Ketika Proklamasi Kemerdekaan Hampir Dibacakan di Monas…

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.com - Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (Ikada), yang kini dikenal sebagai Lapangan Monas, sempat dipersiapkan sebagai tempat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Saat itu, kawasan tersebut masih berupa Lapangan Ikada dan belum menjadi kawasan Monumen Nasional seperti yang dikenal sekarang. Pembangunan Monas baru dimulai pada 1961, sekitar 16 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Rencana pembacaan Proklamasi di Lapangan Ikada muncul setelah teks Proklamasi selesai dirumuskan di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta, pada dini hari 17 Agustus 1945.

Namun, pembacaan Proklamasi akhirnya tidak dilakukan di Lapangan Ikada. Soekarno memilih rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sebagai lokasi pembacaan Proklamasi.

Keputusan tersebut diambil setelah pembahasan mengenai tempat dan cara mengumumkan kemerdekaan berlangsung menjelang pagi hari.

Baca juga: Sempat Hidup dalam Keterbatasan, Putra Sayuti Melik Kini Diundang Upacara 17 Agustus di Istana

Proklamasi Sempat Direncanakan di Lapangan Ikada

Arsip KOMPAS Rapat Raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945.
Setelah rumusan teks Proklamasi selesai disusun, persoalan berikutnya adalah menentukan tempat dan cara kemerdekaan Indonesia diumumkan kepada rakyat.

Dilansir dari situs resmi Sekretariat Negara (Setneg), kisah tersebut ditulis dalam artikel berjudul “Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945”.

Dalam pembahasan menjelang pelaksanaan Proklamasi, Sukarni menyampaikan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya telah diserukan untuk datang berbondong-bondong ke Lapangan Ikada pada 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi.

Lapangan Ikada dipilih karena merupakan lapangan umum yang memungkinkan masyarakat berkumpul dalam jumlah besar.

Namun, Soekarno tidak menyetujui rencana tersebut.

Menurut Soekarno, menggelar rapat umum di lapangan terbuka tanpa pengaturan dengan penguasa militer Jepang berisiko memicu bentrokan.

"Tidak," kata Soekarno menanggapi usulan tersebut.

Ia kemudian mengusulkan agar Proklamasi dilakukan di rumahnya di Pegangsaan Timur 56.

"Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang," kata Soekarno.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Soekarno mempertimbangkan kemungkinan terjadinya insiden jika massa berkumpul dalam jumlah besar di Lapangan Ikada.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Keuangan Shio Kerbau 17 Agustus 2026, Badai Rezeki Mengintai, tapi Hati-hati Buntung karena Hal Ini!
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Rosan Beberkan Alasan Utama Jakarta dan Bali Jadi Lokasi PFII
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Pertamina Patra Niaga Menjaga Pasokan BBM dan LPG di Flores Pascagempa NTT
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Bandara Sultan Hasanuddin Pertama Kali Gelar Kompetisi Basket 3X3, Ada 56 Tim Ikut Meramaikan
• 15 jam laluharianfajar
thumb
Mudah Diamati, Begini 5 Ciri Warga Kelas Bawah
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.