13 Rumah Rusak, 1.800 Warga Selayar Mengungsi Imbas Gempa M7,7 NTT

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, SELAYAR — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), turut berdampak ke Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Sedikitnya 13 rumah warga di dua kecamatan dilaporkan rusak. Sementara sekitar 1.800 warga memilih mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi karena khawatir terjadi gelombang laut pascagempa.

Sekretaris BPBD Kepulauan Selayar, Patta Bau, mengatakan rumah warga yang terdampak berada di Kecamatan Pasimasunggu dan Pasimarannu.

“Di Pasimasunggu, dua rumah rusak sedang dan sembilan rusak ringan akibat terdampak air dan lumpur. Sementara di Pasimarannu, satu rumah rusak sedang,” kata Patta Bau melalui sambungan telepon, Senin (17/8/2026).

Selain rumah, sejumlah perahu milik warga di kawasan pesisir juga mengalami kerusakan. Beberapa perahu dilaporkan patah dan retak. Bahkan, terdapat perahu yang terbawa gelombang hingga menghantam rumah warga.

Dampak gempa juga membuat warga di sejumlah wilayah memilih meninggalkan permukiman. Enam titik pengungsian tersebar di Pasimarannu, Pasimasunggu, dan Pasilambena.

Data sementara mencatat 1.161 warga Pasimarannu dan 639 warga Pasilambena mengungsi. Warga memilih lokasi yang lebih tinggi karena sebagian besar permukiman berada di kawasan pesisir.

Kepanikan warga tidak lepas dari pengalaman gempa sebelumnya. Salah satunya gempa pada 2021 yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah di Kepulauan Selayar.

Rustam, warga Pulau Jampea, Pasimasunggu, mengatakan warga langsung meninggalkan rumah ketika merasakan guncangan.

“Warga panik, karena sudah beberapa kali sebelumnya gempa, termasuk tahun 2021 banyak korban jiwa dan kerusakan rumah di Kepulauan Selayar,” katanya.

Saat ini warga terdampak membutuhkan dukungan untuk memperbaiki rumah maupun perahu yang mengalami kerusakan.

Data Nasional

Sementara itu, pendataan dampak gempa M7,7 di NTT masih berlangsung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Senin (17/8/2026), sebanyak 54 orang meninggal dunia.

Data per Minggu (16/8/2026) juga mencatat 137 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan bangunan meliputi 1.543 rumah rusak berat, 328 rusak sedang, dan 532 rusak ringan. Sejumlah fasilitas umum turut terdampak, terdiri atas 87 fasilitas pendidikan, 50 tempat ibadah, dan 76 kantor pemerintahan.

Sebanyak 5.488 warga tercatat mengungsi secara terpusat, sementara 171 lainnya mengungsi secara mandiri.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah pihak mengirimkan bantuan ke wilayah terdampak. Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi salah satu institusi yang mengerahkan relawan untuk membantu penanganan dan pemulihan masyarakat.

Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa melepas relawan yang terdiri atas mahasiswa KKN Tematik Tanggap Bencana dan Tim Bantuan Medis (TBM) Terpadu, seusai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan PKM Kampus Unhas, Tamalanrea, Makassar, Senin (17/8/2026).

Pelepasan tersebut menjadi tanda dimulainya pengiriman relawan Unhas secara bertahap ke wilayah terdampak.

Sebanyak 50 mahasiswa sebelumnya mendaftarkan diri mengikuti program tersebut. Mereka kemudian diseleksi berdasarkan latar belakang keilmuan dan kemampuan dalam penanganan kebencanaan.

Tim pertama terdiri atas 10 mahasiswa yang akan didampingi dosen. Mereka dijadwalkan berangkat menuju NTT pada Rabu (19/8/2026) dan ditempatkan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, selama kurang lebih dua pekan.

Sebelum diberangkatkan, para mahasiswa mendapat pembekalan mengenai batas peran, prosedur keselamatan, mekanisme koordinasi, serta kondisi yang kemungkinan dihadapi di lokasi bencana.

Unhas juga berkoordinasi dengan jejaring penanganan kebencanaan di wilayah terdampak agar keterlibatan relawan menjadi bagian dari sistem penanganan yang telah berjalan.

Prof Jamaluddin mengatakan penanganan bencana melibatkan sumber daya akademik lintas fakultas.

“Semua fakultas terlibat. Yang dipersiapkan bukan hanya mahasiswa yang berangkat, tetapi juga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di lokasi,” kata Prof Jamaluddin dalam keterangan tertulis.

Tim Bantuan Medis yang diturunkan melibatkan Fakultas Kedokteran Gigi, Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unhas, Fakultas Kedokteran, serta Fakultas Vokasi.

Wakil Rektor I Unhas Prof Ruslin mengatakan pengiriman relawan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Semua kita siapkan sesuai kebutuhan daerah. Kita tidak ingin berjalan sendiri. Karena itu, kebutuhan di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan siapa yang diberangkatkan dan apa yang dibawa,” jelas Prof Ruslin.

Menurut dia, KKN Tematik Tanggap Bencana menjadi bagian dari upaya Unhas membangun pola respons cepat ketika terjadi bencana.

