JAKARTA, KOMPAS.com - Aroma bawang menyeruak tajam ketika memasuki kawasan pengupasan bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Di antara tumpukan bawang, sejumlah wanita menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengupas kulit bawang menggunakan pisau kecil.
Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan bagi mereka yang mengandalkan upah berdasarkan jumlah bawang atau karung yang berhasil diselesaikan.
Baca juga: Jelang Perayaan Kemerdekaan, Emak-emak di Bogor Sibuk Kupas Bawang demi Upah Rp 1.200 Per Kg
Salah seorang pengupas bawang, Sulastri (56), dapat mengupas hingga 20 kilogram bawang dalam sehari ketika pekerjaan sedang ramai.
Dengan upah Rp 3.000 per kilogram, 20 kilogram bawang yang dikupas Sulastri menghasilkan sekitar Rp 60.000.
Namun, jumlah tersebut bukan penghasilan yang selalu bisa dibawa pulang karena banyaknya bawang yang tersedia bergantung pada kondisi pekerjaan di pasar.
10 tahun jadi pengupas bawang
Sulastri awalnya mengenal pekerjaan tersebut ketika mengantarkan kerupuk ke sejumlah warung bersama temannya.
Saat melihat orang lain mengupas bawang, Sulastri kemudian mencoba pekerjaan tersebut hingga akhirnya bertahan selama bertahun-tahun.
Dalam sehari, ia bekerja sejak pagi dan waktu pulangnya tidak menentu karena terkadang baru selesai pada sore atau malam hari.
“Saya kurang lebih (bekerja selama) 10 tahun,” ujar Sulastri saat ditemui Kompas.com di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (16/8/2026).
Sebelum menjadi pengupas bawang, Sulastri sempat bekerja sebagai pelayan rumah makan.
Kini, penghasilan dari mengupas bawang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
“Sekilonya Rp 3.000, berangkat pagi, kadang pulang sore, kadang pulang malam,” kata Sulastri.
Baca juga: Diupah Rp 60.000 Kupas Bawang hingga Malam, Lansia 64 Tahun: Supaya Bisa Makan
Seharian mengupas 20 kg bawang
Penghasilan Sulastri bergantung pada jumlah bawang yang tersedia dan banyaknya bawang yang mampu ia selesaikan.