Kupang (ANTARA) - Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) mengerahkan Satuan Tugas (Satgas) Terpadu untuk memperkuat penanganan dampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo.
Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, di Kupang, Minggu, mengatakan seluruh jajaran yang terlibat telah diarahkan untuk bekerja secara terpadu sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
“Polri hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan sejak proses evakuasi, penanganan korban hingga tahapan pemulihan. Keselamatan jiwa masyarakat menjadi prioritas utama kami,” katanya.
Penggelaran personel dan berbagai unsur teknis kepolisian tersebut dilakukan untuk memastikan proses tanggap darurat berjalan cepat, terkoordinasi dan profesional, dengan keselamatan serta keamanan masyarakat sebagai prioritas utama.
Dalam operasi kemanusiaan tersebut, sejumlah kekuatan kepolisian dikerahkan untuk menangani berbagai kebutuhan di lapangan.
Korps Brimob menurunkan personel Search and Rescue (SAR) untuk menyisir wilayah terdampak, termasuk kawasan yang sulit dijangkau.
Sementara itu, Unit K-9 dari Polsatsatwa turut diperbantukan untuk membantu pencarian korban yang kemungkinan tertimbun material bencana.
Untuk penanganan kesehatan, Kapolda mengatakan personel Dokkes disiapkan membangun klinik lapangan. Selain memberikan pelayanan medis darurat, tim kesehatan juga memberikan pendampingan psikologis atau trauma healing kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Sementara tim Disaster Victim Identification (DVI) disiapkan untuk melakukan identifikasi korban meninggal dunia secara ilmiah, akurat dan tetap mengedepankan penghormatan terhadap korban serta keluarga.
Di sektor lalu lintas, personel Satlantas melakukan pengaturan dan rekayasa lalu lintas untuk membuka koridor prioritas.
Langkah ini dilakukan agar mobilisasi ambulans, kendaraan penyelamat dan distribusi bantuan logistik dapat berjalan lancar.
Baca juga: Polri siapkan 260 personel perkuat penanganan dampak gempa Flores
Personel Samapta juga diterjunkan untuk melakukan patroli serta pengamanan di lokasi pengungsian dan kawasan permukiman yang ditinggalkan warga.
Sementara itu, jajaran Binmas mendampingi masyarakat di lokasi terdampak. Petugas juga membantu pendataan warga, termasuk keluarga yang terpisah maupun masyarakat yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya.
Kapolda NTT menegaskan, aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam situasi bencana.
“Dalam kondisi bencana, selain menyelamatkan masyarakat, kami juga memastikan keamanan lingkungan tetap terjaga. Jangan sampai masyarakat yang sedang mengalami musibah justru menjadi korban tindak kejahatan,” ujarnya.
Oleh karena itu, personel Reskrim turut diterjunkan untuk mengantisipasi potensi penjarahan maupun aksi penipuan yang memanfaatkan situasi bencana, termasuk modus donasi bantuan yang tidak bertanggung jawab.
Kapolda mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Jangan menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya karena dalam situasi bencana, informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan,” katanya.
Polda NTT memastikan Satgas Terpadu akan terus bekerja bersama pemerintah daerah, TNI, BPBD, Basarnas, dan seluruh stakeholder terkait dalam menangani dampak bencana di Kabupaten Nagekeo.
Kapolda menegaskan bahwa kehadiran Polri tidak berhenti pada tahap evakuasi.
Baca juga: TNI kerahkan 1.267 personel tangani dampak gempa di NTT
“Polri hadir dari titik awal evakuasi hingga pemulihan. Kami akan terus mendampingi masyarakat dan memastikan penanganan bencana berjalan secara cepat, terukur dan humanis,” ujar Rudi Darmoko.
Kapolda NTT Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, di Kupang, Minggu, mengatakan seluruh jajaran yang terlibat telah diarahkan untuk bekerja secara terpadu sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
“Polri hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan sejak proses evakuasi, penanganan korban hingga tahapan pemulihan. Keselamatan jiwa masyarakat menjadi prioritas utama kami,” katanya.
Penggelaran personel dan berbagai unsur teknis kepolisian tersebut dilakukan untuk memastikan proses tanggap darurat berjalan cepat, terkoordinasi dan profesional, dengan keselamatan serta keamanan masyarakat sebagai prioritas utama.
Dalam operasi kemanusiaan tersebut, sejumlah kekuatan kepolisian dikerahkan untuk menangani berbagai kebutuhan di lapangan.
Korps Brimob menurunkan personel Search and Rescue (SAR) untuk menyisir wilayah terdampak, termasuk kawasan yang sulit dijangkau.
Sementara itu, Unit K-9 dari Polsatsatwa turut diperbantukan untuk membantu pencarian korban yang kemungkinan tertimbun material bencana.
Untuk penanganan kesehatan, Kapolda mengatakan personel Dokkes disiapkan membangun klinik lapangan. Selain memberikan pelayanan medis darurat, tim kesehatan juga memberikan pendampingan psikologis atau trauma healing kepada masyarakat yang terdampak bencana.
Sementara tim Disaster Victim Identification (DVI) disiapkan untuk melakukan identifikasi korban meninggal dunia secara ilmiah, akurat dan tetap mengedepankan penghormatan terhadap korban serta keluarga.
Di sektor lalu lintas, personel Satlantas melakukan pengaturan dan rekayasa lalu lintas untuk membuka koridor prioritas.
Langkah ini dilakukan agar mobilisasi ambulans, kendaraan penyelamat dan distribusi bantuan logistik dapat berjalan lancar.
Baca juga: Polri siapkan 260 personel perkuat penanganan dampak gempa Flores
Personel Samapta juga diterjunkan untuk melakukan patroli serta pengamanan di lokasi pengungsian dan kawasan permukiman yang ditinggalkan warga.
Sementara itu, jajaran Binmas mendampingi masyarakat di lokasi terdampak. Petugas juga membantu pendataan warga, termasuk keluarga yang terpisah maupun masyarakat yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya.
Kapolda NTT menegaskan, aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam situasi bencana.
“Dalam kondisi bencana, selain menyelamatkan masyarakat, kami juga memastikan keamanan lingkungan tetap terjaga. Jangan sampai masyarakat yang sedang mengalami musibah justru menjadi korban tindak kejahatan,” ujarnya.
Oleh karena itu, personel Reskrim turut diterjunkan untuk mengantisipasi potensi penjarahan maupun aksi penipuan yang memanfaatkan situasi bencana, termasuk modus donasi bantuan yang tidak bertanggung jawab.
Kapolda mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Jangan menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya karena dalam situasi bencana, informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan,” katanya.
Polda NTT memastikan Satgas Terpadu akan terus bekerja bersama pemerintah daerah, TNI, BPBD, Basarnas, dan seluruh stakeholder terkait dalam menangani dampak bencana di Kabupaten Nagekeo.
Kapolda menegaskan bahwa kehadiran Polri tidak berhenti pada tahap evakuasi.
Baca juga: TNI kerahkan 1.267 personel tangani dampak gempa di NTT
“Polri hadir dari titik awal evakuasi hingga pemulihan. Kami akan terus mendampingi masyarakat dan memastikan penanganan bencana berjalan secara cepat, terukur dan humanis,” ujar Rudi Darmoko.





