Jakarta (ANTARA) - Obor Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan memulai perjalanan dari Tokyo pada Selasa (18/8), sebelum dibawa mengelilingi 40 pemerintah daerah di Prefektur Aichi menuju upacara pembukaan pada 19 September.
Dilansir laman Dewan Olimpiade Asia (OCA), Senin, obor tersebut dirancang dengan mengangkat semangat monozukuri atau budaya manufaktur yang menjadi karakter Aichi-Nagoya sebagai salah satu kawasan industri utama Jepang.
Karakter industri itu terlihat dari desain obor yang menggunakan tekstur logam serta menampilkan unit pembakar di bagian dalam. Mekanisme tersebut sengaja tidak ditutupi untuk memperlihatkan struktur dan teknologi yang digunakan.
Bagian pegangan obor berbentuk pilar segi delapan yang terinspirasi karakter kanji angka delapan. Bentuk tersebut melambangkan harapan terhadap perkembangan, perluasan kemungkinan, dan kemakmuran pada masa depan.
Baca juga: WNI di Jepang jadi relawan kontingen dalam Asian Games 2026
Desain obor juga memasukkan unsur huruf “a” yang mewakili Aichi dan “N” untuk Nagoya.
Obor diperkenalkan dalam rangkaian hitung mundur 100 hari menuju Asian Games pada 11 Juni dengan mengusung konsep “A Uniting Flame for All”.
Rangkaian perjalanan api dimulai dengan upacara penyalaan di National Stadium, Tokyo, pada 18 Agustus. Tokyo dipilih karena menjadi kota pertama di Jepang yang menjadi tuan rumah Asian Games pada 1958.
Api berikutnya akan dinyalakan di Hiroshima Peace Memorial Park pada 20 Agustus. Hiroshima merupakan tuan rumah Asian Games 1994.
Api dari Tokyo dan Hiroshima kemudian dibawa menuju Nagoya Castle pada 22 Agustus untuk disatukan dengan api yang dinyalakan di Aichi-Nagoya.
Baca juga: Anggaran pelatnas Asian Games 2026 naik jadi Rp222 miliar
Penyatuan ketiga api tersebut menandai dimulainya estafet obor yang akan menjangkau 40 pemerintah daerah di Prefektur Aichi melalui dua rute dengan melibatkan sekitar 1.000 pelari.
Selain estafet utama, panitia juga menggelar estafet di 14 sekolah pada 7-15 September sebagai bagian dari upaya melibatkan masyarakat dalam rangkaian menuju Asian Games.
Perjalanan obor kemudian berakhir pada upacara pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya pada 19 September.
Asian Games ke-20 berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober dengan mempertandingkan 43 cabang olahraga.
Aichi-Nagoya menjadi tuan rumah ketiga Asian Games di Jepang setelah Tokyo pada 1958 dan Hiroshima pada 1994, sekaligus menandai kembalinya pesta olahraga terbesar Asia tersebut ke Jepang setelah 32 tahun.
Baca juga: Absen dalam Asian Games 2026, loncat indah bidik SEA Games 2027
Baca juga: Tim pendahulu petakan tantangan arena dan transportasi Asian Games
Dilansir laman Dewan Olimpiade Asia (OCA), Senin, obor tersebut dirancang dengan mengangkat semangat monozukuri atau budaya manufaktur yang menjadi karakter Aichi-Nagoya sebagai salah satu kawasan industri utama Jepang.
Karakter industri itu terlihat dari desain obor yang menggunakan tekstur logam serta menampilkan unit pembakar di bagian dalam. Mekanisme tersebut sengaja tidak ditutupi untuk memperlihatkan struktur dan teknologi yang digunakan.
Bagian pegangan obor berbentuk pilar segi delapan yang terinspirasi karakter kanji angka delapan. Bentuk tersebut melambangkan harapan terhadap perkembangan, perluasan kemungkinan, dan kemakmuran pada masa depan.
Baca juga: WNI di Jepang jadi relawan kontingen dalam Asian Games 2026
Desain obor juga memasukkan unsur huruf “a” yang mewakili Aichi dan “N” untuk Nagoya.
Obor diperkenalkan dalam rangkaian hitung mundur 100 hari menuju Asian Games pada 11 Juni dengan mengusung konsep “A Uniting Flame for All”.
Rangkaian perjalanan api dimulai dengan upacara penyalaan di National Stadium, Tokyo, pada 18 Agustus. Tokyo dipilih karena menjadi kota pertama di Jepang yang menjadi tuan rumah Asian Games pada 1958.
Api berikutnya akan dinyalakan di Hiroshima Peace Memorial Park pada 20 Agustus. Hiroshima merupakan tuan rumah Asian Games 1994.
Api dari Tokyo dan Hiroshima kemudian dibawa menuju Nagoya Castle pada 22 Agustus untuk disatukan dengan api yang dinyalakan di Aichi-Nagoya.
Baca juga: Anggaran pelatnas Asian Games 2026 naik jadi Rp222 miliar
Penyatuan ketiga api tersebut menandai dimulainya estafet obor yang akan menjangkau 40 pemerintah daerah di Prefektur Aichi melalui dua rute dengan melibatkan sekitar 1.000 pelari.
Selain estafet utama, panitia juga menggelar estafet di 14 sekolah pada 7-15 September sebagai bagian dari upaya melibatkan masyarakat dalam rangkaian menuju Asian Games.
Perjalanan obor kemudian berakhir pada upacara pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya pada 19 September.
Asian Games ke-20 berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober dengan mempertandingkan 43 cabang olahraga.
Aichi-Nagoya menjadi tuan rumah ketiga Asian Games di Jepang setelah Tokyo pada 1958 dan Hiroshima pada 1994, sekaligus menandai kembalinya pesta olahraga terbesar Asia tersebut ke Jepang setelah 32 tahun.
Baca juga: Absen dalam Asian Games 2026, loncat indah bidik SEA Games 2027
Baca juga: Tim pendahulu petakan tantangan arena dan transportasi Asian Games





