Menyiapkan Anak Menghadapi Krisis Iklim lewat Permainan Papan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Perubahan iklim semakin nyata dan dampaknya berpotensi membentuk kehidupan anak-anak di masa depan. Ancaman bencana, perubahan lingkungan, hingga kebutuhan untuk beradaptasi dengan kondisi iklim yang terus berubah membuat generasi muda perlu dibekali pemahaman sejak dini.

Namun, mengenalkan isu sekompleks perubahan iklim kepada anak tidak harus selalu dilakukan melalui buku pelajaran dan istilah yang rumit. Isu ini dapat diselipkan ke dalam dunia anak, yakni dunia bermain. Permainan edukatif justru dapat menjadi pintu masuk yang lebih dekat dengan mereka.

Melalui gim edukatif GenerAksi, anak-anak diajak mengenal perubahan iklim, kesiapsiagaan bencana, hingga berbagai tindakan sederhana untuk menjaga lingkungan melalui pengalaman belajar yang partisipatif dan menyenangkan.

GenerAksi merupakan permainan papan edukatif untuk pemain berusia 12 tahun ke atas tentang aksi iklim yang mendorong kerja sama tim, strategi, dan kesadaran lingkungan. Permainan ini menampilkan enam karakter: seorang penjaga hutan, petugas pemadam kebakaran, petani, penambang, dan seorang mafia.

Kelima karakter utama itu harus bekerja sama untuk mencapai garis finis sebelum mafia. Dari sini, anak-anak bisa merasakan pengalaman menarik belajar tentang tantangan iklim. Papan permainan mencakup dua mode permainan; A dan B untuk memastikan inklusivitas, dengan satu versi dirancang dengan elemen taktil. Gim ini juga tersedia dalam bentuk digital maupun non-digital sehingga dapat digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran.

Ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi riset dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran perubahan iklim yang menarik dan relevan bagi siswa dan guru.

Gim ini dikembangkan sebagai bagian dari kolaborasi riset Indonesia–Australia yang melibatkan PREDIKT, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Nusa Cendana, ChildFund Indonesia, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, dan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, dengan dukungan Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi (Koneksi).

"Indonesia dan Australia menghadapi tantangan iklim dan bencana yang berbeda, tetapi memiliki kepedulian yang sama terhadap pendidikan, kesiapsiagaan, dan ketangguhan anak. Melalui gim ini, kami ingin menyediakan media pembelajaran yang membantu siswa memahami adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta kesiapsiagaan bencana, sekaligus menjadi sarana dialog lintas negara antara siswa dan guru," kata Avianto Amri, peneliti utama sekaligus CEO PREDIKT dalam keterangan pers, Minggu (17/8/2026).

Baca JugaIni Bukan Sekadar Permainan, Ini Board Game

Alih-alih hanya menerima informasi, anak didorong untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran. GenerAksi menggunakan pendekatan gamifikasi dan pembelajaran aktif agar konsep adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, kesiapsiagaan bencana, serta aksi iklim dapat dipahami melalui aktivitas yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Gim ini telah digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia dan menjangkau lebih dari 3.000 anak serta 400 orang dewasa, termasuk guru, orangtua, perwakilan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Gim akan diperluas melalui pengembangan materi pembelajaran inklusif, pelatihan pendidik, kolaborasi dengan organisasi lokal, serta pertukaran pengetahuan antara pendidik di Indonesia dan Australia.

Riset yang dilakukan oleh tim KONEKSI menemukan bahwa setelah menggunakan GenerAksi, sebanyak 85 persen siswa yang terlibat dalam kegiatan GenerAksi menunjukkan peningkatan pemahaman tentang konsep perubahan iklim, sementara 70 persen menyatakan niat untuk mengambil tindakan positif terkait iklim.

Baca JugaMemperkuat Kemampuan Matematika Anak dengan Bermain ”Board Game”

Riset dan pembelajaran yang dihasilkan melalui GenerAksi juga telah berkontribusi dalam diskusi mengenai pengintegrasian pendidikan perubahan iklim ke dalam sistem pendidikan nasional, termasuk melalui keterlibatan dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran serta Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.

"Ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi riset dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran perubahan iklim yang menarik dan relevan bagi siswa dan guru. Melalui kemitraan yang kuat Indonesia dan Australia di sektor pendidikan, termasuk melalui Climate Change Educator Network, kami harap para pendidik di kedua negara dapat saling berbagi pengetahuan dan memperkuat praktik pembelajaran perubahan iklim di sekolah," kata Suharti, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen.

Pengalaman belajar tersebut juga tidak berhenti pada permainan. Anak-anak dapat mengambil peran sebagai bagian dari proses pembelajaran dan berbagi pengetahuan dengan teman sebaya. Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke Australia, misalnya, siswa Harkaway Primary School memfasilitasi siswa Essex Heights Primary School memainkan GenerAksi, termasuk menggunakan versi permainan dalam Bahasa Indonesia.

Pendekatan saling belajar antaranak ini menempatkan anak bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai fasilitator, pencerita, dan penggerak aksi iklim di antara teman-temannya. Anak-anak Indonesia dan Australia memiliki kesempatan untuk berbagi cerita mengenai perubahan iklim dan bencana yang mereka kenal di daerah masing-masing.

"Kami ingin mengeksplorasi bagaimana sekolah-sekolah di Indonesia dan Australia dapat saling berbagi cerita tentang perubahan iklim di daerah masing-masing, membandingkan risiko yang dihadapi, serta mendiskusikan aksi yang dapat dilakukan siswa secara inklusif, termasuk bagi siswa penyandang disabilitas," ucap Avianto.

Bagi guru-guru, permainan juga dapat menjadi sarana untuk membuat pembelajaran perubahan iklim lebih relevan dengan pengalaman anak. Pendidikan mengenai perubahan iklim tidak hanya membutuhkan materi yang tepat, tetapi juga pendidik yang mampu menggunakan, menyesuaikan, dan mengembangkan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.

Karena itu, penguatan Jejaring Pendidik Perubahan Iklim atau Climate Change Educators Network menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidik Indonesia dan Australia untuk bertukar pengetahuan serta praktik pembelajaran.

"Kami melihat potensi besar untuk menghubungkan siswa dan guru melalui kegiatan praktis, refleksi bersama, serta percakapan mengenai aksi iklim, termasuk melalui pertukaran pendidik secara virtual atau bentuk kolaborasi lainnya ke depan,” kata Leigh Johnson, Kepala Sekolah Harkaway Primary School.

Baca JugaBerprestasi Saja Tak Cukup, Talenta Unggul Harus Berdampak

Dengan pendekatan tersebut, pendekatan belajar dengan bermain ini tidak hanya menjadi sebuah permainan, melainkan menjadi ruang bagi anak untuk memahami dunia yang sedang berubah, mengenali peran mereka di dalamnya, dan secara perlahan membangun kebiasaan untuk menjadi bagian dari solusi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arahan Tegas Menko Polkam: Hormati Simbol Negara dan Jaga Perdamaian di Aceh
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran Hutan di Belgia Hanguskan 2.700 Hektare Lahan, Ratusan Warga Dievakuasi
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Semestinya NU Pilih Ketum Lewat AHWA, Pemilihan Langsung Berpotensi Timbulkan Friksi
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
50 KK di Selayar masih bertahan di pengungsian akibat trauma
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
17 Agustus Pagi, Gempa Bumi M 5,8 Kembali Guncang Flores
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.