Bursa Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran Tekan Sentimen

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026).

Bursa Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran Tekan Sentimen. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026), di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir.

Tehran juga menyatakan akan beralih ke postur militer yang sepenuhnya ofensif, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah.

Baca Juga:
Harga Emas Naik Ditopang Pelemahan Dolar dan Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Indeks Shanghai Composite turun 0,09 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 0,79 persen, dan Straits Times Index (STI) Singapura merosot 0,95 persen. ASX 200 Australia naik tipis 0,19 persen.

Sementara itu, KOSPI Korea Selatan menguat 1,44 persen setelah pasar Seoul kembali dibuka usai libur. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 0,91 persen.

Baca Juga:
Harga Minyak Naik Lebih dari 2 Persen, Investor Khawatir Gangguan Pasokan

Kontrak berjangka S&P 500 relatif datar.

Sentimen pasar turut terbebani kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Baca Juga:
Limpahan Data Center Regional, DCII hingga DSSA Jadi Sorotan

Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 0,8 basis poin menjadi 4,728 persen, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun naik 0,6 basis poin menjadi 5,3146 persen, level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

"Biasanya, pergerakan di atas 4,65 persen untuk US Treasury 10 tahun diikuti oleh pernyataan yang menenangkan dari pemerintahan Trump, biasanya terkait penyelesaian perang dengan Iran yang segera tercapai," tulis analis ING, dikutip Reuters.

Namun, kali ini pernyataan serupa belum terdengar. Sebaliknya, indikasi terbaru menunjukkan belum ada penyelesaian dalam waktu dekat setelah gencatan senjata selama 60 hari berakhir.

Tekanan di pasar obligasi global juga merembet ke Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 2,945 persen, level tertinggi dalam tiga dekade.

Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,5 persen pada perdagangan Senin, sementara Nasdaq Composite melemah 0,3 persen.

Data ekonomi AS yang lemah, termasuk penjualan ritel yang secara tak terduga turun, membuat pasar mengurangi ekspektasi terhadap langkah suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

"Pasar secara umum berada dalam mode risk-off setelah Presiden Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Ketegangan baru di Timur Tengah mendorong harga minyak lebih tinggi dan memperumit sentimen pasar," tulis analis Westpac dalam risetnya. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pascagempa M 7,7 NTT, BMKG Kerahkan Tim Survei Makroseismik
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemerintah Siapkan Dana Otsus Rp 16,8 T pada 2027, Ada untuk Papua hingga Aceh
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Pimpin Upacara Penurunan Bendera, Wagub Surya Gaungkan Semangat Kolaborasi untuk Percepat Pembangunan Sumut
• 19 jam lalumediaapakabar.com
thumb
5 Buah Cocok Dikonsumsi Saat Cuaca Panas, Bantu Jaga Hidrasi
• 4 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Viral! Ini 4 Manfaat Kimpul yang Baik untuk Kesehatan-Tips Kesehatan
• 8 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.