Sekitar lima jam berlayar, Kapal Motor Penyeberangan Ile Ape akhirnya tiba di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/8/2026) pukul 17.30 Wita. Pulau itu berada di tengah Laut Flores. Letaknya tidak jauh dari episentrum gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Beberapa warga berdiri di pelabuhan menyambut orang-orang yang datang dengan wajah sendu, tetapi penuh harapan. Sudah memasuki hari ketiga, hampir seluruh warga di Palue belum tersentuh bantuan. Di pulau itu terdapat delapan desa dengan jumlah penduduk sekitar 11.000 jiwa.
Nestor Langga, pria berusia 40 tahun, mengajak Kompas menyusuri jalan yang menghubungkan desa-desa di pulau itu. Permukaan jalan beton tidak rata, berlubang, dan rusak. Namun, ia menggeber sepeda motor dengan kencang. ”Harus banyak foto dan video sebelum gelap,” ujarnya.
Belum sampai 2 kilometer perjalanan, badan jalan tertimbun longsor hingga sekitar 90 persen. Hanya sepeda motor yang masih bisa melintas. Tak jauh dari lokasi itu, sebuah batu besar berdiameter hingga tiga meter terguling ke tengah jalan. Tanah longsor dan pohon tumbang juga menutup sebagian jalur.
Semakin jauh perjalanan, dampak kerusakan akibat gempa semakin terlihat. Guncangan di tempat itu terasa sangat kuat. Tanah berayun ke kiri dan kanan selama beberapa detik, lalu bergerak naik-turun dengan cepat.
”Ayun lalu gergaji,” ujar Nestor menggambarkan guncangan yang dirasakan warga.
Kompas kemudian mendatangi salah satu lokasi pengungsian. Warga berkumpul di luar rumah. Mereka masih khawatir terhadap gempa susulan yang terus meneror sejak gempa pertama pada Sabtu (15/8/2026) menjelang pukul 06.00 Wita. Gempa susulan telah terjadi ratusan kali.
Pada malam hari, terlihat warga tidur di tenda-tenda darurat yang mereka bangun sendiri. Di antara mereka terdapat balita, anak-anak, orang dewasa, dan lanjut usia.
Lewat tengah malam, Kompas kembali ke pelabuhan untuk menunggu kapal. Pelayaran kembali menuju Pelabuhan Kewapante di Pulau Flores dilakukan pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 02.30 Wita.
Lebih kurang sembilan jam digunakan untuk merekam kondisi Palue pascagempa. Perjalanan harus segera dilanjutkan kembali ke Pulau Flores karena pelayaran reguler berikutnya baru tersedia pada pekan depan.





