Ternyata Tak Semua Rakyat RI Senang Kondisi Merdeka

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pada abad ke-17 hingga ke-20, Indonesia merupakan salah satu wilayah yang mengalami penjajahan oleh berbagai kekuatan kolonial Eropa, termasuk Belanda. Salah satu aspek paling kontroversial dari era penjajahan Belanda di Indonesia adalah praktik “kerja paksa” atau “rodi”. (Dok: Gallery Nasional)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hampir seluruh rakyat Indonesia bersuka cita. Proklamasi menandai dimulainya babak baru kehidupan bangsa yang terbebas dari belenggu kolonialisme.

Sejak saat itu, rakyat Indonesia memulai langkah baru untuk membangun negara yang baru saja lahir. Namun, ternyata tidak semua orang merasakan kemerdekaan sebagai sesuatu yang membawa kehidupan lebih baik.

Belanda datang kembali ke Indonesia dan berusaha memulihkan kekuasaannya. Perang pun pecah di berbagai wilayah. Rakyat dari berbagai lapisan ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.


Baca: RI Punya Utang Miliaran Dolar ke Belanda, Lunas 54 Tahun Kemudian

Di tengah situasi tersebut, sebagian kelompok justru ingin kembali ke masa ketika Belanda berkuasa. Mereka menganggap kehidupan pada zaman kolonial lebih "normal" dibandingkan kekacauan yang terjadi setelah Proklamasi.

Merujuk paparan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2005), istilah "zaman normal" merujuk pada kehidupan sebelum pendudukan Jepang atau ketika pemerintah kolonial Belanda masih berkuasa.

Disebut "normal" karena kehidupan ketika itu dianggap berjalan sebagaimana mestinya, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Berbagai aspek kehidupan dianggap lebih teratur, baik di kota maupun desa.

Kondisi tersebut berbeda dengan periode setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Perang, kekerasan, dan kekacauan ekonomi terjadi di berbagai daerah. Situasi ini membuat sebagian orang merasa kehidupannya justru memburuk setelah Indonesia merdeka.

Atas dasar inilah, menurut Lombard, terdapat sejumlah kecil orang Jawa dan Sumatra yang sangat terpengaruh Barat dan akhirnya tetap menjadi pengikut Ratu Belanda hingga akhir hayat. Mereka yang tidak berpihak kepada Indonesia bahkan rela menjual harta benda untuk meninggalkan Indonesia dan menghabiskan waktu di Amsterdam.

Kerinduan terhadap masa kolonial juga dirasakan orang-orang yang sebelumnya bekerja untuk pemerintahan Belanda.

Dalam buku Serdadu Belanda di Indonesia, 1945-1950 (2016), terdapat kisah seorang tentara yang mengeluhkan kesejahteraannya setelah bekerja untuk pemerintah Indonesia. Ketika masih bekerja untuk Ratu Belanda, kehidupannya disebut cukup bahagia. Setelah Indonesia merdeka, ia harus bertahan hidup dengan uang seadanya.

Hal serupa dialami para pegawai kolonial. Ketika pemerintah Belanda pergi, kedudukan sosial yang sebelumnya mereka miliki ikut berubah. Kehidupan yang sebelumnya terhormat dan mapan tiba-tiba tidak lagi sama.

Para priayi dan bangsawan juga merasakan perubahan tersebut. Dalam struktur kolonial, mereka memiliki kedudukan tinggi dan memperoleh penghormatan dari rakyat biasa. Setelah merdeka, struktur sosial itu berubah.

Baca: Ratusan Ribu Warga Padati Jakarta Tonton Pidato Kenegaraan Presiden RI

Bahkan, sebagian dari mereka menjadi korban kekerasan dan aksi balas dendam rakyat biasa.

Atas dasar ini, kemerdekaan Indonesia ternyata tidak dirasakan sebagai kabar gembira oleh semua orang. Bagi kelompok yang kehilangan kedudukan, penghasilan, maupun status sosial akibat runtuhnya sistem kolonial, kemerdekaan justru dipandang sebagai kemunduran dalam kehidupan mereka.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak berarti mayoritas rakyat Indonesia menolak kemerdekaan. Perbedaan pengalaman menunjukkan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 membawa perubahan besar yang dampaknya dirasakan berbeda oleh setiap kelompok masyarakat.


(mfa/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pakai Analisa Data & Teknologi, Distribusi Cabai Makin Terukur

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ekspedisi Merah Putih Polda Riau Pulihkan 1.200 Ha Pesisir Inhil yang Terdampak Abrasi
• 23 jam laludetik.com
thumb
Pulau Palue Terisolasi dan Belum Tersentuh Penanganan Gempa Flores
• 2 jam lalukompas.id
thumb
5 Tahun Taliban Kuasai Afghanistan: Aman, Tapi Rakyat Makin Miskin
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kakek di OKU Bacok 2 Sepupu, Dipicu Cekcok saat Ukur Batas Tanah
• 13 jam laludetik.com
thumb
Pecah Tawa Kala Presiden Prabowo Lontarkan Candaan ke Citra: Boleh Pacaran Setelah Sabuk Hitam Karat
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.