“KKN Tematik ini kita gerakkan ketika terjadi bencana, kita langsung menyiapkan tim agar bisa sampai di lapangan dan membantu masyarakat. Kita juga terus berkoordinasi dengan tim Kementerian, karena Unhas ingin ambil bagian dari upaya bersama dalam penanganan bencana,” katanya.

Larangan Melaut

Dampak gempa juga membuat BPBD Bulukumba mengeluarkan imbauan kepada masyarakat pesisir untuk menghentikan sementara aktivitas di laut.

Kepala BPBD Bulukumba, Andi Hasbullah, meminta pemerintah di wilayah pesisir mengimbau warga tidak beraktivitas di pantai hingga terdapat informasi terbaru dari BMKG.

Imbauan tersebut dikeluarkan setelah terpantau adanya anomali pergerakan air laut di sejumlah wilayah Bulukumba.

“Diharapkan pemerintah setempat di pesisir Bulukumba mengimbau warga tidak beraktivitas sampai ada peringatan selanjutnya dari BMKG. Air laut saat ini belum normal,” ujar Hasbullah melalui grup Info Bencana Bulukumba.

Pantauan di Pelabuhan Kolam Labuh, Kecamatan Ujung, menunjukkan arus air laut bergerak deras menyerupai aliran sungai.

Nelayan, pemancing, dan penyelam diminta menepi serta terus memantau kondisi permukaan laut.

Guncangan M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer tersebut juga dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah daratan Bulukumba, bahkan hingga kawasan lereng Gunung Lompobattang.

“Saya di Kindang, kaki Gunung Lompobattang, merasakan getaran gempa yang cukup kuat,” kata Nurdin, warga Kecamatan Kindang.

Guncangan juga dirasakan warga pesisir Sinjai, termasuk Desa Pasimarannu, Kecamatan Sinjai Timur. Di Barru, warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah.

“Saya sama istri dan anak-anak langsung lari keluar ketika merasakan guncangan gempa,” ujar Abdul Azis, warga Jalan Abdul Muis, Pekkae, Kecamatan Tanete Rilau, Barru.

Ia mengatakan pagar rumahnya sempat bergoyang. Kabel listrik di depan rumah juga terlihat bergerak.

Peringatan Tsunami

Gempa tersebut juga memicu penerbitan peringatan dini tsunami oleh BMKG. Peringatan Dini Tsunami 1 diterbitkan pukul 05.00.39 WIB, sekitar dua menit 16 detik setelah gempa.

Peringatan Dini Tsunami 2 kemudian diterbitkan pukul 05.09.56 WIB, atau sekitar 11 menit 33 detik setelah gempa.

Di Sulawesi Selatan, Jeneponto masuk status Siaga dengan perkiraan waktu tiba tsunami pukul 05.13 WIB.

Sementara status Waspada dengan perkiraan tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter diberlakukan di sejumlah wilayah.

Di Sulsel, status Waspada mencakup Wajo dengan perkiraan waktu tiba tsunami pukul 06.01 WIB. Status serupa diberlakukan di Flores Timur, NTT, dengan perkiraan waktu tiba pukul 05.15 WIB.

Di Nusa Tenggara Barat, wilayah yang masuk status Waspada yakni Bima dengan perkiraan waktu tiba pukul 05.12 WIB dan Dompu pukul 05.19 WIB.

Guncangan Kuat

Berdasarkan pemutakhiran BMKG, episenter gempa M7,7 berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.

Lokasi episenter tercatat pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur.

Guncangan tidak hanya dirasakan di wilayah Flores. Getaran juga dilaporkan terasa hingga sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Makassar dan Barru.

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, intensitas gempa mencapai VII MMI di Aesesa, Nagekeo; Riung, Ngada; serta Kota Mbay.

Pada skala VII MMI, guncangan dapat membuat warga keluar rumah dan berpotensi menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan.

Intensitas VI MMI tercatat di Wolowae, Nagekeo, dan Kota Bajawa. Pada skala tersebut, getaran dirasakan seluruh penduduk sehingga banyak warga terkejut dan berlari keluar rumah.

Sementara intensitas V MMI dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng. Guncangan pada skala ini dirasakan hampir seluruh penduduk dan dapat membuat warga terbangun.

BMKG masih memantau aktivitas gempa susulan serta perubahan ketinggian muka laut untuk mengetahui perkembangan kondisi tsunami.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau mengalami kerusakan akibat gempa.

Masyarakat di wilayah berstatus Awas dan Siaga diminta segera melakukan evakuasi sesuai arahan petugas. Sementara warga di wilayah berstatus Waspada diminta menjauhi pantai dan tepian sungai.

Informasi resmi terkait perkembangan gempa dan potensi tsunami diimbau hanya diakses melalui kanal terverifikasi BMKG.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Direktur Utama Pertamina Pimpin Langsung Aksi Kemanusiaan Gempa NTT di HUT ke-81 Republik Indonesia
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Citilink buka penerbangan dari Bandung ke lima kota besar
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
KKI Diluncurkan BI, Mensesneg Sebut Bisa Jadi Upaya Dorong Kredit Murah
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Ajukan M. Sarjito Jadi Calon Kepala Bursa Mineral dan Komoditas OJK
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Putri Papua Jadi Pembawa Baki Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI di Istana
• 23 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.