Untuk pertama kalinya, kompleks Gedung Sate di Kota Bandung menjadi ruang bersama warga Jawa Barat untuk merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Di kawasan yang baru ditata itu, jarak antara masyarakat dan pusat pemerintahan terasa lebih dekat.
Sejak Senin (17/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB, ribuan warga berdatangan ke halaman Gedung Sate. Mereka ingin menjadi saksi upacara HUT RI untuk pertama kalinya digelar di halaman Gedung Sate, yang wajahnya baru saja usai didandani.
Halaman Gedung Sate kini terhubung dengan Lapangan Gasibu setelah Pemerintah Provinsi Jabar menatanya. Sebelumnya, kedua area itu dipisahkan Jalan Diponegoro sepanjang 130 meter.
Ada juga sepasang candi bentar di ujung bekas Jalan Diponegoro. Candi bentar adalah sejenis gapura berbentuk dua bangunan kembar yang serupa, sebangun, dan simetris. Gerbang ini tidak memiliki atap penghubung di bagian atasnya sehingga tampak terbelah dua.
Penataan dikerjakan sejak April 2026 dengan anggaran Rp 15,8 miliar. Proyek tersebut selesai bertepatan dengan pelaksanaan upacara kemerdekaan tahun ini.
Sebelum penataan, upacara bendera peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia selalu terselenggara di Lapangan Gasibu. Akibatnya, peringatan momen bersejarah itu selalu berlatarbelakang salah satu hotel di area Jalan Diponegoro.
Kini setelah ditata, lapisan aspal di halaman Gedung Sate berganti batu andesit. Rupanya mirip permukaan Jalan Braga, ikon destinasi wisata Kota Bandung. Tidak hanya itu, bangunan Gedung Sate juga dipoles lebih segar. Tubuh bangunan yang rampung dibangun tahun 1924 ini terlihat putih bersih.
Wajah baru itu juga yang membuat warga tak langsung pulang usai upacara bendera. Mereka memilih menyusuri halaman yang baru ditata itu sambil mengabadikan suasana dengan berswafoto. Kali ini, Gedung Sate menjadi latar foto mereka pada perayaan HUT RI ke-81.
Salah satu warga yang menyaksikan upacara di halaman Gedung Sate adalah Ilma Fauzia (35), warga Cijerah, Kota Bandung. Dia datang bersama suami dan anaknya.
“Kami berangkat dari rumah di Cijerah pukul 06.00 WIB dan tiba sekitar sejam kemudian. Kami tidak mau terlambat melihat langsung upacara di halaman Gedung Sate,” ungkap Ilma.
Ia sangat senang bisa merasakan langsung upacara bendera di halaman Gedung Sate untuk pertama kalinya. Bagi Ilma, penataan halaman gedung bersejarah itu membuat warga lebih dekat dengan rangkaian kegiatan upacara tersebut.
“Alhamdulillah baru pertama kali saya bisa melihat lebih langsung upacaranya di tempat ini. Tidak ada jarak antara warga dan pejabat,” tutur Ilma.
Andi (32), warga Cimindi, Kota Bandung, juga datang bersama istri dan dua anak perempuannya. Ia menyambut penataan halaman Gedung Sate karena masyarakat dapat merasakan langsung suasana peringatan kemerdekaan di kawasan tersebut.
“Suasananya sangat meriah. Saya dan keluarga bisa melihat defile militer dengan pemandangan Gedung Sate secara lebih dekat,” ucapnya.
Suasana serupa dirasakan Hai Ping (37), wisatawan asal China, yang turut menyaksikan perayaan HUT kemerdekaan ke-81 RI di halaman Gedung Sate, seperti kirab bendera merah putih hingga defile militer.
Ia melihat kompleks Gedung Sate sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat dan pejabat dalam suasana perayaan kemerdekaan.
“Tempatnya sangat indah dan bagus untuk dikunjungi wisatawan,” katanya.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, penataan halaman Gedung Sate mendapat beragam tanggapan dari masyarakat. Ia mengapresiasi warga yang mendukung maupun yang memberi masukan atas penataan kawasan tersebut.
Ia menyebut halaman yang baru ditata itu dengan nama Pesanggrahan Pancarasa. Nama tersebut berarti ruang berkumpul sekaligus lima indera yang dimiliki manusia.
“Hatur nuhun (terima kasih) bagi warga yang merespons positif penataan halaman Gedung Sate dan juga bagi warga yang memberi kritik. Tempat ini saya sebut sebagai Pesanggrahan Pancarasa,” ucapnya yang akrab disapa KDM itu.
