Houston: Harga minyak mentah dunia menguat lebih dari dua persen pada perdagangan Senin waktu setempat. Kenaikan dipicu meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan di tengah ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan klaim kendali AS atas jalur pelayaran strategis tersebut. Trump juga mengancam Oman dengan tindakan militer jika negara itu dinilai menghambat upaya Washington dalam pembicaraan terkait pengelolaan Selat Hormuz. Perkembangan tersebut turut meningkatkan premi risiko di pasar minyak.
Mengutip Investing.com, Selasa, 18 Agustus 2026, minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Oktober, yang menjadi patokan harga minyak global, naik 2,5 persen menjadi USD90,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 2,7 persen menjadi USD83,64 per barel.
Data penutupan perdagangan yang dilaporkan menunjukkan Brent berakhir di USD90,87 per barel, sedangkan WTI ditutup pada USD84,50 per barel. Kinerja tersebut melanjutkan penguatan pada pekan sebelumnya. Harga Brent naik hampir enam persen, sementara WTI menguat lebih dari 5,5 persen.
Baca Juga :
Harga Minyak Brent Tembus USD88,62/Barel, Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian PasarKenaikan harga minyak terjadi ketika upaya diplomasi AS dan Iran menghadapi kebuntuan. Nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran pada pertengahan Juni berakhir pada Senin setelah sebelumnya mengalami keretakan pada Juli.
Trump menyatakan tidak berupaya memperpanjang kesepakatan tersebut. Kondisi ini menambah ketidakpastian terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting dalam perdagangan energi global.
Trump pada Senin kembali menyatakan AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Teheran juga mengklaim kendali atas jalur tersebut dan meminta sejumlah persyaratan dipenuhi sebelum selat dibuka kembali.
"Kami mengendalikannya dengan blokade," kata Trump, merujuk pada blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump sebelumnya juga menyatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS. Ketika kembali ditanya mengenai pernyataan tersebut, ia menyatakan mendukung gagasan itu. "Kami mengeluarkan jutaan barel minyak setiap minggu," tambah dia.
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Lalu lintas kapal di Hormuz menurun
Klaim mengenai lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz berbanding terbalik dengan data pergerakan kapal. Data Kpler menunjukkan hanya tiga kapal yang terkonfirmasi melintasi selat tersebut pada Minggu. Secara keseluruhan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada pekan lalu turun 19,5 persen menjadi 95 kapal.
Sebelum konflik berlangsung, lebih dari 130 kapal tercatat melintasi jalur tersebut setiap hari. Reuters juga melaporkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam akibat konflik dan ketidakpastian keamanan.
Di sisi lain, Iran berupaya menyusun kerangka pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman. Oman selama ini terlibat dalam upaya diplomasi antara Washington dan Teheran.
Pada akhir pekan, Menteri Luar Negeri Iran kembali menegaskan posisi Teheran yang menyatakan tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan AS. Washington, di sisi lain, memperingatkan akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Fox News pada Senin mengutip pernyataan Trump yang mengancam tindakan militer terhadap Oman jika negara tersebut dinilai menghambat upaya penyelesaian persoalan Selat Hormuz. Reuters dan Financial Times juga melaporkan Trump memberikan peringatan terhadap Oman di tengah kebuntuan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.




