JAKARTA, KOMPAS – Gempa bumi yang mengguncang Flores di Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026), membuat ratusan wisatawan sempat terjebak, beberapa hotel mengalami kerusakan, serta acara penutupan festival dibatalkan di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Berdarakan data Kementerian Pariwisata (Kemenpar), setidaknya 986 wisatawan sempat tertahan karena penutupan sementara pelayaran di Pulau Padar telah berhasil dipulangkan.
Mereka akhirnya tiba dengan selamat di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Pelayaran dapat dilanjutkan setelah maklumat pembukaan pelayaran resmi diterbitkan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo.
Biro Komunikasi Kemenpar dalam keterangan tertulisnya menyatakan, seluruh tamu hotel di kawasan Labuan Bajo telah dievakuasi ke titik aman luar gedung. Dua antaranya di kawasan Natas Parapuar dan Lapangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo. Wisatawan yang sempat dievakuasi ke Puncak Waringan dari Meurorah Hotel, kini telah kembali ke akomodasi masing-masing.
“Operasional penerbangan di Bandara Komodo tetap berjalan normal dengan pembatasan setelah melalui proses pemeriksaan kelaikan teknis. Aktivitas pelayaran laut juga telah dibuka kembali secara bertahap,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Adapun dalam pemantauan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terhadap infrastruktur dan fasilitas pariwisata hingga pukul 13.45 WITA, Hotel Jayakarta di Manggarai Barat mengalami kerusakan struktur pada sejumlah bangunan yang roboh. Seluruh tamu dan karyawan dipastikan aman dan telah direlokasi ke hotel terdekat.
Kondisi serupa dialami Hotel Papita Mbay, Nagekeo. Akomodasi tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah, sehingga koordinasi masih terus dilakukan.
Hotel lainnya, seperti Hotel Ayana, Ta’aktana Marriott, Crown, Menjaga Bay, Luwansa, Sudamala, dan Meurorah secara umum dalam kondisi aman. Meski begitu, ada beberapa catatan retakan atau kerusakan minor. Jaringan listrik dan internet di sebagian besar akomodasi telah kembali beroperasi normal.
Biro Komunikasi Kemenpar melaporkan, tembok papan nama kawasan Loh Liang di Pulau Komodo ambruk. Pemantauan terhadap fasilitas pendukung daya tarik wisata terus dilakukan secara simultan.
“Gempa bumi juga berdampak pada fasilitas umum dan aksesibilitas di beberapa kabupaten sekitar. Dilaporkan telah terjadi tanah longsor dan tiang listrik roboh pada tiga jalur utama, yaitu jalur lintas Labuan Bajo-Ruteng, Bajawa-Ende, Ruteng-Borong, serta Ende-Moni,” tuturnya.
BPOLBF terus mengaktifkan posko koordinasi dan pengawasan langsung bersama sejumlah pemangku kepentingan lain, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pemerintah Daerah Manggarai Barat. Upaya ini dilakukan untuk memantau dinamika industri pariwisata serta memfasilitasi kebutuhan evakuasi wisatawan.
“Kemenpar mengimbau seluruh pelaku usaha pariwisata, baik lokal maupun mancanegara, serta masyarakat luas di wilayah Flores agar tetap tenang dan tidak panik. Pembaruan informasi perlu dilakukan dan dapat dipantau melalui saluran resmi BMKG, BPOLBF, dan instansi berwenang,” kata Biro Komunikasi Kemenpar.
Merujuk data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, sedikitnya 47 korban meninggal dunia dan lebih dari 5.000 jiwa mengungsi.
Konsentrasi pengungsi terbesar di NTT berada di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Kabupaten Manggarai menyusul dengan jumlah pengungsi mencapai 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, serta di dua wilayah di provinsi berbeda, yakni di Bima (NTB) hingga Kepulauan Selayar (Sulsel).
Menurut data BMKG, gempa bermagnitudo 7,7 itu terjadi pada Sabtu pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.
Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Kabupaten Nagekeo. Nagekeo merupakan salah satu kabupaten di Pulau Flores (Kompas.id, 15/8/2026).
Secara terpisah, Corporate Communications Strategic of Wings Air Danang Mandala Prihantoro mengumumkan, Wings Air untuk sementara membatalkan penerbangan berjadwal komersial dari dan menuju Bandara H Aroeboesman, Ende (ENE). Pembatalan dilakukan mulai Sabtu (15/8/2026) hingga pemberitahuan lebih lanjut karena keadaan kahar atau force majeure, di luar kendali perusahaan.
