HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Perjalanan sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh satu periode kepemimpinan, melainkan oleh kesinambungan gagasan, kerja kelembagaan, dan kontribusi para akademisi yang tumbuh bersama institusi tersebut.
Di Universitas Negeri Makassar, salah satu akademisi yang mengalami langsung berbagai fase perkembangan kampus adalah Prof. Dr. Eko Hadi Sujiono.
Selama lebih dari tiga dekade berada di lingkungan UNM, Eko menjalani perjalanan sebagai dosen, peneliti, profesor, pengembang institusi, pimpinan universitas, hingga anggota berbagai tim kebijakan pendidikan tinggi nasional. Pengalaman tersebut membawanya memahami perguruan tinggi tidak hanya sebagai ruang akademik, tetapi sebagai organisasi kompleks yang membutuhkan visi, tata kelola, inovasi, dan keberlanjutan.
Eko Hadi Sujiono lahir di Purwoharjo pada 17 Oktober 1969. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Fisika di IKIP Ujung Pandang pada 1992, kemudian melanjutkan pendidikan magister dan doktor bidang Fisika di Institut Teknologi Bandung. Setelah itu, ia memperdalam bidang Applied Physics melalui program postdoctoral di University of Twente, Belanda pada 2002–2004.
Karier akademiknya berkembang hingga mencapai jabatan Profesor bidang Ilmu Fisika pada 1 Juli 2009, ketika usianya 39 tahun. Sebelum mencapai jenjang tersebut, ia melewati mekanisme loncat jabatan dari Asisten Ahli Madya ke Lektor Kepala.
Mengawal Transformasi Kelembagaan UNM
Keterlibatan Eko dalam pengembangan UNM berlangsung sejak fase penting perubahan institusi. Setelah perubahan IKIP Ujung Pandang menjadi universitas, UNM membutuhkan penguatan identitas, tata kelola, dan arah pengembangan kelembagaan.
Pada periode tersebut, Eko bergabung dalam Task Force UNM pada 2004 dan Tim Pengembang UNM pada 2005. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa universitas merupakan sistem yang saling terhubung antara aspek akademik, sumber daya manusia, fasilitas, anggaran, dan kebijakan.
Pengalaman dalam pengembangan kelembagaan tersebut berlanjut ketika ia dipercaya menjadi bagian dari Tim Pengembang UNM. Dalam peran tersebut, ia terlibat dalam proses penguatan institusi dan pembangunan kampus Menara Pinisi yang kemudian menjadi salah satu simbol transformasi UNM.
Selain terlibat dalam pengembangan institusi, Eko juga dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis. Ia pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan UNM periode 2012–2016. Sebelumnya, ia memimpin Program Pengembangan Profesi Guru UNM serta menjadi Ketua Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 124 UNM.
Dalam bidang pendidikan guru, ia terlibat dalam berbagai program nasional, termasuk sertifikasi guru dan program SM3T yang mengirim lulusan pendidikan ke wilayah Papua dan Papua Barat. Program tersebut memberikan pengalaman bagaimana kebijakan pendidikan diterjemahkan menjadi layanan nyata bagi masyarakat.
Riset yang Menghubungkan Ilmu dan Kebutuhan Masyarakat
Sebagai profesor bidang fisika, Eko tetap mempertahankan aktivitas penelitian sebagai bagian utama pengabdiannya. Fokus risetnya berkembang dari material maju dan superkonduktor menuju pemanfaatan sumber daya lokal Indonesia.
Salah satu bidang yang dikembangkan adalah pemanfaatan slag nikel dan limbah tempurung kelapa sebagai material bernilai tambah. Penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan teknologi yang memiliki manfaat lebih luas, mulai dari material konstruksi hingga pengembangan teknologi penyimpanan energi dan pengolahan air.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok riset yang dipimpinnya mengembangkan kajian mengenai graphene, karbon aktif, superkapasitor, dan material energi terbarukan. Berdasarkan rekam penelitian, berbagai proyek tersebut mencakup pengembangan bahan dasar graphene dari limbah tempurung kelapa, perangkat penyimpan energi, hingga teknologi karbon aktif berbasis bahan alam lokal.
