REPUBLIKA.CO.ID, BAWEAN -- Di tengah kehidupan pesantren yang lekat dengan rutinitas mengaji, belajar, dan menempa kedisiplinan, Shofiya Kartika menemukan ruang pengabdian lain: barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Santriwati berusia 15 tahun asal Pondok Pesantren Tsamratul Afkar, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu terpilih menjadi anggota Paskibraka yang mewakili Madrasah Aliyah (MA) Darussalam Daun, Sangkapura.
Tujuh Rute Transjakarta Beroperasi hingga Pukul 18.00 WIB pada 17 Agustus
Pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Shofi, sapaan akrabnya, mendapat amanah untuk berdiri tegap dalam barisan Paskibraka pada upacara pengibaran bendera di Alun-Alun Sangkapura.
Bagi Shofi, kesempatan tersebut bukan sekadar mengenakan seragam dan menjalankan tugas dalam upacara kemerdekaan. Ada kebanggaan tersendiri ketika seorang santri dari sebuah pulau yang berada cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Gresik dapat mengambil bagian dalam peringatan hari kemerdekaan.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Dari Pesantren di Pulau Bawean
Pulau Bawean merupakan salah satu wilayah kepulauan di Kabupaten Gresik yang berada di tengah Laut Jawa. Letaknya yang cukup jauh dari daratan Gresik membuat kehidupan masyarakat di pulau tersebut memiliki karakter tersendiri.
Di tengah lingkungan itulah Shofi tumbuh dan menempuh pendidikan. Kehidupan pesantren menjadi bagian dari kesehariannya. Di Pesantren Tsamratul Afkar yang diasuh Kiai Maskum, ia menjalani rutinitas sebagai santri sekaligus pelajar.
Pendidikan agama dan kedisiplinan yang ditemuinya di pesantren menjadi bekal dalam menjalani berbagai aktivitas. Ketika kesempatan untuk mengikuti seleksi Paskibraka terbuka, Shofi pun memberanikan diri mengambil kesempatan tersebut.
Ia kemudian terpilih mewakili MA Darussalam Daun, Sangkapura, untuk bergabung dalam pasukan pengibar bendera pada peringatan HUT ke-81 RI.
Perjalanan menuju barisan Paskibraka tentu tidak berlangsung singkat. Ada latihan, ketekunan, serta tuntutan untuk menjaga kedisiplinan yang harus dijalani. Setiap gerakan harus dilakukan dengan tepat, mulai dari sikap sempurna, langkah tegap, hingga koordinasi dengan anggota pasukan lainnya.
"Sebelumnya kami latihan selama sebulan di alun-alun. Kami bentuk barisan Lambang Garuda," ujar Shofi kepada Republika.co.id, Senin (17/8/2026).
Bagi seorang santriwati, proses tersebut menjadi pengalaman baru yang mempertemukan tradisi pendidikan pesantren dengan semangat kebangsaan.