Swiss Dilanda Kekeringan Ekstrem, Warga Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

suarasurabaya.net
5 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah pemerintah daerah di Swiss memberlakukan pembatasan penggunaan air menyusul kekeringan dan suhu ekstrem yang melanda negara tersebut.

Warga di sejumlah wilayah bahkan dilarang mencuci kendaraan, menyiram taman, hingga mengisi kolam renang.

Pembatasan tersebut diberlakukan setelah dinas cuaca nasional Swiss, MeteoSwiss, menetapkan peringatan kekeringan tertinggi level empat untuk seluruh wilayah negara itu pada pekan lalu.

Dari 26 kanton di Swiss, hampir seluruhnya menerapkan kebijakan penghematan air untuk mengantisipasi semakin menipisnya cadangan air.

Dilansir dari Antara pada Minggu (16/8/2026), salah satu wilayah yang memberlakukan pembatasan adalah Kanton Aargau yang berbatasan dengan Jerman.

Pemerintah setempat melarang warga menyiram taman, mengisi kolam renang, serta mencuci kendaraan.

Pembatasan juga menyasar sektor pertanian. Petani di Aargau dilarang mengambil air dari sungai untuk kebutuhan pertanian. Kebijakan serupa diberlakukan di Kanton Basel.

Aturan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan petani karena kondisi ketersediaan air dinilai sudah kritis.

Pembatasan pengambilan air dari sungai membuat petani semakin kesulitan memenuhi kebutuhan di lahan pertanian.

Dampak kekeringan juga terlihat pada sejumlah sumber air utama Swiss. Permukaan Danau Zurich dilaporkan turun secara signifikan. Penurunan debit air juga terjadi di Danau Constance dan Sungai Rhein Hilir.

Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas transportasi air. Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan terpaksa membatalkan layanan pada beberapa rute akibat rendahnya permukaan air.

Di wilayah pegunungan Swiss tengah, persoalan ketersediaan air menjadi semakin serius. Warga di sekitar Gunung Pilatus, dekat Kota Lucerne, dilaporkan harus mendapatkan pasokan air minum menggunakan mobil tanker atau traktor setelah sumber mata air setempat mengering.

Sementara itu, Pemerintah Kota Solothurn memberlakukan larangan bagi petani untuk mengambil air dari sungai hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Krisis air tersebut terjadi di tengah periode panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Eropa. Spanyol, Portugal, Prancis, Italia, dan Yunani menjadi negara yang mengalami dampak paling parah.

Emmanuel Macron Presiden Prancis pada 16 Juli mengatakan, negaranya menghadapi jumlah kebakaran hutan tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II. (ant/saf/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Ketua RT di Tangsel Aniaya Warga Bakar Sampah hingga Jadi Tersangka
• 12 jam laludetik.com
thumb
Golkar Menemukan Jalannya: Ilham Arief Sirajuddin dan Jalan Pulang Partai Golkar
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Undang Buruh Pabrik hingga Petani Hadiri HUT RI Ke-81 di Istana
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Jumlah Korban Tewas Gempa Flores Bertambah Jadi 47 Orang, Ratusan Rumah Rusak
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Cetak Sejarah, Siswi Sekolah Rakyat Jadi Calon Paskibraka Nasional
• 18 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.