HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Sulsel optimistis pasar perumahan di Sulsel masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Tingginya kebutuhan hunian dan backlog perumahan dinilai menjadi peluang bagi pengembang untuk memperluas pembangunan rumah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Apersi Sulsel Yasser Latief dalam talkshow Apersi Property Expo (Apex) 2026 di Mal Panakkukang Makassar pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Yasser mengatakan Apersi memiliki tanggung jawab untuk ikut menyukseskan program pemerintah membangun 3 juta rumah.
Namun, target tersebut tidak dapat dicapai pengembang sendirian karena pembiayaan perumahan sangat bergantung pada dukungan perbankan.
“Apersi ini adalah asosiasi yang punya tanggung jawab untuk menyukseskan program pemerintah yaitu 3 juta rumah. Tetapi tentu saja Apersi tidak bisa jalan sendiri, terkhusus perbankan. Tanpa dukungan mereka, kami di asosiasi ini tidak ada apa-apanya,” kata Yasser.
Menurut dia, peran perbankan menjadi sangat krusial karena sebagian besar transaksi pembelian rumah masyarakat menggunakan fasilitas pembiayaan bank.
“Karena kalau angsuran pasti lewat perbankan,” ujarnya.
Yasser mengungkapkan, pengembang Apersi Sulsel menargetkan produksi maupun penjualan hingga 10.000 unit rumah pada tahun ini.
“Target kami di tahun ini bisa menjual atau memproduksi 10 ribu unit,” katanya.
Yasser mengapresiasi sejumlah kemudahan yang mulai diberikan dalam pembiayaan perumahan.
Menurutnya, penyederhanaan maupun perbaikan regulasi akan menjadi faktor penting untuk mempercepat realisasi pembangunan rumah.
Yasser melihat tingginya backlog perumahan justru menunjukkan besarnya potensi pasar hunian di Sulsel. Semakin besar kebutuhan rumah yang belum terpenuhi, semakin besar pula ruang bagi pengembang untuk membangun hunian baru.
“Saya kira semakin tinggi backlog, berarti pasar perumahan semakin besar,” katanya.
Berdasarkan pemetaan Apersi Sulsel, pasar potensial perumahan masih terkonsentrasi di kawasan Mamminasata, khususnya Kabupaten Gowa dan Maros.
Setelah kawasan tersebut, wilayah Ajatappareng yang mencakup sejumlah daerah seperti Parepare dan Sidrap dinilai menjadi salah satu pasar potensial berikutnya di Sulsel.
“Kami tetap optimistis bahwa di Sulawesi Selatan ini pasar perumahan masih terbuka lebar,” ujar Yasser.
Sementara itu, Regional CEO PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) Romeo Daniel MVE menegaskan perbankan memiliki peran penting dalam menyediakan solusi pembiayaan perumahan.
Menurutnya, dukungan bank tidak hanya diberikan kepada konsumen melalui kredit pemilikan rumah (KPR), tetapi juga kepada pengembang melalui fasilitas pembiayaan untuk mendukung pembangunan proyek perumahan.
“Jadi tidak hanya dari sisi konsumennya yang kita beri, tapi kita juga memberikan fasilitas pembiayaan juga bagi sisi developernya,” kata Romeo.
Dia menilai kolaborasi antara bank dan asosiasi pengembang menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem perumahan yang berkelanjutan.
“Ini memang kami pun dari sisi perbankan tidak akan bisa juga kalau tidak berkolaborasi dengan asosiasi. Uangnya ada, tapi yang bangun rumahnya nggak ada, kan repot juga,” ujarnya.
Menurut Romeo, ekosistem perumahan pada dasarnya membutuhkan kerja sama tiga pihak, yakni perbankan, pengembang, dan konsumen.
“Ini kerja sama segitiga ya, yang bangun rumahnya ada, yang membeli rumahnya juga harus ada,” katanya.
Karena itu, penyelenggaraan Apex 2026 di Mal Panakkukang dinilai menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pengembang, perbankan, dan calon konsumen dalam satu ekosistem.
Romeo mengatakan BTN juga terus mencari sumber-sumber pasar baru melalui berbagai skema kerja sama, termasuk dengan institusi pemerintahan, BUMN, sektor pendidikan, hingga perusahaan swasta.
Kerja sama tersebut dilakukan melalui skema business to business (B2B) untuk menjangkau kelompok pekerja yang berpotensi menjadi calon pembeli rumah.
“Artinya di situ juga kita kerja sama dengan pemerintahan, dengan BUMN, dengan sektor pendidikan, dan bahkan juga yang retail yang memang pekerja swasta,” katanya.
Menurut Romeo, pekerja dari berbagai sektor tersebut merupakan salah satu basis calon konsumen yang membutuhkan akses kepemilikan rumah.
Dari kelompok inilah perbankan kemudian dapat memberikan fasilitas pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.
“Artinya itu adalah awal mula untuk sumber-sumber yang nantinya akan butuh rumah. Mereka butuh memiliki rumah. Nah dari situ, itu adalah salah satu sumber-sumber yang memang kita fasilitasi untuk bisa mendapatkan perumahan,” ujar Romeo.
Kolaborasi pengembang dan perbankan tersebut menjadi semakin strategis di tengah tingginya kebutuhan hunian di Sulsel.
Dengan pasar yang masih terbuka dan dukungan pembiayaan yang terus diperluas, sektor perumahan diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi sekaligus membantu pemerintah mengejar target program 3 juta rumah. (ams)





