Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) mencatat jumlah korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan M 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai 54 orang pada Senin (17/8). Sementara, pendataan korban luka-luka masih berjalan secara dinamis.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto telah meminta pemerintah daerah melakukan pendataan kerusakan secara paralel dan berjenjang, tanpa menunggu data rampung 100%. Menurutnya, ini membantu agar intervensi perbaikan dapat cepat dieksekusi.
"Pendataan rumah masyarakat yang rusak, baik rusak ringan, sedang, maupun berat menjadi prioritas utama kami. Kerusakan fasilitas umum seperti kantor bupati menjadi prioritas berikutnya setelah pemukiman warga terpenuhi," kata Suharyanto, dikutip dari keterangan resmi, Senin (17/8).
Dia juga menjelaskan Posko Nasional di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, telah menampung dan menyalurkan bantuan logistik. Bantuan ini diteruskan ke dua posko utama di NTT, yaitu Posko Labuan Bajo dan Maumere.
Logistik dari Posko Utama Labuan Bajo dikerahkan untuk melayani wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Sementara Posko Maumere melayani Kabupaten Sikka, Ende, dan Nagekeo.
Untuk menembus kendala geografis dan wilayah terisolir, BNPB bersama unsur gabungan menyiagakan armada darat, laut, dan udara secara maksimal. Pada jalur udara, disiagakan enam pesawat di Labuan Bajo dan lima pesawat di Maumere, termasuk helikopter pendukung untuk evakuasi medis darurat.
Sementara pada jalur darat, dilakukan mobilisasi truk-truk logistik ukuran besar di titik-titik penyaluran utama, yang didukung pula oleh pengoperasian kapal Pelni dan kapal feri pada jalur laut menuju wilayah kepulauan seperti Pulau Palue.
Pembaruan data BNPB terakhir pada Minggu (16/8) 21.00 WIB juga mencatat ada 199 orang luka-luka, 9.963 orang mengungsi, dan 1.528 keluarga terdampak gempa NTT.