Setidaknya terdapat delapan penerbangan Wings Air yang sementara tidak beroperasi dari dan ke Ende. Rute itu meliputi Kupang (KOE)-Ende (ENE) serta Labuan Bajo (LBJ)-Ende (ENE), dan kebalikannya.
Wings Air masih mengkaji kondisi Bandara Frans Sales Lega, Ruteng (RG) dan Bandara Soa, Bajawa (BJW). Penilaian itu dilakukan melalui pengecekan dan kajian operasional, serta koordinasi intensif dengan otoritas dan pihak terkait. Sebab, kondisi kedua bandara tersebut masih perlu dipastikan guna mendukung operasional penerbangan komersial berjadwal yang aman.
Adapun, sejumlah bandara lain tetap beroperasi berdasarkan hasil pengecekan dan evaluasi operasional. Beberapa di antaranya Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok (LOP); Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima (BMU); Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin, Sumbawa (SWQ); dan Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo (LBJ).
Dalam pemantauan operator telekomunikasi melalui dashboard monitoring Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) hingga pukul 07.00 pada Sabtu (15/8), sebanyak 200 titik (site) stasiun pemancar base transceiver station (BTS) terganggu akibat gempa bumi. Setidaknya gangguan terjadi di 10 kabupaten dan kota di NTT.
“Sebanyak 16,35 persen BTS di wilayah yang teridentifikasi terdampak mengalami gangguan. Komdigi terus memantau kondisi jaringan dan berkoordinasi langsung dengan operator seluler untuk memastikan gangguan dapat segera ditangani,” ujar Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi Wayan Toni Supriyanto secara tertulis di Jakarta, Sabtu.
Keselamatan petugas dan akses publik terhadap akses telekomunikasi tetap menjadi pertimbangan utama dalam proses pemeriksaan dan pemulihan di lapangan. Berdasarkan pemantauan sementara, tiga operator seluler, yakni Telkomsel, XL Smart, dan Indosat, mengalami dampak pada jaringan di sejumlah wilayah.
Pada jaringan Telkomsel, Wayan melanjutkan, sejumlah BTS mengalami gangguan akibat terganggunya pasokan listrik di wilayah terdampak. XL Smart juga melaporkan gangguan layanan, terutama di area yang berdekatan dengan pusat gempa. Indosat masih memantau intensif melalui tim teknis.
“Selain gangguan pasokan listrik, koordinasi dengan operator telekomunikasi menunjukkan adanya gangguan pada jaringan transmisi sebagai dampak gempa bumi,” ucap Wayan.
Berdasarkan jumlah, titik/BTS terdampak paling banyak berada di Kabupaten Sikka dengan total 51 titik. Gangguan disusul di wilayah Kabupaten Ende (31 BTS) serta Kabupaten Flores Timur (26 BTS).
“Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana. Karena itu, data terus kami perbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan di lapangan. Begitu kondisi memungkinkan, penanganan teknis akan dilakukan pada site yang mengalami gangguan,” tutur Wayan.
Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskah, pemerintah mengambil langkah cepat dan terpadu untuk menangani pascabencana gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di NTT.
Langkah tersebut meliputi pembentukan posko bencana terpadu di wilayah terdampak hingga percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur utama.
“Tadi sudah disampaikan, ini akan segera dibentuk posko. Dalam hari kedua ini sudah terbentuk posko, pemerintah pusat ada posko, posko nasional. Nanti Kepala BNPB sampaikan bahwa bantuan logistik dari Jakarta, dari daerah lain terkonsolidasi nanti di Halim, dikirimkan ke sini,” jelas Pratikno dalam keterangannya kepada awak media usai menggelar rapat koordinasi penanganan darurat pascabencana gempa bumi pada Minggu (16/8), di Kantor Bupati Manggarai Barat.
Dalam tahap tanggap darurat, pemerintah memprioritaskan penyelamatan dan pemulihan warga serta wilayah terdampak. Pemerintah juga akan segera memulihkan infrastruktur utama agar dapat kembali berfungsi dalam waktu sesingkat-singkatnya.
“Dalam tahap tanggap darurat ini, yang utama tentu saja adalah menyelamatkan warga yang terdampak, kemudian mengembalikan infrastruktur yang rusak agar segera fungsional, apakah itu jalan, jembatan, rumah sakit, listrik, kemudian juga jaringan internet dan lain-lain, itu recover dalam waktu sesingkat-singkatnya,” tuturnya.
Langkah cepat dan terpadu yang dilakukan pemerintah, lanjut Pratikno, merupakan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat, khususnya dalam menghadapi situasi bencana.





