REPUBLIKA.CO.ID,MERAUKE — Momentum 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi saat penting untuk memperkuat kembali makna kebangsaan, termasuk memastikan masyarakat Papua merasakan kemerdekaan melalui pembangunan yang adil dan kesempatan yang setara.
Ketua Umum HMI Cabang Merauke, Irwan, mengatakan kemerdekaan Indonesia tidak cukup hanya diperingati melalui upacara dan pengibaran Merah Putih. Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan masyarakat melalui pelayanan publik, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, akses pembangunan, serta kesempatan untuk tumbuh dan menentukan masa depan.
Baca Juga
Jejak Abbasiyah di Tapanuli: Temuan Koin Dirham dan Korespondensi Sriwijaya dengan Khalifah Muawiyah
Apa Itu Kartu Kredit Indonesia? Ini Fungsi dan Cara Menggunakannya
Kanwil Ditjenpas Ajukan Amnesti untuk 1.454 Narapidana di Jabar
“Kalau kita berbicara tentang adil, bukan hanya sekadar sama rata. Keadilan lebih mengarah kepada siapa yang lebih membutuhkan,” kata Irwan dalam diskusi bertajuk Refleksi Kemerdekaan RI ke-81 yang diselenggarakan Yayasan MPSI di Merauke.
Menurut Irwan, prinsip keadilan tersebut penting dalam pembangunan Papua.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Negara memiliki tanggung jawab memastikan setiap kebijakan pembangunan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok yang secara sosial dan ekonomi masih menghadapi keterbatasan", ujarnya.
Ia menilai pembangunan Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus terus diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan sekaligus membangun rasa percaya masyarakat terhadap negara.
“Semakin negara hadir secara nyata, semakin kuat pula rasa memiliki masyarakat terhadap Indonesia,” ujarnya.
Irwan mencontohkan kondisi sebagian masyarakat Asmat yang bermukim di Merauke.
"Dari keterlibatan HMI bersama elemen Cipayung Plus dalam kegiatan sosial di lingkungan masyarakat tersebut, masih terlihat kebutuhan terhadap pendampingan dalam bidang ekonomi, pemberdayaan, pendidikan, hingga penguatan kapasitas masyarakat", tegasnya.
Menurutnya, fakta tersebut bukan alasan untuk mempertentangkan masyarakat dengan pemerintah. Sebaliknya, menjadi dorongan agar negara dan masyarakat semakin dekat dalam membangun Papua.
“Yang dibutuhkan bukan sekadar bantuan, tetapi pendampingan yang membuat masyarakat mampu berkembang dan mandiri,” katanya.
Ia menegaskan pembangunan harus menempatkan masyarakat sebagai subjek. Program pemerintah akan lebih efektif apabila dirancang dengan mendengar kebutuhan masyarakat dan melibatkan mereka sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan.
“Masyarakat jangan hanya menjadi penerima program. Mereka harus menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan. Tidak mungkin pemerintah berjalan sendiri tanpa mengetahui apa yang diinginkan rakyat,” lanjut Irwan.
Bagi Irwan, kritik dan aspirasi masyarakat juga merupakan bagian dari kecintaan terhadap Indonesia.
"Kritik yang disampaikan secara konstruktif, menurutnya, diperlukan untuk memastikan kebijakan negara semakin baik dan tepat sasaran", jelasnya.
Ia mengajak generasi muda Papua untuk tidak mengambil jarak dari proses pembangunan nasional. Mahasiswa dan pemuda harus tampil sebagai kekuatan intelektual yang kritis, konstruktif, sekaligus menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat.
“Menjadi kritis bukan berarti anti Indonesia. Justru dengan memberikan kritik yang konstruktif, kita ikut menjaga agar Indonesia semakin baik dan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Irwan mengatakan kemerdekaan ke-81 harus menjadi momentum memperkuat persatuan Indonesia dari Papua.
"Merauke, sebagai salah satu wilayah paling timur Indonesia, memiliki posisi strategis dalam memperlihatkan bahwa pembangunan nasional dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kebutuhan dan karakter masyarakat lokal", urainya.
Ia berharap pemerintah, masyarakat, mahasiswa, pemuda, tokoh adat, dan organisasi kemasyarakatan terus memperkuat kolaborasi dalam mengawal pembangunan Merauke dan Papua Selatan.
Menurutnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya diukur dari banyaknya proyek yang dibangun, tetapi dari seberapa jauh masyarakat memperoleh manfaat dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
“Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mampu memastikan seluruh rakyatnya merasakan manfaat kemerdekaan. Papua maju, masyarakat sejahtera, dan persatuan semakin kuat, itulah wajah Indonesia yang kita harapkan,” pungkas Irwan.