Jakarta: Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan kebutuhan industri yang semakin dinamis. Kondisi tersebut membuat mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu memiliki integritas, kemampuan berpikir kritis, serta kemampuan menciptakan nilai bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam hari kedua UPH Festival 2026 yang berlangsung pada 14 Agustus 2026. Mengusung tema Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform, mahasiswa baru diajak melihat pendidikan bukan sekadar persiapan menuju profesi, tetapi juga bagian dari proses membangun karakter dan menentukan tujuan hidup.
Berbagai sesi membahas penerapan ilmu dan nilai dalam sejumlah bidang, mulai dari kesehatan, teknologi, hukum, sains, hingga bisnis.
Perkembangan AI menjadi salah satu tantangan yang perlu dipahami mahasiswa sejak awal. Executive Dean College of Emerging Sciences (CES) UPH Rizaldi Sistiabudi mengingatkan agar teknologi tidak membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir dan belajar secara mandiri.
Menurutnya, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat untuk membantu proses belajar dan berkarya, bukan menjadi jalan pintas yang menggantikan kemampuan manusia.
"AI adalah teknologi yang sangat canggih, tetapi jangan sampai kreasi dan critical thinking kita hilang. Jangan apa-apa bertanya kepada AI atau langsung copy-paste tanpa membaca dan memahaminya," ujar Rizaldi.
Ia menilai mahasiswa tetap perlu memahami proses di balik suatu pekerjaan meskipun teknologi dapat membantu menyelesaikannya dengan lebih cepat.
Hal ini menjadi semakin penting karena AI diperkirakan akan terus mengubah cara manusia bekerja. Kemampuan untuk memahami teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi generasi yang akan memasuki dunia kerja.
Perspektif serupa juga dibahas dalam sesi Money, Business & The Good Life. Executive Dean for College of Business and Technology sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPH, Gracia Shinta S. Ugut, mengajak mahasiswa melihat bisnis tidak hanya dari sisi keuntungan.
Menurut Gracia, bisnis dapat menjadi sarana untuk menciptakan nilai, menyelesaikan persoalan, membangun kesejahteraan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Uang itu bukan sesuatu yang jahat. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga ketika kita membangun bisnis, kita bisa menciptakan value, menyelesaikan masalah, menciptakan kesejahteraan, dan memperbaiki komunitas," jelas Gracia.
Ia menilai persoalan muncul ketika keuntungan menjadi satu-satunya tujuan dan mengesampingkan tanggung jawab. Karena itu, mahasiswa didorong untuk memahami pengelolaan uang dan sumber daya secara bertanggung jawab.
Kesuksesan tidak hanya diukur dari jumlah kekayaan yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana sumber daya tersebut digunakan untuk menciptakan manfaat.
Selain kemampuan teknis, integritas juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional.
Dalam sesi Justice, Law & The Common Good, Executive Dean for College of Arts and Social Sciences (CASS) sekaligus Dekan Fakultas Hukum (FH) UPH, Velliana Tanaya, menekankan pentingnya menggunakan pengetahuan dan kekuasaan secara bertanggung jawab.
"Kuasa tanpa tanggung jawab akan melahirkan ketidakadilan. Karena itu, gunakan kuasa yang Tuhan percayakan bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk melayani, melindungi, dan memuliakan Tuhan," ujar dia.
Menurut Velliana, integritas dapat dibangun dari kebiasaan sederhana sejak masa kuliah, seperti tidak menyontek, menghindari plagiarisme, menepati janji, dan berkomitmen menyampaikan kebenaran.
Kebiasaan tersebut dinilai akan menjadi fondasi ketika mahasiswa nantinya memiliki posisi dan kewenangan lebih besar dalam dunia profesional.
Perspektif mengenai manusia dan profesi juga dibahas dalam bidang kesehatan. CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady, melalui sesi Medicine, Suffering & Human Dignity, mengajak mahasiswa melihat profesi kesehatan tidak semata-mata dari sisi diagnosis dan pengobatan.
Menurutnya, setiap manusia memiliki martabat sehingga tenaga kesehatan perlu memperlakukan pasien secara utuh, termasuk dengan menghormati kondisi dan kebutuhan mereka.
Sementara itu, dalam sesi Faith and Science, Rev. Yohanes Halim, Senior Pastor Christ Chapel Karawaci (CCK), mengingatkan mahasiswa untuk tetap rendah hati dalam menggunakan ilmu pengetahuan.
Ia menilai sains memiliki peran penting dalam memahami alam semesta, tetapi tidak selalu dapat menjawab seluruh persoalan kehidupan manusia.
Berbagai perspektif tersebut bermuara pada satu pesan bahwa pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Pengetahuan, teknologi, kemampuan profesional, dan sumber daya yang dimiliki mahasiswa perlu digunakan untuk menciptakan manfaat.
Di tengah dunia kerja yang terus berubah, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pencari kerja. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, menciptakan nilai, beradaptasi dengan teknologi, dan menjaga integritas ketika mengambil keputusan.
Melalui pendidikan dan berbagai pengalaman pengembangan diri, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang lebih utuh untuk memasuki dunia profesional sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat.




