Bayangan Pulau Palue yang samar-samar semakin jelas terlihat setelah empat jam Kapal Motor Penyeberangan Ile Ape berlayar membelah Laut Flores ke arah barat, Senin (17/8/2026) petang. Sarcan Pali (24) melongok melalui jendela kapal, menghitung sisa waktu pelayaran menuju pulau tempat ia dilahirkan.
”Satu jam lagi,” ujarnya.
Sekitar lima jam waktu yang dibutuhkan kapal milik PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) itu untuk berlayar dari Pelabuhan Kewapante di Pulau Flores menuju Palue. Kewapante dan Palue sama-sama berada di wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Ini bukan perjalanan biasa bagi Sarcan. Perjalanan ini dipenuhi tanda tanya mengenai nasib keluarganya di Palue yang hingga kini belum diketahui secara pasti. Palue terisolasi hingga hari ketiga setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Laut Flores mengguncang pada Sabtu (15/8/2026). Gempa itu sempat memicu peringatan dini tsunami.
Pusat gempa berada di sisi barat Palue, tak jauh dari pulau kecil seluas sekitar 40 kilometer persegi itu. Guncangan gempa terasa hingga ratusan kilometer. Di Palue, guncangannya begitu kuat dan melumpuhkan. Jaringan listrik putus, sinyal telekomunikasi hilang, dan pelayaran sempat dihentikan.
Kondisi itu membuat Sarcan tidak mengetahui secara pasti nasib keluarganya. Saat gempa terjadi, ia sedang berada di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, untuk suatu urusan. ”Semoga Bapak dan mereka semua baik-baik saja,” ujarnya.
Dalam dua hari terakhir, perlahan informasi dari Palue mulai tersiar. Akibat gempa itu, satu orang meninggal, dua orang luka berat, dan puluhan lainnya luka ringan. Rumah yang rusak mencapai ratusan unit. Kabar tersebut membuat semakin banyak orang mencari informasi tentang Palue dan terdorong untuk datang membantu.
Salah satunya bermula dari kabar Nestor Langga. Pria berusia 40 tahun itu menghubungi Kompas pada Minggu (16/8/2026) pagi. ”Sinyal hilang karena listrik padam. Kami baru hidupkan genset (generator set) sehingga baru bisa kontak keluar,” katanya.
Ia menuturkan, gempa pada Sabtu pagi terasa sangat kuat. Pulau itu berada paling dekat dengan titik gempa di Laut Flores. Gempa utama diikuti ratusan gempa susulan. Hingga ia memberi kabar, gempa susulan masih terus berlangsung.
Gempa merusak pemancar sinyal serta jaringan listrik. Akibatnya, komunikasi antardesa di Palue juga terputus. Di pulau itu terdapat delapan desa. Nestor berasal dari Desa Rokirole.
Ia melaporkan, di desanya satu orang meninggal dan dua orang terluka. Puluhan rumah rusak. ”Kalau seluruh desa di Palue belum kami ketahui. Sinyal putus, jalan antardesa juga tertutup longsor,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan bahan makanan. Warga saat itu terisolasi lantaran kapal yang dijadwalkan berlayar ke sana dibatalkan setelah peringatan dini tsunami. Secara khusus, ia meminta PLN segera menormalisasi jaringan listrik di Palue.
Kabar dari Nestor turut mendorong perhatian pemerintah ke pulau tersebut. Tim pertama berangkat pada Minggu petang dan tiba pada malam hari. Dari sana terungkap dampak kerusakan yang cukup parah. Satu orang meninggal, dua orang luka berat, ratusan rumah rusak, dan ribuan warga belum mendapatkan bantuan.
Wakil Kepala Polres Sikka Komisaris Marselus Yugo Amboro, Senin pagi, mengatakan, kondisi jalan menuju permukiman warga rusak parah. ”Jalanan mendaki. Banyak longsor. Menyerempet maut,” kata Yugo melalui pesan singkat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, tim mencapai Desa Nitung, Kecamatan Palue. Jumlah penduduk desa itu 2.018 jiwa. Di Palue terdapat delapan desa dengan jumlah penduduk tercatat 10.728 jiwa.
Yugo bersama rombongan membawa 230 paket bantuan untuk warga di desa tersebut. ”Dari kondisi lapangan, dukungan personel serta bantuan perlu ditambah lagi ke Palue,” kata Yugo.
Menurut rencana, bantuan tambahan kembali dikirimkan ke sana pada Senin.
Pada Senin siang, rombongan tenaga kesehatan berangkat menggunakan kapal cepat. Ada pula rombongan dari kementerian. Senin petang, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Ile Ape yang ditumpangi Kompas akhirnya tiba dan bersandar di pesisir Palue. Kapal itu mengangkut empat truk berisi bantuan.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengajak semua pihak bergotong royong dan bahu-membahu menghadapi musibah tersebut. Pemerintah, dengan berbagai kewenangan dan sumber daya yang dimiliki, akan berupaya semaksimal mungkin.
”Namun, pemerintah punya keterbatasan sehingga mari kita sama-sama bergandengan tangan,” ujarnya.
Hingga Minggu malam, jumlah korban meninggal mencapai 55 orang dan ratusan lainnya terluka.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Minggu malam, jumlah korban meninggal mencapai 55 orang dan ratusan lainnya terluka. Data tersebut masih terus diperbarui karena masih ada daerah yang terisolasi.
Gempa Flores memantik kepedulian dari berbagai pihak untuk datang membantu, terutama masyarakat di daerah terpencil yang masih jauh dari sentuhan bantuan. Kini giliran Palue yang mulai dijangkau. Di tempat lain, masih ada warga yang menanti uluran tangan.





