat Sangat Tidak Sehat
Sementara itu, rentang PM2.5 sebesar 51-100 masuk kategori sedang, yaitu kualitas udara yang umumnya tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia atau hewan, tetapi dapat berdampak pada tumbuhan sensitif dan nilai estetika.
Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200-299, yang dapat merugikan kesehatan sejumlah kelompok masyarakat yang terpapar.
Sedangkan kategori berbahaya berada pada rentang 300-500, dengan risiko dampak kesehatan serius bagi populasi secara umum.
Baca juga: Kasus ISPA di Tangsel Melonjak, Begini Cara Mencegahnya
Selain Jakarta, sejumlah kota lain juga mencatat kualitas udara buruk.
Dubai, Uni Emirat Arab, berada di posisi pertama dengan AQI 173.
Kemudian Manama, Bahrain, berada di urutan ketiga dengan AQI 159, disusul Doha, Qatar, dengan AQI 155, serta Lahore, Pakistan, dengan AQI 146.
Pemprov DKI Siapkan Langkah Pengendalian PolusiPemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons peningkatan pencemaran udara, terutama saat musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada awal Mei hingga Agustus.
Baca juga: Terdampak Karhutla Kualitas Udara Kota Padang Menurun, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Langkah tersebut mencakup peningkatan kualitas sistem pemantauan udara serta pelaksanaan uji emisi kendaraan bermotor.
Pemprov DKI juga menjalankan Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang terus dievaluasi berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari tren PM2.5, sumber emisi dari berbagai sektor, hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Pemprov DKI menilai pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah saja.
Dibutuhkan kerja sama antarorganisasi perangkat daerah (OPD) serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta untuk mengatasi persoalan polusi udara secara menyeluruh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




