HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Permasalahan banjir yang rutin terjadi di kawasan Bung, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, mendorong tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan air hujan melalui teknologi lubang resapan biopori.
Program ini melalui BIMA Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek dengan menggandeng Yayasan Almuhajirin Bung Tamalanrea sebagai mitra kegiatan.
Tim pengabdi terdiri atas Ar. Tri Amartha Wiranata, S.T., M.T., IAI, Zulfadli Ibrahim, S.T., M.T., dan Ir. Wira Hadi Kusuma, S.T., M.T. Selain dari dosen tim pengabdi juga terdiri dari mahasiswa Ince Ray dan Dirzat Putra Abniansa.
Sebanyak 25 warga kawasan Bung mengikuti kegiatan yang dipimpin oleh Ketua RT setempat, Dra. Hj. Fatmawati Nur, M.Pd., dan dihadiri Bendahara Yayasan Almuhajirin, Drs. H. Munir Amir Pallawa.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan air hujan di kawasan permukiman.
Tim pengabdi menjelaskan bahwa lubang resapan biopori dapat menjadi salah satu alternatif sederhana yang dapat diterapkan masyarakat untuk membantu mempercepat peresapan air hujan ke dalam tanah.
Selain persoalan air hujan, warga juga mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan sampah organik rumah tangga.
Sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai material yang dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk membantu proses penguraian secara alami.
Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan lubang resapan biopori di salah satu area permukiman warga. Warga terlihat antusias mengikuti proses tersebut.
Mereka tidak hanya menyaksikan demonstrasi yang diberikan tim pengabdi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan dan penerapan lubang resapan biopori.
Ketua RT kawasan Bung, Dra. Hj. Fatmawati Nur, M.Pd., menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan tim pengabdi UNM tersebut.
Ia mengatakan, kawasan tempat tinggal warga selama ini merupakan salah satu wilayah yang rutin mengalami banjir, terutama akibat luapan sungai yang berada di bagian belakang permukiman.
“Terima kasih atas kesediaannya tim pengabdi dari Universitas Negeri Makassar dalam melaksanakan kegiatan pengabdian tentang sosialisasi teknologi lubang resapan biopori saat ini,” ujar Fatmawati.
Menurutnya, banjir hampir terjadi setiap tahun sehingga masyarakat membutuhkan pengetahuan dan alternatif solusi yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan tempat tinggal.
“Daerah kawasan kami merupakan daerah langganan banjir yang setiap tahunnya hampir mendapatkan banjir hasil luapan sungai dari area bagian belakang permukiman,” katanya.
Fatmawati berharap pengetahuan yang diperoleh warga melalui kegiatan tersebut dapat segera diterapkan di rumah masing-masing.
“Kami berharap warga yang telah mendapatkan wawasan tentang pentingnya penggunaan lubang biopori ini dapat segera menerapkan pada rumah masing-masing, sehingga kondisi banjir tahunan dapat kami hindari,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pengelolaan air hujan, tetapi juga membuka wawasan warga mengenai pengelolaan sampah organik rumah tangga.
Tim pengabdi UNM menargetkan penerapan teknologi lubang resapan biopori dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi genangan dan potensi banjir di kawasan permukiman.
Selain itu, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi biopori, mengedukasi warga dalam mengelola sampah organik rumah tangga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Teknologi lubang resapan biopori dipilih karena relatif sederhana dan dapat diterapkan oleh masyarakat di lingkungan rumah masing-masing.
Dengan penerapan secara bersama-sama, teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mengelola air hujan sekaligus sampah organik.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan pada 19 Juli 2026 dengan program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula dengan judul Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Air Hujan melalui Teknologi Lubang Resapan Biopori pada Permukiman Rawan Banjir.
Tim pengabdi berharap masyarakat Bung tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menerapkan teknologi biopori secara mandiri dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menghadapi persoalan banjir dan menjaga kualitas lingkungan permukiman. (ams)