Pada 2026, Eko memimpin Riset Unggulan Konsorsium Berdampak yang mengembangkan teknologi karbon aktif berbasis bahan alam lokal Indonesia untuk mendukung penyediaan air minum. Pada tahun yang sama, ia juga terlibat dalam riset kolaborasi internasional mengenai rechargeable Zinc-Air Battery.
Arah penelitian tersebut menunjukkan upaya menghubungkan ilmu dasar dengan persoalan nyata. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memiliki manfaat bagi masyarakat dan pembangunan.
Berkontribusi dalam Kebijakan Pendidikan Tinggi Nasional
Selain aktivitas akademik dan penelitian, Eko memiliki pengalaman panjang dalam bidang kebijakan pendidikan tinggi. Ia terlibat dalam berbagai tim nasional yang berkaitan dengan pengembangan profesi dosen, sistem penilaian akademik, serta tata kelola sumber daya manusia perguruan tinggi.
Pengalamannya mencakup keterlibatan sebagai Tim Penilai Angka Kredit Nasional, Tim Penyusun Naskah Akademik Beban Kerja Dosen, Tim Pelaksana Perhitungan Beban Kerja Dosen, Tim Pengawas Integritas Akademik, hingga Tim BKD Pusat Kemdiktisaintek sejak 2025.
Dia juga dipercaya menjadi Tim Pakar SDM Direktorat Jenderal Kemdiktisaintek sejak 2025. Peran tersebut berkaitan dengan pengembangan kebijakan sumber daya manusia pendidikan tinggi, khususnya dalam aspek profesionalisme, karier, dan kinerja dosen.
Keterlibatan dalam kebijakan nasional memberikan pengalaman tambahan mengenai bagaimana keputusan di tingkat kementerian berdampak langsung terhadap perguruan tinggi dan sivitas akademika.
Jejak Internasional dan Pengakuan Akademik
Kiprah akademik Eko juga berkembang melalui berbagai forum ilmiah internasional. Ia menjadi pembicara dalam sejumlah konferensi bidang material dan pendidikan, termasuk Eurasia Convention Busan 2026 di Korea Selatan dengan tema mengenai pendidikan, kapasitas ilmiah, kerja sama mineral kritis, dan kemandirian teknologi Indonesia.
Atas kontribusinya di bidang akademik, penelitian, dan pengembangan institusi, Eko memperoleh sejumlah penghargaan. Di antaranya adalah Guru Besar Berdampak Terbaik I UNM 2026, Satyalancana Karya Satya 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia, serta penghargaan Dosen Berprestasi Peringkat I UNM.
Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang akademisi yang mengembangkan karier melalui jalur pendidikan, penelitian, dan pengabdian kelembagaan.
Menjawab Tantangan Perguruan Tinggi Masa Depan
Perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Transformasi digital, persaingan global, peningkatan kualitas riset, penguatan jejaring internasional, serta tuntutan tata kelola yang transparan menjadi agenda besar yang harus dijawab oleh universitas.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, pengalaman kelembagaan menjadi salah satu modal penting. Pemimpin perguruan tinggi tidak hanya dituntut memiliki gagasan perubahan, tetapi juga memahami sejarah institusi, mampu membaca tantangan masa depan, dan memiliki kemampuan membangun kerja bersama.
Perjalanan Eko Hadi Sujiono menunjukkan pengalaman yang dibangun melalui berbagai ruang: laboratorium sebagai tempat mengembangkan ilmu, Menara Pinisi sebagai ruang membangun institusi, serta kementerian sebagai tempat memahami arah kebijakan pendidikan tinggi nasional.
Bagi UNM, keberlanjutan pembangunan universitas membutuhkan perpaduan antara pengalaman, inovasi, dan kemampuan membaca perubahan zaman. Sebab universitas besar tidak dibangun oleh satu masa kepemimpinan, tetapi melalui kesinambungan gagasan, kerja kolektif, dan komitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin berkualitas. (wid)





