Banyak yang sudah familiar dengan kanker payudara, kanker serviks, dan kanker ovarium yang rentan menyerang perempuan. Namun, ada satu jenis kanker lain yang tak kalah penting untuk diwaspadai, yaitu kanker endometrium.
Menurut data World Cancer Research Fund (WCRF), terdapat 420.368 kasus baru kanker endometrium di seluruh dunia pada 2022. Angka tersebut menunjukkan bahwa kanker endometrium bukanlah jenis kanker yang jarang terjadi.
Sesuai namanya, kanker ini tumbuh di lapisan dalam rahim (endometrium). Hal itu terjadi ketika sel-sel pada endometrium mengalami mutasi genetik yang menyebabkan pertumbuhan tak terkendali.
Meski lebih banyak ditemukan pada perempuan yang memasuki atau telah melewati masa menopause, kanker endometrium bukan berarti tidak dapat dialami oleh perempuan usia muda.
Penyebab kanker endometriumMenurut dr. Renny, gaya hidup yang tidak sehat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker endometrium, termasuk pada perempuan usia muda.
Salah satunya adalah sedentary lifestyle atau gaya hidup minim aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik dapat berkaitan dengan peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme yang turut memengaruhi risiko kanker endometrium.
Selain gaya hidup, kanker endometrium juga berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, khususnya paparan hormon estrogen yang berlebihan. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor, contohnya penggunaan obat atau terapi yang mengandung estrogen atau menstimulasi aktivitas estrogen dalam tubuh.
Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker endometrium, contohnya Lynch Syndrome atau mutasi gen BRCA. Selain itu, risiko kanker endometrium juga dapat meningkat pada perempuan yang mengalami infertilitas atau sindrom metabolik: seperti diabetes melitus, hipertensi, hipertrigliseridemia—kondisi ketika kadar trigliserida (jenis lemak atau lipid dalam darah) berada di atas batas normal.
Gejala kanker endometriumAda beberapa gejala yang perlu diwaspadai ketika seseorang mengalami kanker endometrium. Gejala utamanya antara lain perdarahan vagina setelah menopause, serta perubahan pola menstruasi pada perempuan yang belum menopause.
“Gejala di perimenopause bisa berupa menstruasi berlebihan dari biasanya. Terkadang ibu-ibu mikirnya ‘oh udah mau penghabisan’, padahal belum tentu. Jadi, baiknya memang diperiksa terlebih dahulu,” ungkap dr. Renny.
Selain itu, terdapat sejumlah gejala lain yang dapat menyertai, seperti keputihan yang encer atau bercampur darah, nyeri pada panggul atau perut bagian bawah, dan rasa sakit saat berhubungan intim maupun saat buang air kecil. Kanker endometrium juga dapat menyebabkan ukuran rahim membesar.
“Nah, kalau misalnya usianya jauh dari masa menopause, gejalanya dapat berupa menstruasi tidak teratur,” ujar dr. Renny.
Cara mencegah kanker endometriumDr. Renny menjelaskan bahwa salah satu kondisi yang dapat memicu kanker endometrium adalah unopposed estrogen, yaitu ketika hormon estrogen dalam tubuh tidak diimbangi oleh hormon progesteron.
Salah satu faktor yang dapat mendorong kondisi tersebut adalah resistensi insulin, yakni ketika tubuh mengalami kesulitan dalam mengolah gula darah. Karena itu, dr. Renny menyarankan untuk membatasi konsumsi gula dan makanan tinggi karbohidrat.





