Sejumlah destinasi wisata unggulan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditutup sementara setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut.
Penutupan dilakukan untuk memastikan kondisi infrastruktur dan keselamatan wisatawan sebelum destinasi kembali dibuka.
Berton SP Panjaitan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, sejumlah objek wisata masih memerlukan pemeriksaan dan pemulihan infrastruktur pascagempa.
“Beberapa tempat wisata saat ini masih ditutup untuk sementara, seperti Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende,” kata Berton pada Selasa (18/8/2026).
Menurut Berton, pemerintah daerah melalui otoritas pariwisata akan memperbarui informasi terkait pembukaan kembali destinasi wisata setelah proses penanganan dan verifikasi keamanan di lapangan rampung.
Namun, penutupan tidak berlaku untuk seluruh destinasi wisata di Flores. Aktivitas wisata di kawasan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya dipastikan tetap berjalan normal.
Wisatawan domestik maupun mancanegara masih dapat mengakses kawasan tersebut dan tidak dilaporkan mengalami insiden.
BNPB mencatat dampak gempa juga dirasakan sektor pariwisata. Sebanyak delapan objek daya tarik wisata mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas akomodasi. Dua hotel dan tiga homestay dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sementara itu, 10 hotel dan lima homestay mengalami kerusakan ringan di sejumlah kabupaten terdampak, termasuk Nagekeo.
“Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta kelayakan infrastruktur pariwisata adalah prioritas,” ujar Berton.
Lebih dari 5.000 orang masih mengungsi setelah gempa M7,7. Sebagian besar warga mengungsi secara mandiri maupun ke posko karena rumah mereka mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Data sementara hasil pendataan tim gabungan menunjukkan 914 rumah mengalami rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga melanda fasilitas publik. BNPB mencatat 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan terdampak gempa.
Sementara itu, hingga Senin (17/8/2026), jumlah korban meninggal dunia tercatat 68 orang. Korban tersebar di sejumlah wilayah, yakni 26 orang di Kabupaten Manggarai, 24 orang di Manggarai Timur, delapan orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, serta masing-masing dua orang di Ende, Manggarai Barat, dan Ngada. (ant/saf/ipg)