Menurut KDM, kawasan tersebut mulai dibuka untuk masyarakat pada Senin ini. Ia berharap warga turut menjaga fasilitas yang tersedia, termasuk hamparan rumput yang baru ditata.
“Penggunaan ruang publik ini (halaman Gedung Sate) merupakan tanggung jawab bersama. Tempatnya sudah dibuka untuk umum bagi warga. Tapi ingat, rumputnya jangan diinjak ya,” katanya.
Keterbukaan Gedung Sate itu menjadi babak baru bagi bangunan yang sejak awal pembangunannya telah dirancang sebagai simbol penting pemerintahan di Bandung.
Gedung Sate awalnya dirancang sebagai bagian dari rencana pemindahan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Gedung yang semula bernama Gouvernements Bedrijven itu disiapkan untuk menampung sejumlah kantor pemerintahan. Namun, rencana tersebut urung terlaksana akibat krisis ekonomi.
J Gerber dari Landsgebouwendienst terpilih sebagai arsitek. Ia menawarkan konsep Indo-Eropa yang memadukan arsitektur Barat dengan unsur lokal. Paduan itu terlihat pada bentuk atap yang menyerupai pura di Bali, ornamen sisik ikan khas Sunda, serta pengaruh gaya Spanyol dan Italia.
Catnya kami sesuaikan dengan standar sesuai ketentuan Balai Pelestari Kebudayaan Kementerian Kebudayaan
Belakangan, bangunan itu lebih dikenal sebagai Gedung Sate karena ornamen enam bulatan yang menyerupai tusuk sate di bagian puncak. Arsitek kenamaan Belanda, Hendrik Petrus Berlage, bahkan memuji Gedung Sate sebagai salah satu bangunan terindah di Bandung.
Keaslian bangunan juga menjadi pertimbangan dalam penataan dan perawatan Gedung Sate. Pemilihan cat dan bahan bangunan untuk renovasi disesuaikan dengan prinsip konservasi agar pembaruan tidak menghilangkan karakter asli bangunan bersejarah tersebut.
”Untuk penataan kali ini, catnya kami sesuaikan dengan standar sesuai ketentuan Balai Pelestari Kebudayaan Kementerian Kebudayaan,” kata KDM.
Namun, keunggulan Gedung Sate tidak hanya terletak pada arsitekturnya. Bangunan ini juga menunjukkan sejumlah inovasi konstruksi yang membuatnya relatif tangguh menghadapi guncangan.
Ahli geografi T Bachtiar mengatakan, pemilihan lokasi menjadi salah satu bagian penting. Gedung Sate berdiri pada ketinggian sekitar 725 meter di atas permukaan laut, sekitar 75 meter lebih tinggi dibandingkan titik tertinggi Danau Bandung Purba yang memiliki lapisan tanah lebih labil.
Lahannya juga berada di kawasan yang mengalami pengerasan material akibat letusan Gunung Tangkubanparahu pada 90.000-40.000 tahun lalu. Kondisi geologi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung kestabilan bangunan, terutama saat menghadapi ancaman gempa bumi.
Peta Rencana Pembangunan Gedung Sate 1920 menunjukkan penggunaan tangga batu sebagai fondasi. Struktur tersebut dirancang agar bangunan tetap memiliki kelenturan ketika menerima guncangan vertikal maupun horizontal.
Prinsip serupa dapat ditemukan pada sejumlah bangunan tradisional masyarakat Sunda, termasuk rumah adat Ciptagelar di Sukabumi dan Kampung Kuta di Ciamis.
”Bentuk simetris dan banyak pilar besar tidak cuma hiasan, tetapi juga menyalurkan daya gempa secara merata,” kata Bachtiar.
Teknik beton bertulang juga digunakan untuk memperkuat konstruksi. Dinding dibuat dengan ketebalan dua bata, sementara batu andesit dari Ujungberung digunakan sebagai pelapis.
Sudarsono Katam dalam Gedung Sate Bandung mencatat, penggunaan beton bertulang merupakan teknologi yang relatif baru pada masa itu. Penerapannya menunjukkan bahwa pembangunan Gedung Sate tidak hanya mengejar keindahan, tetapi juga memperhitungkan kekuatan dan ketahanan bangunan.
Lebih dari seabad kemudian, Gedung Sate tetap berdiri sebagai salah satu penanda Kota Bandung. Arsitekturnya menjadi warisan visual menyesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Jika dahulu dirancang sebagai pusat pemerintahan, halaman barunya kini menjadi ruang bagi warga untuk datang, berkumpul, bahkan merayakan kemerdekaan negeri ini.





