Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologi terjadinya gempa magnitudo 7,7 di Pulau Flores?
2. Berapa jumlah korban, pengungsi, dan bangunan yang rusak akibat gempa Flores?
3. Bagaimana upaya pemerintah menangani dampak gempa Flores?
4. Pelajaran apa yang bisa diambil dari gempa Flores?
Gempa dengan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa itu berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.
Pusat gempa tersebut berada di Laut Flores dengan jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Kabupaten Nagekeo, NTT. Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores. Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan.
Guncangan gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami. Menurut data BMKG, tsunami sempat tiba di 10 titik pengamatan pesisir dengan ketinggian bervariasi. Yang tertinggi tercatat di Maurole, Ende, mencapai 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB, disusul Bulukumba 0,54 meter dan Labuan Bajo 0,36 meter.
Namun, status peringatan dini tsunami akhirnya berakhir pada pukul 07.31 WIB setelah tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan. ”BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama.
Menurut data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas akibat gempa Flores sebanyak 47 orang. Para korban itu berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 23 jiwa, Manggarai Timur (17 jiwa), Sikka (4 jiwa), Manggarai Barat (1 jiwa), Ende (1 jiwa), dan Nagekeo (1 jiwa).
”Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2026) pagi.
Selain itu, sedikitnya 914 unit rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Kerusakan parah juga terjadi pada fasilitas publik, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.
Hingga Minggu pukul 00.00 WIB, jumlah pengungsi terbesar akibat gempa Flores terpantau di Kabupaten Sikka, yakni sebanyak 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan pengungsi mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Di Kabupaten Nagekeo, sekitar 500 warga dilaporkan mengungsi. Warga yang mengungsi juga dilaporkan di dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima di NTB serta Kepulauan Selayar di Sulsel.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, lewat keterangan tertulis, mengatakan, pemerintah langsung mengirim bantuan dan mengerahkan sumber daya untuk menangani dampak gempa. Presiden Prabowo Subianto pun meminta seluruh jajaran bergerak cepat ke lokasi terdampak.
”Presiden Prabowo telah memerintahkan seluruh jajaran pemerintah untuk bergerak cepat melakukan penanganan dan memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Presiden juga telah menugasi beberapa pejabat pusat untuk langsung turun ke Labuan Bajo dan Maumere hari ini,” tuturnya.
Sebagai bentuk penanganan awal untuk kebutuhan pangan warga, sebanyak 50.000 paket sembilan bahan pokok (sembako) yang bersumber dari Bantuan Presiden (Banpres) telah diberangkatkan menuju Maumere.
Beberapa pemerintah kabupaten di NTT pun telah menetapkan status tanggap darurat bencana dan membentuk pos komando untuk mengintensifkan penanganan bencana.
Gempa M 7,7 di Laut Flores pada Sabtu lalu bersumber dari aktivitas Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, struktur tektonik aktif di utara Flores. Sistem sesar ini bukan sumber gempa yang baru dikenal.
Pada 12 Desember 1992, kawasan Flores diguncang gempa besar yang juga berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Gempa itu memicu tsunami dahsyat dan menewaskan lebih dari 2.000 orang.
Dalam sejumlah kajiannya, BMKG menyebut sesar itu sebagai salah satu sumber gempa merusak yang terus mengancam kawasan Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores.
Oleh karena itu, gempa pada Sabtu lalu juga harus dijadikan pelajaran atau pengingat mengenai kondisi rawan gempa di berbagai wilayah Indonesia. Upaya mitigasi pun mesti diperkuat untuk meminimalkan korban dan kerusakan akibat gempa di masa mendatang.





