REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Upaya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda memaksakan monopoli perdagangan di Indonesia Timur mendapat perlawanan keras dari Kerajaan Gowa. Di bawah Sultan Alauddin raja Gowa ke-14, kerajaan tersebut menolak tekanan VOC yang hendak membatasi kebebasan orang-orang Makassar berdagang hingga ke Maluku dan Banda. Sikap tegas Sultan Alauddin bahkan tercermin dalam pernyataannya bahwa larangan berdagang sama saja dengan “mengambil nasi dari mulut orang lain.”
Dalam catatan sejarah, usaha Belanda atau VOC untuk mengadakan hubungan dagang dengan Gowa sudah dimulai tahun 1601 dan disusul tahun 1607, tetapi selalu ditolak oleh raja Gowa. Dengan berbagai cara, VOC tetap berusaha untuk menjalankan hak monopoli dagangnya, termasuk di kawasan Indonesia Timur.
Baca Juga
Pertamina Peduli, Salurkan Energi Kebaikan untuk Menguatkan 700 Warga Terdampak Gempa di Maumere
Gempa Susulan di NTT Capai 1.624 Kali, BMKG Catat 23 Gempa di Atas M5
HUT ke-81 RI, Menaker: Hilirisasi Butuh Pekerja Kompeten
Sejak VOC terbentuk tahun 1602, beberapa tahun kemudian sudah diadakan hubungan dagang di Indonesia Barat, khususnya di Jawa. Tetapi di Indonesia Timur barulah Maluku, sedangkan Kerajaan Gowa masih sulit untuk dihadapi.
Tahun 1615, semasa pemerintahan Sultan Alauddin, Belanda atau VOC mengulangi lagi usahanya untuk mengadakan kontak dengan Gowa. Kapal dagang Belanda Enkhuysen berlabuh di bandar Sombaopu. Seorang Belanda bernama Abraham Sterck tidak mendapat perlakuan layak dari orang Makassar, ia kembali ke kapal melaporkan hal tersebut kepada kapten kapal, yaitu Dirck de Vries.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Tipu Muslihat VOC
Merespon peristiwa tersebut, pihak Belanda atau VOC mengadakan tipu muslihat dengan mengundang beberapa orang bangsawan dan pembesar Kerajaan Gowa untuk beramah-tamah dengan Belanda di atas kapal.
Ternyata setelah berada di atas kapal, orang-orang Gowa tersebut dilucuti senjatanya. Mereka tidak mau menyerah begitu saja, sehingga terjadilah perkelahian yang membawa korban bagi kedua belah pihak.
Karena kekuatan yang tidak seimbang, perlawanan orang Gowa di kapal Belanda dapat dipatahkan dan beberapa di antaranya dibawa ke Jawa sebagai tawanan VOC.