Sorot mata atlet difabel rungu Vincentius Adiguna Wijaya nampak berbinar-binar saat berhasil menaklukkan tanjakan berliku dan mencapai puncak Gunung Andong di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (16/8/2026). Setelah sejenak beristirahat untuk menata nafasnya yang memburu, atlet atletik itu segera merapikan barisan bersama 76 anggota Persatuan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin) Jawa Tengah lainnya yang bersusah payah mendaki ke ketinggian 1.726 mdpl sambil membawa bendera Merah Putih.
Atlet difabel rungu tiba di puncak Sunrise Camp Gunung Andong secara bergelombang.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Anggota Patrin membawa bendera Merah Putih menuju puncak Gunung Andong.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Atlet difabel rungu berkomunikasi dengan bahasa isyarat saat menuju puncak Gunung Andong.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pagi itu mereka bertekad untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia di puncak tertinggi gunung yang tengah populer di kalangan pendaki pemula itu. Bersama puluhan pendaki lainnya, mereka turut membentangkan sebuah bendera Merah Putih yang berukuran 16 x 12 meter.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, mereka saling berkomunikasi dan mengatur barisan agar dapat melaksanakan upacara bendera dengan khidmat. Mereka juga turut menyanyikan lagu Indonesia Raya sebisa mungkin dengan kemampuan wicara mereka yang terbatas sambil melakukan sikap hormat kepada bendera ketika lagu itu dinyanyikan.
Mereka nampak bersemangat dalam menggelar upacara di puncak Gunung Andong meski harus bersusahpayah mendaki gunung itu dengan waktu tempuh sekitar 1 – 1,5 jam. “Perjalanan menuju ke sini luar biasa. Meskipun berat, tapi kami tetap merdeka,” ujar Vincentius dengan didampingi oleh seorang penerjemah.
Tidak semua peserta pendakian itu adalah atlet-atlet muda. Ketua DPD Patrin Jawa Tengah Yitno Atmadjie, misalnya, turut mendampingi atlet binaan Patrin menuju puncak Gunung Andong meski usianya sudah tak lagi muda. “Saya hari ini sedang tidak fit, tapi saya tetap berangkat berjuang ke puncak agar bisa bersama mereka,” ujar mantan atlet difabel rungu itu dengan penuh semangat.
Membentangkan bendera Merah Putih.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Sejumlah pendaki turut berpartisipasi dalam acara ini.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Atlet difabel rungu dari berbagai daerah di Jawa Tengah turut berpartisipasi dalam ajang ini.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Selain untuk menyambut HUT RI, acara itu juga untuk menggelorakan semangat nasionalisme di kalangan atlet yang berasal dari sejumlah lokasi di Jawa Tengah itu, Melalui kegiatan ini, mereka juga berharap agar memiliki wadah kompetisi tingkat untuk menyalurkan potensi yang dimiliki oleh para atlet itu hingga ke tingkat internasional.
Patrin dikenal secara internasional sebagai Indonesian Association of the Deaf Athletes (IADA) dan berdiri pada tahun 2021. Organisasi ini dibentuk sebagai tindak lanjut atas aturan internasional yang mewajibkan atlet tunarungu memiliki wadah atau organisasi keolahragaan sendiri yang terpisah dari induk organisasi disabilitas umum seperti misalnya National Paralympic Committe Indonesia (NPCI).
Melalui semangat yang terpancar dari para atlet yang menaklukkan puncak Gunung Andong pagi itu, mereka ingin menyampaikan secara lantang kepada masyarakat tentang keinginan tulus mereka untuk mengharumkan nama Indonesia dengan talenta mereka. Kibaran Merah Putih yang tertiup angin juga menjadi simbol harapan dan doa mereka akan kejayaan bangsa Indonesia di masa mendatang.





