SIAPAKAH Sarinah, siapakah Marhaen yang namanya melampaui zaman? Keduanya orang biasa, nama-nama yang pada suatu masa mudah didapati di kalangan masyarakat Indonesia kebanyakan.
Kita mengenal kedua nama itu melalui Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan Indonesia, lewat tulisan dan pernyataannya yang piawai menempatkan sosok “kecil” dalam narasi besar yang dibangunnya.
Sarinah adalah nama pengasuh Soekarno semasa belia. Dalam narasi Soekarno, Sarinah dikonstruksikan menjadi simbol pengalaman, cinta kasih, dan kehidupan rakyat kecil.
Soekarno pun mengabadikannya dalam buku yang diterbitkan tahun 1947 berjudul “Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia”.
Kini kenangan tentang perempuan mulia itu terekam di Gedung Sarinah, pusat perbelanjaan modern pertama Indonesia yang berada di kawasan Thamrin, Jakarta.
Di lantai dasar yang kerap menjadi spot pepotoan kekinian, terpampang siluet wajah seorang perempuan dengan kutipan dua kalimat Soekarno yang tersusun dalam empat baris, “Dialah yang mengajariku untuk mengenal cinta kasih. Sarinah mengajariku untuk mencintai rakyat, massa rakyat, rakyat jelata.”
Sementara Marhaen identik sebagai simbol wong cilik. Soekarno menuturkan, Marhaen adalah seorang petani yang ditemuinya di wilayah selatan Bandung.
Baca juga: Ketika Daerah Mulai Melawan Pusat
Dari sosok yang disebut sebagai Marhaen itulah Soekarno kemudian mengembangkan istilah “Marhaen”, merujuk kepada rakyat kecil yang bekerja dengan alat produksinya sendiri.
Dalam penuturan Soekarno kemudian, Marhaen lahir sebagai nama yang melampaui identitas personal pemiliknya.
Marhaenisme dan Marhaen pertama kali disebutkan Soekarno dalam pidatonya sebagai Ketua Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang berdiri pada Juli 1927.
Istilah tersebut kemudian memperoleh definisi dalam pidato pembelaan yang dilakukan Soekarno, yaitu “Indonesia Menggugat” di depan Pengadilan Kolonial Belanda di Bandung pada tahun 1930 (Kasenda dalam Amin, 2016).
Marhaen tumbuh dari manusia, menjadi nama, kemudian menjadi contoh, terus berkembang menjadi kategori sosial, dan bertumbuh sebagai ideologi politik.
Dalam narasi besar yang dibangun oleh para pejabat publik, kerap kali ada pengalaman individual yang diangkat untuk menjadikan persoalan lebih besar menjadi terasa lebih konkret.
Pengalaman konkret yang mudah dibayangkan dan diingat akan mendekatkan persoalan yang mulanya abstrak dan kompleks.
Kekuatan exemplification ini memberikan “daging” atau “warna” untuk narasi yang bisa jadi terasa kaku atau kering ketika hanya menjabarkan angka-angka atau ideologi yang terasa tidak membumi (Zillmann, 2009).





