Serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 19 lainnya di Lebanon selatan. Pemerintah Lebanon mengonfirmasi jumlah korban ini.
Dilansir Al-Jazeera, Minggu (16/8/2026), serangan dini pagi pada hari Sabtu (15/8) menghantam Ansar dan Deir ez-Zahrani di distrik Nabatieh. Di Ansar, tujuh orang tewas, termasuk tiga anak, dan dua orang terluka. Serangan di Deir ez-Zahrani menewaskan empat orang dan melukai 17 orang.
Sebagaimana diketahui, Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk meninggalkan apa yang mereka sebut sebagai negosiasi langsung yang "memalukan" dan untuk berhenti bergantung pada mediasi AS. Hizbullah mengatakan bahwa Washington mendukung kepentingan Israel daripada kedaulatan Lebanon.
Kelompok itu juga memperingatkan bahwa serangan Israel akan dibalas dengan "tanggapan yang sesuai".
"Musuh Israel harus memahami dengan baik bahwa serangan, pelanggaran, dan upaya mereka untuk memaksakan fait accompli tidak dapat berlanjut, dan akan dibalas dengan apa yang pantas mereka dapatkan," kata pernyataan itu.
Sementara itu, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyebut serangan Israel sebagai "pembantaian". Dia mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan kelanjutan 'dari pemusnahan' di Lebanon selatan.
Militer Israel mengatakan telah menyerang apa yang mereka sebut sebagai infrastruktur Hizbullah di daerah Nabatieh dan Ansar. Israel mengatakan serangan itu sebagai tanggapan terhadap aksi terhadap tentara Israel di Punggungan Ali al-Taher.
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menolak pernyataan Israel. Dia menyebut eskalasi tersebut "sangat berbahaya" dan mengatakan hal itu merusak upaya untuk mengkonsolidasikan stabilitas di Lebanon selatan.
"Keberadaannya tidak memberi Israel hak untuk melanggar wilayah Lebanon atau membahayakan warga sipil," kata Salam, seraya menyerukan Israel untuk menghentikan eskalasi tersebut.
(rdp/knv)





