jpnn.com, JAKARTA - Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengingatkan kembali kepada seluruh insan Adhyaksa untuk menjaga integritas dan soliditas.
Dia juga mengingatkan seluruh insan Adhyaksa jangan pernah memberi celah sedikit pun bagi mereka yang ingin melemahkan Kejaksaan.
BACA JUGA: Pakar Nilai Kejagung Tunjukkan Keseriusan dalam Mengusut Kasus Febrie Adriansyah
Pesan itu disampaikannya dalam amanat tertulis di Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Selasa (17/8).
Kejaksaan Agung menggelar upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan RI yang dipimpin Wakil Jaksa Agung Prof. Asep Nana Mulyana.
BACA JUGA: Kejagung Tetapkan 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Transfer Pricing
"Biarkan saya katakan dengan tegas, jika Kejaksaan runtuh, maka runtuh pulalah ujung tombak penegakan hukum di negeri ini. Karena itu, mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk terus bergerak maju bukan dengan klaim bahwa kita tidak pernah goyah," kata Jaksa Agung Burhanuddin dalam amanat tertulisnya.
Jaksa Agung juga mengajak seluruh insan Adhyaksa untuk mengenang saat para pendiri bangsa merumuskan proklamasi dengan hanya berbekal keyakinan bangsa ini layak merdeka dan berhak menentukan nasibnya sendiri.
"Semangat itulah yang harus mengalir dalam darah Insan Adhyaksa setiap kali bertugas di ruang sidang, lapangan, dan tengah masyarakat," pesannya.
Jaksa Agung Burhanuddin dalam amanat tertulisnya juga menyinggung tema HUT RI tahun ini, yakni Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.
Menurutnya, tema tersebut bukan sekadar tema seremonial, tetapi janji besar yang harus diwujudkan dalam kerja nyata.
"Tiga kata ini saling mengikat satu sama lain. Tidak ada kemakmuran tanpa keadilan. Tidak ada keadilan tanpa kedaulatan. Dan tidak ada kedaulatan jika hukum sekedar menjadi tontonan, bukan tuntunan," tegasnya.
Kepada seluruh insan Adhyaksa, Jaksa Agung Burhanuddin berpesan jangan pernah menjadi aparatur yang hanya gagah dengan seragamnya, tetapi tidak memberikan dampak terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Jaksa Agung Burhanuddin juga berpesan jangan pernah menjadi penegak hukum yang sibuk dengan pencitraan, tetapi lupa pada panggilan jiwa.
"Kita adalah pelayan keadilan, bukan pelayan kekuasaan, bukan pelayan pemilik modal, dan bukan pula pelayan popularitas," tegas Burhanuddin.
Dia juga mengajak seluruh insan Adhyaksa untuk kembali menanamkan kebanggaan terhadap institusi.
"Menjadi Jaksa dan pegawai Kejaksaan bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah sejarah. Di puncak kita ada kesempatan untuk menghadirkan rasa keadilan bagi mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Hati kita harus tetap teguh dan berani, mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah," pesannya.
Burhanuddin meyakini jika seluruh seluruh insan Adhyaksa memperbaiki diri, masyarakat akan melihat perubahan tersebut.
"Sedikit demi sedikit, kepercayaan akan kembali tumbuh. Dan ketika kepercayaan itu kembali, Kejaksaan tidak hanya menjadi lembaga penegak hukum, tetapi juga menjadi sumber harapan, bahwa negara masih hadir untuk menegakkan keadilan dan kebenaran," ujar Jaksa Agung Burhanuddin.
Terakhir, dia juga mengingatkan seluruh insan Adhyaksa adalah bagian dari denyut nadi bangsa yang berperan dalam memikul amanah penegakan hukum.
Insan Adhyaksa adalah penjaga muruah keadilan dan juga merupakan bagian dari harapan rakyat terhadap penegakan hukum di negeri Indonesia.
"Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa di era kita, keadilan mati. Sebaliknya, ukirlah nama kita dengan tinta emas, bahwa di era kitalah keadilan bangkit, bahwa di era kitalah kedaulatan benar-benar milik rakyat, dan bahwa di era kitalah kemakmuran mulai terasa nyata di setiap sudut negeri. Biarlah dunia tahu, bahwa di tengah segala tantangan dan rintangan, Insan Adhyaksa tetap berdiri tegak dan tidak gentar dalam menghadapi berbagai cobaan dalam menegakkan keadilan. Teruslah berkarya untuk Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur," pungkasnya. (mrk/jpnn)
Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi




