Ringkasan Berita
SMPN 4 Pare berdiri sejak 22 Mei 1920 dan berawal dari sekolah teknik logam atau Ambaschool pada masa kolonial Belanda.
Sekolah tersebut kemudian berkaitan dengan pendidikan teknik pada masa Jepang dan perjuangan Tentara Genie Pelajar setelah Indonesia merdeka.
Sejumlah bangunan lama masih dipertahankan dan kini terdapat museum mini yang menyimpan sejarah sekolah serta TGP.
SMPN 4 Pare melibatkan siswa dalam perawatan museum dan mengenalkan sejarah TGP melalui kegiatan kokurikuler.
Kediri (beritajatim.com) – Di balik aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 4 Pare, Kabupaten Kediri, tersimpan perjalanan sejarah panjang yang berkaitan dengan pendidikan teknik pada masa kolonial Belanda hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sekolah yang kini dikenal sebagai SMPN 4 Pare tersebut telah berdiri sejak 22 Mei 1920. Cikal bakalnya berasal dari sekolah teknik logam atau Ambaschool yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 776 Tahun 1918 dan diperuntukkan bagi masyarakat pribumi Pare.
Namun, istilah pribumi pada masa itu tidak berarti seluruh masyarakat dapat mengakses pendidikan. Pengurus Ikatan Keluarga Besar Eks Tenaga Genie Pelajar (IKB eks TGP) Cabang Kediri Hendro Widjonarko menjelaskan, siswa yang diterima umumnya berasal dari keluarga yang memiliki keterkaitan dengan pemerintahan, perkebunan, maupun perusahaan milik Belanda.
“Jadi benar-benar bagi pribumi Pare. Tapi ingat, yang namanya pribumi itu bukan rakyat jelata, yang pada waktu boleh sekolah hanya anak-anaknya orang kelasnya bangsawan yaitu mereka yang sudah bekerja di kantornya Belanda, yang sudah bekerja di pabriknya Belanda,” ujar Hendro.
Keberadaan sekolah teknik tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ekonomi kolonial di wilayah Kediri. Pada masa itu, Kediri berkembang sebagai kawasan perkebunan dan industri, terutama komoditas gula dan kopi.
Jaringan transportasi kereta api juga berkembang untuk menunjang aktivitas perkebunan dan industri. Salah satu perusahaan yang disebut memiliki peran penting adalah Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), yang menghubungkan sejumlah kawasan di Kediri hingga Jombang.
“Perusahaan yang sangat-sangat luar biasa prioritasnya itu apa? KSM. Apa itu KSM? Kediri Stoomtramp Maatscappij. Kereta api. Perusahaan kereta api yang menghubungkan Pasar Pahing sana, stasiun sampai Jombang,” terangnya.
Kebutuhan tenaga teknis untuk mendukung operasional pabrik dan perusahaan kemudian mendorong pemerintah kolonial memberikan pendidikan teknik kepada sebagian masyarakat pribumi. Namun, pendidikan tersebut pada dasarnya juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri kolonial.
“Dulu mesin-mesin yang di sekolah kita itu rencana Belanda digunakan untuk membuat produk lulusan yang menjadi kulinya di pabrik-pabrik Belanda,” ujarnya.
Memasuki masa pendudukan Jepang, sekolah tersebut mengalami perubahan. Ambaschool kemudian diubah menjadi Kogyo Gakko, sekolah teknik yang mengajarkan keterampilan pertukangan dan pembangunan.
Pendidikan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknik. Para siswa juga mendapat latihan yang berkaitan dengan kebutuhan perang, termasuk keterampilan membuat persenjataan. Struktur sekolah berada di bawah pengawasan perwira Jepang dan memiliki keterkaitan dengan sekolah teknik di Madiun.
Keterampilan tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Indonesia memasuki masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah Indonesia merdeka, sekolah berubah menjadi sekolah teknik dan sejumlah siswanya bergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP).
TGP merupakan kelompok tentara pelajar dengan kemampuan khusus di bidang teknik. Para pelajar teknik tidak hanya bertempur, tetapi memiliki kemampuan membuat dan memperbaiki persenjataan. Sekolah tersebut bahkan pernah digunakan sebagai markas komando TGP.
Jejak perjuangan tersebut juga berkaitan dengan sejumlah fasilitas di sekitar Pare. Hendro menyebut kawasan industri dan fasilitas tertentu pernah dimanfaatkan untuk mendukung perjuangan, termasuk penyimpanan persenjataan.
“Di kafe (Garasi Pare) itu, tahun 1959, Pak Dirman dengan Mayor Sugono merumuskan strategi perang gerilya, penghancuran, penghapusan, penghangusan, dan penghadangan. Caranya perang gitu, gerilya. Ditindaklanjuti oleh Mayor Sunandar Priyosudarmo, komandan batalion perang yang bermarkas di Badas, akhirnya bermarkas di Sidomulyo,” kata Hendro.
Perjalanan sekolah teknik tersebut berlangsung selama puluhan tahun hingga akhirnya pada 1993 berubah menjadi SMP Negeri 4 Pare seperti yang dikenal saat ini.
Warisan sejarah itu kini dirawat melalui museum mini yang berada di lingkungan sekolah. Museum tersebut menjadi ruang untuk menyimpan dan mengenalkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan sekolah serta sejarah TGP kepada generasi muda.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 4 Pare Puji Sriani mengatakan, siswa dilibatkan dalam menjaga kebersihan dan lingkungan museum. Salah satunya melalui kegiatan Jumat Bersih yang dilakukan secara berkala.
“Kalau setiap Jumat ke pertama, ketiga itu ada Jumat bersih. Lah ini anak-anak kita ajak ke sana untuk membersihkan museum dan sekitarnya,” ujarnya.
Bangunan lama sekolah juga masih dipertahankan karena disebut memiliki nilai sejarah dan termasuk situs sejarah serta cagar budaya. Karena itu, perubahan terhadap bangunan tersebut tidak dapat dilakukan sembarangan.
Sementara ruang museum di bagian belakang merupakan bangunan yang relatif baru. Pengembangan museum mulai dilakukan pada 2024 dan pembangunan ruang museum dilanjutkan pada 2025.
Sebelum memiliki ruang khusus, benda-benda bersejarah sekolah disimpan di ruang kelas maupun bengkel. Keterbatasan tempat membuat koleksi tersebut belum dapat ditata dalam satu ruang khusus.
Kini, keberadaan museum juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi siswa. Dengan jumlah sekitar 1.006 siswa, sekolah berupaya mengenalkan sejarah TGP dan perjalanan sekolah agar para pelajar memahami nilai penting peninggalan tersebut.
“Sampai sekarang ini kita masukkan di materi pelajaran ini kan lewat kokurikuler. Ini untuk kelas 7 ini sudah mulai kita perkenalkan tentang sejarah TGP yang ada di sekolah kita,” imbuhnya.
Pengunjung museum saat ini masih didominasi rombongan sekolah. Pihak SMPN 4 Pare berharap keberadaan museum mini tersebut dapat semakin dikenal masyarakat, khususnya warga Pare dan Kabupaten Kediri.
“Harapannya itu. Ya mungkin kita bisa berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata nggih untuk memperkenalkan ini. Salah satunya memperkenalkan ke paling tidak generasi penerus mengetahui kalau di SMP 4 ada sejarah,” pungkasnya.
Keberadaan SMPN 4 Pare menunjukkan bahwa bangunan pendidikan tidak selalu hanya menyimpan cerita tentang proses belajar mengajar. Sejarah sekolah tersebut juga merekam perubahan zaman, kepentingan pendidikan pada masa kolonial, perkembangan teknologi, hingga keterlibatan pelajar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Kini, tantangannya adalah memastikan jejak sejarah tersebut tidak berhenti sebagai koleksi museum. Pelibatan siswa dalam kegiatan kokurikuler dan perawatan lingkungan menjadi salah satu upaya agar generasi penerus memahami bahwa sekolah yang mereka tempati memiliki perjalanan panjang dalam sejarah Kabupaten Kediri. [nm/aje]




