Sebelum Detik-detik Proklamasi, Dengar Dulu Jerit Bumi Flores

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

PADA Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB, tanah Flores berguncang hebat.

Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, dengan pusat gempa di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer (BMKG, 15 Agustus 2026). 

Getarannya dirasakan luas hingga Sikka, Ngada, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, Flores Timur.  Bahkan hingga NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. 

Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan BMKG dan berakhir sekitar pukul 07.30 WIB, namun kepanikan telanjur menyebar di kota-kota pesisir seperti Maumere dan Labuan Bajo.

Hingga malam hari, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia, dengan Manggarai sebagai wilayah paling terpukul dengan 24 korban jiwa, disusul Manggarai Timur dengan 17 korban. 

Sebanyak 157 rumah dan 87 fasilitas sekolah dilaporkan rusak. Kerusakan menjalar ke berbagai sektor vital lainnya.

Lima bandara terdampak meski landasan pacu masih berfungsi, dua pelabuhan mengalami kerusakan termasuk Pelabuhan Laurentius Say di Maumere, RSUD Ruteng dan sejumlah puskesmas rusak, serta ruas jalan Borong-Ruteng tertutup material longsor. 

Data ini masih bersifat sementara dan kemungkinan terus bergerak seiring proses evakuasi dan pendataan lanjutan.

Presiden Prabowo Subianto merespons bencana ini dengan memerintahkan seluruh jajaran pemerintah bergerak cepat. 

Baca juga: Siapa Mau Jadi ASN?

Sejumlah pejabat pusat diterjunkan langsung ke Flores pada hari kejadian, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Kepala BNPB Suharyanto, Kepala Basarnas, Wakil Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Sosial, serta tim dari PLN, Telkom, Pertamina, dan Bulog. 

Selain itu, sebanyak 50.000 paket sembako Bantuan Presiden turut diberangkatkan ke Maumere pada hari yang sama.

Kecepatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga ini patut diapresiasi sebagai respons awal yang tepat.

Namun pengalaman berulang kali menunjukkan, tantangan sesungguhnya bukan pada hari pertama tanggap darurat, melainkan pada bulan-bulan dan tahun-tahun pemulihan setelahnya, ketika sorotan media telah meredup dan perhatian publik beralih ke isu lain. 

Solidaritas sejati akan diuji  pada fase itu, guna memastikan rumah-rumah warga benar-benar dibangun kembali dengan layak, memastikan sekolah dan fasilitas kesehatan yang rusak pulih sepenuhnya, dan memastikan trauma psikologis anak-anak Flores mendapat pendampingan yang berkesinambungan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Bukan hanya bantuan darurat yang berhenti begitu masa tanggap darurat usai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG: Gempa Magnitudo 6,4 di Simalungun Tidak Berpotensi Tsunami
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
130 Ribu Voucher Shopee Ludes dalam 7 Jam, Produk UMKM Lokal Kian Laris
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Update Korban Gempa M7.7 NTT: 47 Orang Meninggal
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7,7 M ulang gempa Flores 1992
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Menikmati Suasana Tenang Olahraga Pagi di CFD Rasuna Said
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.