Jakarta, ERANASIONAL.COM – Bank Indonesia (BI) memastikan posisi utang luar negeri (ULN) pemerintah masih berada dalam kondisi terkendali.
Struktur ULN pemerintah juga dinilai relatif aman karena sebagian besar merupakan utang dengan tenor jangka panjang sehingga risiko jatuh tempo dapat dikelola dengan baik.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan pemerintah terus menjaga kredibilitas pengelolaan utang, termasuk memastikan pembayaran pokok dan bunga dilakukan sesuai kewajiban.
“Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal,” kata Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurut BI, ULN menjadi salah satu sumber pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Karena itu, penggunaannya diarahkan untuk menopang berbagai sektor produktif dengan tetap mempertimbangkan kesinambungan pengelolaan utang.
Kesehatan Jadi Sektor dengan Porsi ULN TerbesarBerdasarkan sektor penerima manfaat, alokasi terbesar ULN pemerintah pada kuartal II 2026 berada pada sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial.
Porsinya mencapai 22 persen dari keseluruhan ULN pemerintah.
Sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 20,6 persen. Kemudian, sektor jasa pendidikan memperoleh porsi sebesar 16,2 persen.
Dukungan ULN pemerintah juga mengalir ke sektor konstruksi dengan porsi 11,5 persen serta sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.
ULN Swasta Turun 0,6 PersenSementara itu, ULN sektor swasta masih mengalami kontraksi. Hingga kuartal II 2026, posisi ULN swasta tercatat US$194,6 miliar atau sekitar Rp3.474 triliun.
Angka tersebut turun 0,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih terkontraksi, penurunannya lebih kecil dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 1,3 persen.
BI menyebut perbaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh perlambatan kontraksi ULN lembaga keuangan.
Pada kuartal II 2026, ULN financial corporations turun 3,4 persen secara tahunan, membaik dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Dari sisi sektor, ULN swasta paling banyak berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.
Keempat sektor tersebut secara kumulatif menyumbang 79,4 persen dari total ULN swasta.
Sementara berdasarkan jangka waktu, ULN swasta masih didominasi utang jangka panjang. Porsinya mencapai 75,7 persen dari keseluruhan ULN swasta. []





