Pantau - Jam tangan pintar atau smartwatch semakin menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia karena menawarkan fungsi pemantauan kesehatan, olahraga, notifikasi, hingga kemudahan mengendalikan perangkat digital.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan tren global yang mencatat pengiriman smartwatch naik 4 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026 berdasarkan laporan Counterpoint Research.
Apple memimpin pasar global dengan pangsa 23 persen, sedangkan Huawei berada di posisi berikutnya dengan 17 persen.
Persaingan Pasar Indonesia Semakin KetatPasar smartwatch Indonesia juga berkembang dengan nilai gross merchandise value (GMV) mencapai sekitar Rp1,26 triliun berdasarkan data Markethac pada Maret 2026.
Segmen harga Rp2 juta hingga Rp3 juta menyumbang 14,43 persen pasar dan menjadi salah satu arena persaingan ketat.
Huawei memimpin segmen tersebut dengan pangsa pasar 44,77 persen dan penjualan mencapai 32.400 unit.
Garmin berada di posisi kedua dengan pangsa 38,8 persen dan penjualan sekitar 26.800 unit.
Kedua merek tersebut secara gabungan menguasai lebih dari 80 persen pangsa GMV pada segmen harga Rp2 juta hingga Rp3 juta, sedangkan Xiaomi, Samsung, Apple, dan merek lainnya berbagi sisa pasar.
Fitur Kesehatan Dorong Penggunaan Jam Tangan PintarFaktor kesehatan dan kepraktisan menjadi sejumlah alasan masyarakat Indonesia beralih dari jam tangan konvensional ke smartwatch.
"Saya memilih menggunakan smartwatch karena dapat membantu memantau jumlah langkah kaki dan aktivitas harian," tutur warga Bekasi, Annisa Ayu.
Annisa juga memanfaatkan fitur pengendali media untuk mengatur musik serta melihat notifikasi WhatsApp dan LINE tanpa harus mengeluarkan telepon seluler ketika berada di tempat ramai.
Pengguna lain bernama Rai mempertimbangkan daya tahan baterai, konektivitas dengan telepon pintar, serta kemudahan melihat layar ketika memilih smartwatch.
"Memiliki manajemen kesehatan seperti kualitas tidur, GPS, dan notifikasi yang terhubung ke smartphone sangat berguna," ujarnya.
Fitur alarm, pengingat aktivitas, serta target langkah harian juga telah menjadi bagian dari rutinitas penggunaan perangkat tersebut.
Jam Tangan Pintar Menjadi Simbol Gaya Hidup Berbasis DataJurnalis teknologi Aditya menilai smartwatch telah berkembang menjadi aksesori yang banyak digunakan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan gaya hidup aktif.
"Pengguna lebih disiplin berolahraga, lebih peduli pada pola tidur, dan memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kesehatan tubuh," papar Aditya.
Kemampuan memantau detak jantung, kalori yang terbakar, hingga jumlah langkah secara waktu nyata membuat smartwatch tidak lagi berfungsi sebatas penunjuk waktu.
Menurut Aditya, perkembangan tersebut membuat smartwatch menjelma menjadi "simbol gaya hidup berbasis data" yang menggabungkan motivasi menjaga kesehatan dengan pengaruh tren sosial.
Namun, industri smartwatch masih menghadapi tantangan terkait validitas dan akurasi data kesehatan karena tingkat presisi sensor dapat berbeda berdasarkan merek dan kelas perangkat.
"Ini perlu sinergi yang baik antara pihak pengembang teknologi, tenaga medis, dan pembuat kebijakan guna memastikan bahwa pemanfaatan smartwatch berjalan efektif, aman, dan inklusif," ujar Aditya.




