Gempa dengan magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita. Pusat gempa berada pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada kedalaman 15 kilometer.
Apa yang bisa anda pelajari dari artikel ini?
1. Seberapa dahsyat dampak kehancuran pada gempa Flores 2026?
2. Seberapa banyak gempa susulan terjadi?
3. Apa itu Flores Back-Arc Thrust yang disebut sebagai penyebab terjadinya gempa Flores?
4. Mengapa Flores Back-Arc Thrust menjadi sangat ditakuti?
5. Mitigasi apa yang perlu terus diperkuat?
Gempa bumi dangkal berkekuatan M 7,7 yang menerjang Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya atau disebut gempa Flores telah menelan banyak korban. Hingga Senin (17/8/2026) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 68 orang meninggal dan 213 orang luka-luka. Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten di NTT.
Selain itu, ribuan warga mengungsi karena takut akan gempa susulan dan tsunami. Pengungsi terbanyak terkonsentrasi di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Kabupaten Manggarai menyusul dengan jumlah pengungsi 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lain dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa serta dua wilayah di provinsi berbeda, yakni Bima (Nusa Tenggara Barat) hingga Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan).
Imbas musibah itu, sedikitnya tujuh pelabuhan dan lima bandara di NTT mengalami kerusakan berat. Infrastruktur pariwisata dan sejumlah hotel pun mengalami kerusakan.
Setidaknya 986 wisatawan tertahan karena penutupan sementara pelayaran di Pulau Padar. Namun, mereka akhirnya berhasil dipulangkan.
Sejak 15 Agustus hingga 17 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, sudah terjadi 1.624 kali gempa susulan (aftershock). Kekuatannya beragam, antara M 1,3 dan M 6,2. Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan kekuatan lebih dari M 5 sebanyak 23 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 59.
Gempa Flores juga telah berdampak tsunami. Observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa bumi ini telah memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada empat provinsi, yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB (1,605 meter) dan terendah di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05:41 WIB (0,14 meter). Secara umum, tsunami ringan tersebut tidak tercatat menimbulkan korban jiwa.
Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Sesar Naik Belakang Busur Flores atau kerap disebut Flores Back-Arc Thrust. Ini adalah sistem sesar naik aktif yang terbentuk akibat tekanan tektonik di belakang busur vulkanik Flores dan memanjang di dasar laut dari utara Pulau Flores hingga bagian utara Pulau Lombok.
Secara geologi, kawasan NTT berada dalam sistem tektonik yang sangat kompleks. Flores Back-Arc Thrust bukan satu bidang sesar tunggal. Sistem ini merupakan rangkaian sesar naik yang membentang sepanjang 800 kilometer mulai dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Wetar, dengan struktur yang kompleks dan terbagi dalam sejumlah bagian.
Sesar tersebut terbentuk karena tekanan tektonik yang terus berlangsung akibat pergerakan Lempeng Indo-Australia. Tekanan itu membuat kerak bumi di kawasan Nusa Tenggara mengalami pemendekan dan deformasi.
Flores Back-Arc Thrust sangat ditakuti karena merupakan patahan naik aktif yang sangat panjang di dasar laut. Akumulasi tegangan pada sistem sesar tersebut dapat dilepaskan secara tiba-tiba dan mampu memicu gempa bumi dangkal bermagnitudo besar (seperti M 7,7 pada Agustus 2026 dan M 7,8 pada tahun 1992). Aktivitas pada patahan itu juga berpotensi menimbulkan gelombang tsunami yang sangat destruktif bagi pulau-pulau di sekitarnya.
Sepanjang Sabtu lalu, sedikitnya terpantau 10 kejadian gempa dengan magnitudo di atas 5,0. Selain di Nagekeo, NTT, gempa kencang juga terjadi di Ruteng, Manggarai, dan Labuan Bajo. Ini menandakan lempeng dan patahan sekitar samudra yang mengitari NTT sedang sangat aktif dan dapat berdampak membahayakan.
Bayangkan dua lembar karpet yang didorong saling mendekat, salah satunya akan terlipat atau terdorong naik di atas yang lain. Gaya kompresi dapat menghasilkan sesar naik.
Ancaman dari Flores Back-Arc Thrust juga bukan hanya guncangan. Jika gempa terjadi di bawah laut dan menyebabkan perubahan dasar laut, tsunami dapat terjadi. Longsor dan kerusakan pada lereng juga menjadi ancaman lain, terutama di wilayah yang berdekatan dengan sumber gempa.
Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan M 7,8 mengguncang Flores dan memicu tsunami hingga ketinggian 25 meter. Lebih dari 2.000 orang tewas dalam bencana tersebut.
Ancaman gempa dan tsunami di Flores yang sifatnya berulang menuntut kesiapsiagaan jangka panjang. Kendati tidak diikuti tsunami, korban jiwa yang jatuh pada gempa Flores 2026 akibat tertimpa reruntuhan membuktikan perlunya tata ruang dan standar bangunan tahan gempa.
Perlu ada regulasi zonasi permukiman yang menjauhkan area penduduk dengan garis pantai rawan. Selain itu, diperlukan penegakan standar konstruksi tahan gempa. Diperlukan juga jalur evakuasi yang layak dan infrastruktur penyelamatan permanen.
Yang tak kalah penting adalah pemetaan sumber gempa dan tsunami, sistem peringatan dini, serta pendidikan kebencanaan menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Kita memang tidak mungkin dapat mencegah gempa bumi. Namun, dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan tata kelola yang baik, kita dapat secara signifikan mengurangi jumlah korban dan kerugian ketika gempa besar kembali terjadi.





