Warga Kota yang Lelah "Terimpit" di Hari Kemerdekaan

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Kepadatan terjadi di sejumlah fasilitas transportasi umum di Jakarta. Mulai dari Halte Transjakarta di Gambir, hingga Stasiun Juanda, Jakarta Pusat, dipenuhi penumpang yang membeludak. Mereka hendak pulang setelah menikmati Pesta Rakyat di Monas. Hiburan kecil itu seakan menjadi penghapus peluh di tengah kehidupan ekonomi yang kian berat bagi warga Jakarta.

Ahmad (52), warga Kota Tua, Jakarta Barat, menggendong cucunya di atas bahu. Dia harus terimpit di tengah ratusan orang yang membeludak saat memasuki Stasiun Juanda, Senin (17/8/2026). Ahmad dan lima anggota keluarganya baru saja menghadiri Pesta Rakyat yang digelar di Monas. Di sana, Ahmad melihat atraksi dirgantara dan menikmati sejumlah makanan yang dibagikan secara gratis.

”Mumpung hari libur, kita jalan-jalan bersama keluarga,” ujar Ahmad. Namun dia tidak menyangka antusiasme warga menghadiri perhelatan itu sangat tinggi. ”Padahal tadi pagi tidak seramai ini, sekarang membeludak hingga kami sulit melangkah,” ujarnya.

Baca JugaHUT Ke-81 RI, Lalu Lintas Direkayasa dan Tarif Angkutan Rp 8

Tak ayal, petugas di Stasiun Juanda harus mengatur arus penumpang agar tidak terjadi kepadatan di area peron. Mekanisme buka tutup di pintu masuk dan tangga stasiun menjadi salah satu cara mengatur kepadatan di stasiun. ”Jangan dorong-dorong ya pelan-pelan saja,” teriak petugas menggunakan pengeras suara.

Dari antara penumpang ada yang meminta penumpang lain agar tidak mendorong. ”Ada anak balita dan lansia di sini. Tolong jangan dorong-dorong,” pinta salah satu penumpang kepada penumpang lain.

Sigit (37) juga harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari Monas menuju Stasiun Juanda. Menurutnya jalan kaki menjadi solusi tercepat daripada harus menunggu di halte Transjakarta yang juga padat dengan pengunjung yang baru pulang dari Monas. "Kalau menunggu di halte (Trans Jakarta), sampai ke stasiun bisa sore," kata warga Pasar Minggu itu.

Tingginya antusiasme warga menggunakan transportasi umum karena adanya program Rp 8 untuk peringatan hari Kemerdekaan RI yang ke 81 tahun.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan, untuk melengkapi perayaan HUT RI tahun ini, KAI Commuter juga memberlakukan tarif promo Rp 8 pada seluruh perjalanan Commuter Line Jabodetabek sepanjang hari khusus pada 17 Agustus 2026. ”Pengguna Commuter Line Jabodetabek yang ingin menikmati layanan ini tinggal datang ke stasiun dan tap-in menggunakan KMT dengan saldo minimal Rp5.000,” katanya.

Sejak awal, pengelola sudah memprediksi pada HUT RI ini akan terjadi lonjakan pengguna Commuter Line Jabodetabek di stasiun-stasiun yang berlokasi di pusat perayaan seperti Stasiun Juanda, Gondangdia, dan Sudirman. Untuk itu, KAI Commuter mengoperasikan 1.065 perjalanan Commuter Line yang seharusnya hanya 1.032 perjalanan pada hari libur.

KAI Commuter juga akan menambah petugas pengamanan dan pelayanan serta fasilitas layanan tambahan di stasiun-stasiun tersebut. KAI Commuter juga akan memberlakukan penyekatan dan pengaturan antrean menuju area peron stasiun jika terjadi lonjakan dan penumpukan pengguna di area peron.

Baca JugaKemerdekaan untuk Siapa?

KAI Commuter mengingatkan kembali bagi pengguna Commuter Line Jabodetabek yang membawa anak minimal usia 3 tahun atau tinggi minimal 90 cm sudah diwajibkan untuk membeli tiket. Anak-anak diminta agar selalu diawasi selama perjalanan dan keselamatan diutamakan.

”Bagi pengguna yang menunggu di area peron, selalu dahulukan pengguna yang akan keluar, serta berdiri tidak melewati garis aman dan menghalangi pengguna yang akan keluar dari dalam Commuter Line,” kata Karina.

Hidup yang terimpit

Acara Pesta Rakyat memang menjadi salah satu hiburan warga di tengah sulitnya hidup saat ini. "Di tengah harga kebutuhan yang melonjak, makan dan hiburan gratis menjadi pilihan untuk melepas penat," kata Sigit.

Selama 12 tahun tinggal di Jakarta, acara makan dan hiburan gratis baru terealisasi di pemerintahan Presiden Prabowo. Namun, menurut Sigit, ada yang jauh lebih penting dari itu yakni memastikan seluruh kebutuhan pokok dapat dijangkau oleh masyarakat. ”Sekarang apa-apa mahal,” ujarnya.

Dia juga meminta agar budaya korupsi dapat dihentikan. "Saya sudah lelah mendengar berita pejabat korupsi. Seakan-akan mereka tidak memiliki empati terhadap rakyatnya sendiri," ucap Sigit.

Namun sebagai rakyat kecil, Sigit menyadari, dia tidak bisa berbuat banyak. "Kita tinggal berdoa agar Tuhan bisa mengubah Indonesia," kata ayah satu anak ini.

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengingatkan arti kemerdekaan itu di dalam upacara peringatan HUT Ke-81 RI di Balai Kota Jakarta pada Senin (17/8/2026). Warisan pendiri ataupun pejuang bangsa tak hanya dikenang dan dirayakan, tetapi juga dimaknai sebagai amanah yang harus dijaga dan diisi dengan kerja nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

”Kemerdekaan hari ini bukan lagi tentang pertempuran fisik dengan mengangkat senjata, melainkan tentang menurunkan ego untuk saling mendengar, bekerja bersama,” kata Pramono.

Kemerdekaan tak sekadar sorak-sorai perayaan. Ada amanah yang menuntut langkah nyata, bukan untaian wacana.

”Mari ambil peran sekecil apa pun untuk bersama-sama membangun kemajuan Jakarta demi masa depan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Pramono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tepuk Tangan Menggema Usai Paskibraka Sukses Kibarkan Merah Putih di Istana
• 10 jam laluliputan6.com
thumb
Pernah Dipenjara Gegara Kasus Ijazah, Tokoh Agama Ini Siapkan ‘Serangan Balik’ ke Jokowi
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tak Hadir di Istana, Megawati Pimpin Upacara HUT RI di Sekolah Partai PDIP
• 13 jam laludetik.com
thumb
Sambut Pesta Rakyat HUT Ke-81 RI, Antrean Panjang Hiasi Area Stasiun Juanda
• 8 jam laludisway.id
thumb
Contoh Naskah Doa Resmi Kemenag Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang Khidmat, Menyentuh, dan Penuh Harapan
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.