Sejumlah Pengusaha Berbagi Pengalaman Bangun Bisnis hingga Lepas Dari Jerat Utang

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Sejumlah pengusaha berbagi cerita dan pengalamannya dalam menghadapi masalah seperti utang Rp 350 miliar, 800 cek kosong, hingga tagihan US$15 juta.

Bahkan, mereka justru kembali membangun bisnis setelah melewati hal tersebut, dan menghentikan ketergantungan pada utang.

Baca Juga :
Ulat Hongkong Bisa Jadi Ladang Bisnis Menggiurkan, Modal Rp1 Juta Sudah Bisa Mulai
7 Laptop Bekas yang Masih Layak Dipakai di 2026, Cocok untuk Kerja, Bisnis, hingga Hiburan Setelah Jam Kantor

Mulai dari menjual aset produktif untuk menyelesaikan kewajiban, mengubah posisi dari distributor menjadi produsen, membangun kepercayaan pasar dan kemitraan, hingga menggunakan skema pembiayaan yang lebih terukur dan sesuai prinsip syariah.

Ilustrasi utang.
Photo :
  • Pixabay/Stevepb

Pengalaman tersebut mengemuka dalam talk show "75 Tahun Dahlan Iskan: Dilema Pengusaha, Utang Tambah Beban, Tidak Berutang Tak Berkembang”, yang berlangsung di Hotel Shangri-La Surabaya.

Dipandu Dahlan Iskan, jurnalis kawakan dan pengusaha sekaligus Mantan Menteri BUMN, diskusi mempertemukan sejumlah pengusaha besar yang pernah menghadapi persoalan utang dan kemudian membangun kembali bisnisnya.

Pembahasan dalam talk show mengungkap apakah utang benar-benar menjadi mesin pertumbuhan, atau justru berubah menjadi jebakan ketika ekspansi tidak diimbangi kemampuan mengelola kewajiban.

Seorang pengusaha di bidang sistem teknologi informasi, Tri Dawang, mengaku pernah berada dalam situasi tersebut. Pada 2021, bisnisnya masih memiliki banyak utang. Seperti pengusaha pada umumnya, Dia meyakini bahwa bisnis harus berutang agar dapat berkembang. 

"Namun setelah seluruh utangnya dilunasi, Dia menemukan bahwa bisnis tetap dapat tumbuh dengan pengelolaan yang lebih disiplin tanpa terus menambah utang," kata Tri dalam keterangan pers, dikutip Minggu, 16 Agustus 2026.

Pengalaman hampir serupa dialami Mulyono, pengusaha asal Sragen yang selama hampir tiga dekade menjalankan Turrima Agrobiotech. Yakni perusahaan yang berfokus pada produksi pupuk organik berbasis Humic Acid.

Selama sekitar 17 tahun, bisnisnya terlihat berkembang. Namun, menurut Mulyono, bisnis tersebut sebenarnya keropos karena sangat bergantung pada utang.

Setelah bergabung dengan Keluarga Besar SyaREA World pada 2017 dan mengikuti coaching syariah, utangnya berhasil dilunasi pada 2018. Sejak itu, Dia memilih tidak lagi menggunakan utang sebagai mesin utama pertumbuhan.

Bisnisnya tetap berkembang, termasuk memasuki pasar Afrika dan Timur Tengah. Di Afrika, selama dua tahun pertama ia harus membangun kepercayaan pasar melalui uji coba pupuk senilai sekitar Rp2 miliar, tanpa menerima pembayaran selama proses pembuktian.

Baca Juga :
Dari Kain Perca Sampai Kardus, Barang-barang Sisa Ini Bisa Jadi Ladang Bisnis Kreatif yang Menghasilkan
Tekan Emisi hingga 21 Persen, SIG Akselerasi Target Bisnis Berkelanjutan
Apindo Tegaskan Kawal Penyelesaian 14 Isu Prioritas Penghambat Dunia Usaha

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Tsunami Akibat Gempa NTT: Ketinggian 14 Cm hingga Nyaris 1 Meter
• 22 jam lalukompas.com
thumb
2.000 Kursi Single Seat Mulai Dipasang di Stadion Brawijaya, Persik Kediri Siap Sambut Super League 2026/2027
• 3 jam laluberitajatim.com
thumb
BPIP Siapkan 76 Paskibraka 2026 untuk Membumikan Nilai Pancasila hingga Daerah
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Mensesneg Buka Suara soal Presiden Prabowo Hadirkan Pengupas Bawang Gaji Rp700 Ribu/kg di DPR
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Gudda Fest 2026 Hadirkan Semangat Kemerdekaan Lewat Lari, Padel, dan Kegiatan Komunitas
• 14 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.